Investasi Kripto Asia Tenggara Melonjak 2 Kali Lipat

Pendanaan kripto Asia Tenggara mencapai US$ 680 juta pada 2026, lebih dari dua kali lipat tahun lalu.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 06 September 2026, 06:20 WIB
Ilustrasi kripto (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Pendanaan sektor blockchain di Asia Tenggara mencapai US$ 680 juta sepanjang 2026, lebih dari dua kali lipat dibandingkan US$ 319 juta yang dihimpun sepanjang tahun lalu.

Berdasarkan data terbaru Tracxn, dikutip dari CoinMarketCap, Minggu (6/9/2026), lonjakan tersebut menunjukkan pemulihan investasi kripto di kawasan. Namun, modal kini mengalir melalui jumlah transaksi yang lebih sedikit dengan nilai jauh lebih besar.

Sepanjang 2026, tercatat 25 putaran pendanaan blockchain di Asia Tenggara. Angka ini turun dari 46 putaran pada 2025 dan jauh di bawah 206 putaran saat pasar mencapai puncaknya pada 2022.

Kondisi tersebut menunjukkan investor semakin selektif. Mereka cenderung menempatkan dana pada perusahaan infrastruktur kripto yang sudah memiliki skala bisnis, bukan menyebarkan modal ke lebih banyak startup.

Salah satu transaksi terbesar berasal dari Crypto.com. Perusahaan tersebut mengumumkan investasi strategis senilai US$ 400 juta dari Citadel Securities pada Juli 2026.

Transaksi itu membuat valuasi Crypto.com mencapai US$ 20 miliar dan menyumbang hampir 60 persen dari total pendanaan blockchain Asia Tenggara tahun ini.

Crypto.com akan menggunakan dana tersebut untuk mengembangkan bisnis, termasuk sekuritas yang ditokenisasi dan derivatif.

Besarnya investasi Crypto.com menjadi faktor utama yang membuat total pendanaan blockchain Asia Tenggara melonjak pada 2026, meski jumlah transaksi justru menurun.

 

Pendanaan Lainnya

Ilustrasi kripto dengan kapitalisasi terbesar. (Foto by AI)

Selain Crypto.com, Tracxn mencatat sejumlah pendanaan besar lainnya. Edena Capital memperoleh US$ 100 juta dalam putaran Series D, sedangkan Startale mendapatkan US$ 50 juta melalui Series A.

Pola pendanaan ini berbeda dengan siklus investasi kripto sebelumnya. Perusahaan blockchain Asia Tenggara menghimpun US$ 2,2 miliar pada 2022.

Setelah itu, pendanaan anjlok menjadi US$ 386 juta pada 2023. Investasi kemudian pulih menjadi US$ 804 juta pada 2024 sebelum kembali turun menjadi US$ 319 juta pada 2025.

Sektor jasa keuangan kripto kini menjadi tujuan utama investasi blockchain di kawasan tersebut.

Perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan kripto menarik US$ 498 juta melalui 19 putaran pendanaan. Nilainya meningkat 48,4 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Platform fraksionalisasi dan tokenisasi aset digital memperoleh US$ 114 juta. Sementara itu, platform pengembangan aplikasi terdesentralisasi mendapat US$ 77 juta dan jaringan blockchain menarik US$ 49,5 juta.

 

Singapura Mendominasi

Ilustrasi kripto. (Foto by AI)

Data tersebut menunjukkan investor semakin tertarik pada bisnis yang berkaitan dengan pembayaran, perdagangan, tokenisasi, serta infrastruktur pasar keuangan lainnya.

Secara geografis, Singapura mendominasi pasar blockchain Asia Tenggara. Negara tersebut menyumbang 82,5 persen dari total US$ 6,2 miliar pendanaan ekuitas blockchain kumulatif di kawasan.

Singapura juga menjadi lokasi bagi 2.285 dari total 3.957 perusahaan blockchain di Asia Tenggara. Jakarta berada di posisi kedua, tetapi hanya menyumbang sekitar 3 persen dari total pendanaan.

Sebanyak 1.323 perusahaan blockchain di kawasan telah menerima pendanaan institusional. Namun, hanya 167 perusahaan yang berhasil mencapai Series A atau tahap lebih lanjut.

Dari jumlah tersebut, hanya 50 perusahaan yang mencapai Series B, 14 mencapai Series C, dan empat perusahaan mencapai Series D atau lebih tinggi.

Kesenjangan tersebut menggambarkan pola investasi baru. Asia Tenggara masih memiliki basis startup blockchain yang besar, tetapi modal semakin terkonsentrasi pada perusahaan yang telah membuktikan skala bisnisnya.

Dengan demikian, US$ 680 juta bukan sekadar tanda pemulihan. Pasar 2026 justru ditandai lebih sedikit transaksi, nilai investasi lebih besar, serta preferensi terhadap perusahaan infrastruktur keuangan yang telah mapan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya