Data Telematika Bisa Ungkap Detik Sebelum Tabrakan

Data telematika menunjukkan keterlibatan ponsel dalam kecelakaan dapat mencapai sekitar tujuh kali lebih tinggi

oleh Muhammad Luthfi Naufal AqilahDiterbitkan 14 September 2026, 08:02 WIB
Tampilan Data Telematika Ponsel Saat Kecelakaan (carscoops)

Liputan6.com, Jakarta - Saat terjadi kecelakaan lalu lintas, membuktikan apakah pengemudi menggunakan atau terdistraksi smartphone sebelum insiden bukan perkara mudah.

Di lokasi kejadian, polisi biasanya mengandalkan keterangan pengemudi, saksi, maupun kondisi kendaraan untuk menyusun kronologi kecelakaan. Namun, perkembangan teknologi telematika kini menawarkan sumber data lain yang jauh lebih detail.

Ponsel pintar yang digunakan pengemudi, terutama ketika terhubung dengan aplikasi keselamatan berkendara atau program asuransi berbasis telematika, ternyata dapat menyimpan rekam aktivitas beberapa detik sebelum kecelakaan.

Riset terbaru yang dilakukan Insurance Institute for Highway Safety (IIHS) bersama Cambridge Mobile Telematics (CMT) di Amerika Serikat bahkan menemukan perbedaan cukup mencolok antara catatan kepolisian dan data telematika terkait penggunaan ponsel saat berkendara.

Mengutip Carscoops, Senin (14/9/2026), penelitian tersebut menganalisis hampir 17.000 kasus kecelakaan yang terjadi sepanjang 2021 hingga 2024.

Salah satu temuan paling menarik dalam penelitian ini adalah perbedaan angka terkait gangguan ponsel. Dalam laporan resmi kepolisian, faktor gangguan akibat telepon seluler tercatat pada kurang dari 1 persen kasus kecelakaan yang diteliti.

Namun, data dari sistem telematika CMT menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi. Aktivitas ponsel terdeteksi dalam 30 detik sebelum tabrakan pada sekitar 7 persen kecelakaan tunggal.

Sementara itu, pada kecelakaan yang melibatkan dua kendaraan, aktivitas ponsel terdeteksi pada sekitar 8 persen kasus.

Dengan demikian, data telematika menunjukkan keterlibatan ponsel dalam kecelakaan dapat mencapai sekitar tujuh kali lebih tinggi dibandingkan yang tercatat dalam laporan resmi kepolisian.

Perbedaan ini sekaligus menunjukkan bahwa penggunaan ponsel saat berkendara kemungkinan masih menjadi faktor yang cukup sering terjadi, tetapi sulit teridentifikasi di lokasi kecelakaan.

Teknologi telematika modern tidak hanya bekerja dengan mendeteksi apakah sebuah ponsel sedang terhubung atau aktif.

Sistem yang digunakan CMT mampu menganalisis pola aktivitas perangkat dan mengelompokkannya berdasarkan jenis interaksi yang dilakukan pengemudi.

Teknologi tersebut dapat membedakan sejumlah aktivitas, mulai dari melakukan panggilan hands-free, memegang ponsel, menggeser layar, hingga menggunakan ponsel untuk navigasi.

Kemampuan tersebut membuat data telematika berpotensi memberikan gambaran lebih detail mengenai kondisi beberapa detik sebelum kecelakaan terjadi.

Meski begitu, para peneliti mengingatkan bahwa keberadaan aktivitas ponsel tidak otomatis membuktikan perangkat tersebut menjadi penyebab utama kecelakaan.

Sebagai contoh, layar ponsel yang aktif bisa saja digunakan untuk menjalankan aplikasi navigasi. Ponsel pun mungkin ditempatkan pada dudukan di dashboard sehingga pengemudi tidak secara langsung menggenggam perangkat tersebut.

Artinya, data telematika perlu dibaca bersama faktor lain sebelum menyimpulkan bahwa penggunaan ponsel menjadi penyebab kecelakaan.

 

Teknologi Canggih Berhadapan dengan Persoalan Privasi

Di balik manfaatnya untuk meningkatkan keselamatan berkendara, penggunaan sistem telematika juga menghadirkan persoalan baru mengenai privasi.

Program asuransi berbasis telematika umumnya meminta pengguna memberikan akses terhadap sejumlah data berkaitan dengan perilaku berkendara. Sebagai imbalannya, pengemudi dapat memperoleh berbagai keuntungan, termasuk potensi diskon premi asuransi.

Namun, data yang dikumpulkan tidak selalu sebatas informasi mengenai kendaraan.

Rekam telematika dapat mencakup lokasi perjalanan, kecepatan kendaraan, serta aktivitas ponsel dan layar. Dengan demikian, sistem tersebut pada dasarnya mampu membangun gambaran cukup terperinci mengenai kebiasaan seseorang saat berkendara.

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika data tersebut berpotensi diminta dalam proses hukum.

Kebijakan privasi pada layanan tertentu dapat memungkinkan data dibuka apabila terdapat permintaan hukum atau proses peradilan.

Artinya, catatan yang awalnya dikumpulkan untuk kepentingan keselamatan atau pemberian diskon asuransi berpotensi digunakan sebagai bagian dari bukti dalam perkara hukum.

Kemajuan teknologi telematika memberikan keuntungan besar bagi penelitian keselamatan jalan raya.

Data yang sebelumnya sulit diperoleh di lokasi kecelakaan kini dapat dianalisis melalui rekaman digital. Aktivitas ponsel, kecepatan kendaraan, hingga pola perjalanan dapat membantu menggambarkan kondisi yang terjadi sebelum sebuah benturan.

Namun, teknologi tersebut juga mengingatkan pengemudi bahwa kemudahan memiliki konsekuensi.

Potongan harga premi asuransi mungkin terlihat menarik, tetapi pengguna perlu memahami jenis data yang dikumpulkan dan bagaimana informasi tersebut dapat digunakan.

Pada era kendaraan dan ponsel yang semakin terkoneksi, setiap perjalanan meninggalkan jejak digital. Bahkan aktivitas beberapa detik sebelum kecelakaan yang tidak terlihat oleh kamera atau saksi di lokasi kejadian bisa saja tersimpan dalam sistem telematika.

Karena itu, sebelum mengaktifkan layanan berbasis telematika, pengemudi sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan besarnya potongan premi.

Ketentuan mengenai pengumpulan, penyimpanan, penggunaan, dan kemungkinan pembagian data juga perlu diperhatikan.

Teknologi telematika pada akhirnya menjadi pedang bermata dua: membantu mengungkap fakta kecelakaan secara lebih akurat, tetapi sekaligus membuat aktivitas pengemudi semakin mudah ditelusuri.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya