Jepang Jadi Negara OECD dengan Nilai Tertinggi Bidang Sains

Jepang meraih posisi teratas di antara anggota OECD untuk sains, matematika, dan membaca dalam PISA 2025.

oleh Septian DenyDiterbitkan 11 September 2026, 12:30 WIB
Anak Sekolah di Jepang.(AFP/ Odd Andersen)

Liputan6.com, Tokyo - Jepang menempati peringkat pertama di antara negara-negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains berdasarkan penilaian global terhadap siswa berusia 15 tahun.

Dikutp dari The Japan Times, Jumat (11/9/2026), hasil penilaian tersebut dirilis OECD pada Selasa. Untuk pertama kalinya sejak Program for International Student Assessment (PISA) dimulai pada 2000, Jepang menempati posisi teratas dalam tiga mata pelajaran utama di antara 38 negara anggota OECD.

PISA mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun yang mendekati akhir pendidikan wajib dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi persoalan di dunia nyata. Penilaian ini tidak hanya menguji seberapa banyak materi yang mereka hafalkan di sekolah.

Penilaian PISA 2025 dilakukan menggunakan komputer pada Juni hingga Agustus dan melibatkan sekitar 760.000 siswa dari 91 negara dan wilayah ekonomi. Di Jepang, sekitar 6.500 siswa tahun pertama sekolah menengah atas dari 183 sekolah mengikuti penilaian dalam sampel yang dirancang mewakili kondisi nasional.

Jika seluruh negara dan wilayah ekonomi yang berpartisipasi, termasuk negara non-OECD, diperhitungkan, Jepang berada di peringkat keempat untuk kemampuan membaca serta kelima dalam matematika dan sains.

Singapura menempati peringkat pertama secara keseluruhan dalam kemampuan membaca. Sementara itu, kelompok wilayah China yang terdiri dari Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang berada di posisi teratas untuk matematika dan sains. Makau dan Taiwan juga termasuk peserta dengan performa tertinggi.

Dalam bidang sains, Jepang memperoleh nilai rata-rata 538 poin, turun sembilan poin dibandingkan penilaian sebelumnya pada 2022. Untuk matematika, Jepang mencatat 525 poin, turun 11 poin.

Nilai membaca juga turun 13 poin menjadi 503. OECD menilai penurunan tersebut signifikan dibandingkan skor Jepang sebesar 516 poin pada 2022.

PISA 2025 juga mencakup penilaian terpisah yang disebut “Learning in the Digital World”. Penilaian ini mengukur kemampuan siswa memecahkan masalah menggunakan teknologi digital, termasuk perangkat pemrograman.

Jepang meraih 557 poin dalam penilaian tersebut, menempati peringkat pertama di antara negara-negara OECD dan peringkat keempat jika seluruh negara dan wilayah ekonomi peserta diperhitungkan.

Hasil tersebut muncul ketika rata-rata prestasi akademik di banyak negara OECD mengalami pelemahan dalam jangka panjang. Kondisi itu turut membantu Jepang naik dalam peringkat, meskipun nilai yang diperoleh negara tersebut secara keseluruhan relatif stabil.

 

Perbedaan Performa Siswa Laki-laki dan Perempuan

Ilustrasi pelajar Jepang. (dok. Hakan Nural/Unsplash)

Perbandingan berdasarkan gender menunjukkan bahwa siswa laki-laki memiliki proporsi lebih besar dalam kelompok siswa berprestasi tinggi dibandingkan siswa perempuan, baik dalam sains maupun matematika.

Siswa laki-laki juga lebih sering memberikan jawaban positif dalam survei mengenai kesenangan dan ketertarikan mereka terhadap pembelajaran sains.

Prestasi siswa juga berkaitan dengan latar belakang sosial ekonomi. Siswa yang orang tuanya memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi atau berasal dari rumah tangga dengan sumber daya keuangan lebih besar cenderung memperoleh nilai lebih tinggi.

Namun, di Jepang, faktor sosial ekonomi menjelaskan 7,6 persen variasi nilai sains siswa. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata OECD yang mencapai 11,6 persen.

OECD mengatakan hal tersebut menunjukkan bahwa latar belakang sosial ekonomi memiliki pengaruh yang relatif lebih kecil terhadap variasi prestasi sains siswa di Jepang.

Meski mencatat peringkat tinggi secara keseluruhan, hasil PISA juga menunjukkan sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian. Proporsi siswa dalam kelompok kemampuan paling rendah meningkat dibandingkan penilaian sebelumnya pada ketiga mata pelajaran.

Kuesioner yang dilakukan bersamaan dengan penilaian juga menunjukkan sejumlah kelemahan dalam pola belajar siswa.

Sekitar 62,6 persen siswa Jepang mengatakan mereka memiliki rasa ingin tahu terhadap berbagai hal. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata OECD sebesar 73,5 persen.

Siswa Jepang juga lebih jarang dibandingkan rata-rata OECD mengatakan bahwa mereka merencanakan cara belajar atau mengubah metode ketika menyadari pendekatan yang digunakan tidak berhasil.

 

Penggunaan Kecerdasan Buatan Generatif

Jepang menempati posisi terakhir di antara 38 negara anggota OECD dalam hal frekuensi penggunaan kecerdasan buatan generatif di kelas.

Hanya 7 persen siswa Jepang yang mengatakan mereka menggunakan kecerdasan buatan generatif sebagai pendukung pembelajaran di kelas setiap hari atau hampir setiap hari. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 19,1 persen.

Sementara itu, sekitar 43,8 persen siswa Jepang mengatakan mereka tidak pernah atau hampir tidak pernah menggunakan kecerdasan buatan generatif.

Menurut survei tersebut, siswa yang menggunakan kecerdasan buatan secara moderat untuk mengerjakan tugas sekolah cenderung memperoleh nilai sains lebih tinggi, baik di Jepang maupun secara keseluruhan di negara-negara OECD.

Meski demikian, OECD menekankan pentingnya mengatasi dampak negatif teknologi tersebut sekaligus memaksimalkan manfaatnya. Hal itu dapat dilakukan dengan memastikan seluruh anak memiliki kemampuan literasi informasi dan mampu menggunakan informasi secara efektif, seimbang, dan dapat diandalkan.

Pemerintah Jepang tengah mempertimbangkan untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut dalam pedoman kurikulum nasional berikutnya, yang diperkirakan mulai berlaku di sekolah dasar pada tahun fiskal 2030.

Rencana tersebut mencakup pemberian pembelajaran lintas bidang kepada siswa, sekaligus mengajarkan strategi belajar yang lebih jelas dan mendorong mereka untuk merefleksikan materi yang telah dipelajari.

Jepang juga berencana memperluas pendidikan digital dan informasi secara signifikan melalui pedoman kurikulum berikutnya, termasuk pembelajaran mengenai kecerdasan buatan generatif secara lebih sistematis.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya