Liputan6.com, Riyadh - Gelombang serangan Houthi ke Arab Saudi pada Selasa (8/9/2026) melukai 73 orang dan memicu kebakaran di sejumlah fasilitas minyak serta infrastruktur utilitas di wilayah selatan negara itu. Serangan tersebut menandai eskalasi besar dalam konflik yang kembali berkobar antara Arab Saudi, sekutu penting Amerika Serikat (AS), dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.
Serangan terjadi setelah bentrokan antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi semakin intensif dalam beberapa pekan terakhir. Pertempuran itu mengakhiri gencatan senjata yang selama empat tahun membuat konflik dalam perang saudara Yaman relatif mereda.
Advertisement
Pertempuran antara Arab Saudi dan Houthi berpotensi mengganggu pelayaran melalui Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur penting bagi pengiriman minyak dan perdagangan dunia.
Konflik ini kembali memanas ketika perang yang melibatkan Iran telah membuat pengiriman melalui Selat Hormuz nyaris terhenti. Sebelum perang, jalur perairan strategis tersebut dilalui sekitar seperlima minyak dunia.
Pertempuran berlangsung di sejumlah front, termasuk di pantai barat Yaman. Pasukan pemerintah mengklaim berhasil memperluas wilayah yang mereka kuasai di Provinsi Hodeida, Taiz, dan Bayda.
Houthi juga telah menyerang fasilitas minyak Arab Saudi dan kapal tanker di Laut Merah.
Serangan Houthi Hantam Fasilitas Minyak di Arab Saudi Selatan
Menurut juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi yang berperang di Yaman, Mayor Jenderal Turki al-Malki, serangan pada Selasa dini hari menghantam sejumlah "fasilitas sipil dan ekonomi" di Abha, Jazan, Najran, dan Khamis Mushait.
Al-Malki mengatakan 73 orang terluka dalam serangan tersebut, termasuk perempuan dan anak-anak. Ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan serangan itu memicu kebakaran di sejumlah fasilitas minyak dan infrastruktur utilitas di wilayah selatan negara tersebut. Operasional fasilitas yang terdampak dihentikan sementara.
Di wilayah selatan Arab Saudi terdapat sejumlah fasilitas minyak besar, termasuk kilang Jazan yang mampu mengolah 400.000 barel minyak per hari dan merupakan salah satu kilang terbesar di negara itu.
Houthi sebelumnya pernah menyerang Bandara Abha.
Kementerian Energi Arab Saudi mengungkapkan petugas pemadam kebakaran masih berupaya memadamkan api pada Selasa pagi.
Al-Malki menyebut serangan tersebut sebagai "eskalasi serius" dan "pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan kerajaan, serta ancaman langsung terhadap keamanan dan keselamatan warga negara maupun penduduknya."
Ia mengisyaratkan tindakan balasan. Menurut Al-Malki, koalisi pimpinan Arab Saudi "akan mengambil semua langkah operasional yang diperlukan untuk menangkal milisi teroris Houthi dengan ketegasan penuh."
Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut dan menyebutnya sebagai balasan atas serangan Arab Saudi terhadap kelompok itu di berbagai wilayah Yaman baru-baru ini.
Dalam pernyataan video yang direkam sebelumnya, Juru Bicara Militer Houthi Brigadir Jenderal Yahya Saree mengatakan kelompoknya menembakkan puluhan rudal balistik dan drone ke fasilitas minyak dan ekonomi serta sebuah pangkalan udara di wilayah selatan Arab Saudi.
Menurut Saree, Houthi menyerang Jazan City for Primary and Downstream Industries, pusat industri dan logistik besar di pesisir Laut Merah. Kelompok tersebut juga menyerang fasilitas Aramco di Najran dan Abha serta Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait.
Saree menyalahkan Arab Saudi atas eskalasi yang terjadi.
"Setiap agresi terhadap negara dan rakyat kami akan dibalas dengan tegas," ujarnya.
Nasruddin Amer, Wakil Kepala Kantor Media Houthi yang membawahi kantor berita Saba milik kelompok tersebut, memuji serangan itu melalui media sosial.
"Arab Saudi harus memahami bahwa masa ketika mereka bisa melakukan kejahatan dan pembantaian terhadap rakyat Yaman tanpa mendapat balasan, tanpa ada yang menghentikan, atau tanpa harus menanggung akibatnya telah berakhir," ujarnya.
Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah Houthi menuding Arab Saudi melancarkan serangan udara ke sebuah penjara di Provinsi Jawf, Yaman utara.
Menurut Houthi, sedikitnya tujuh orang, termasuk seorang anak, tewas dan tujuh lainnya terluka dalam serangan di Kota Hazem, Yaman.
Pertempuran Paksa Sekitar 18.500 Orang Mengungsi di Yaman
Eskalasi terbaru bermula ketika Houthi berupaya menerbangkan sebuah pesawat dari Teheran menuju Sanaa, ibu kota Yaman pada awal Juli. Langkah itu sekaligus menentang blokade udara dan laut yang telah diberlakukan koalisi pimpinan Arab Saudi selama sekitar satu dekade.
Koalisi kemudian melancarkan serangan udara ke landasan pacu Bandara Sanaa sehingga pesawat tersebut tidak dapat mendarat.
Houthi membalas dengan serangan rudal dan drone ke Arab Saudi serta memberlakukan blokade terhadap pelayaran Saudi di Laut Merah. Perkembangan itu mengakhiri gencatan senjata sejak 2022 yang sebelumnya secara umum berhasil menghentikan pertempuran antara Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi.
Houthi juga menyerang pasukan sekutu Arab Saudi di dalam Yaman. Pasukan pemerintah kemudian membalas dengan menyerang posisi Houthi di sepanjang pantai barat Yaman dan sejumlah wilayah lain di negara tersebut.
Pasukan pemerintah merebut kembali sejumlah wilayah dari Houthi di Provinsi Hodeida dan Taiz. Mereka juga menyerang kelompok tersebut di Provinsi Jawf di Yaman utara serta Provinsi Marib dan Bayda di bagian tengah negara itu.
Eskalasi pertempuran membuat sekitar 18.500 orang mengungsi dari Taiz dan Hodeida di Yaman barat daya. Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), gelombang pengungsian tersebut semakin membebani masyarakat di wilayah selatan Taiz dan Pantai Barat.
"Keluarga-keluarga datang tanpa membawa apa pun: tidak punya tempat berlindung, tidak punya makanan, dan tidak tahu apakah keadaan sudah aman untuk kembali," kata Kepala Misi IOM di Yaman, Abdusattor Esoev.
"Banyak di antara mereka sudah pernah mengungsi sebelumnya, sekali, dua kali, bahkan empat kali."
Perang saudara Yaman bermula pada 2014 ketika Houthi merebut Sanaa dan sebagian besar wilayah utara Yaman serta memaksa pemerintah tersingkir ke pengasingan.
Koalisi pimpinan Arab Saudi kemudian melakukan intervensi pada tahun berikutnya untuk berupaya mengembalikan pemerintah tersebut ke kekuasaan.
Menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perang saudara Yaman telah menewaskan sedikitnya 150.000 orang dan beberapa kali membawa negara itu ke ambang kelaparan.