Saat Ethical AI Membawa Kisah Borobudur, Bagaimana Sejarah Dijaga Tetap Akurat?

Di balik visual sejarah Purwacarita Borobudur, ethical AI menjadi cara untuk memastikan setiap informasi memiliki dasar dan dapat dipertanggungjawabkan.

oleh Nurri Indah KholillahDiterbitkan 07 September 2026, 08:00 WIB
Curaweda mempertegas langkahanya sebagai pionir dalam Ethical AI, Jumat, (4/9/2026). (Liputan6.com/Nurri Indah)

Liputan6.com, Jakarta - Ethical AI menjadi salah satu pendekatan yang diterapkan dalam pameran "Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa" untuk menghadirkan kisah sejarah melalui teknologi kecerdasan buatan (AI).

Di tengah semakin mudahnya AI menghasilkan gambar, video, dan beragam konten, persoalan akurasi menjadi perhatian, terutama ketika teknologi tersebut digunakan untuk merepresentasikan sejarah dan budaya. Sebab, visual yang dihasilkan AI tetap bergantung pada kualitas informasi, serta batasan yang diberikan dalam proses pembuatannya.

Founder dan CEO Curaweda, Azhar Muhammad Fuad, mengatakan penerapan Ethical AI tidak semata-mata berkaitan dengan kecanggihan teknologi. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah metodologi yang digunakan untuk menjaga akurasi dan konsistensi.

"Pada dasarnya penerapan Ethical AI itu bukan di mesinnya, tapi di metodologi bagaimana kita bisa menjaga akurasi dan konsistensi," kata Azhar saat jumpa pers di Jakarta, Selasa, 1 September 2026.

Dalam proyek ini, proses tersebut dilakukan sejak awal, mulai dari menentukan sumber informasi, menyusun cerita dan screenplay, hingga menghasilkan visual yang dapat ditelusuri serta memiliki pihak yang bertanggung jawab.

Peran manusia pun tetap menjadi bagian penting, khususnya dalam literasi awal dan pemeriksaan akhir. Langkah ini diperlukan untuk memastikan interpretasi yang dihasilkan teknologi tetap berpijak pada data yang telah dikurasi.

Teknologi AI memiliki ruang untuk membantu menggambarkan kembali berbagai unsur sejarah dan budaya, mulai dari bangunan, karakter, hingga artefak. Namun, proses tersebut tidak cukup dilakukan hanya dengan mengandalkan kemampuan AI dalam menghasilkan visual.

Menghidupkan Sejarah dengan Batasan Ethical AI

Hasilakan visual sejarah dengan menggunakan batasan Ethical AI, Jumat, (4/9/2026). (Liputan6.com/Nurri Indah)

Tanpa literasi dan kurasi yang akurat, penggunaan AI untuk merepresentasikan sejarah juga berisiko menghadirkan bias. Karena itu, setiap informasi yang digunakan sebagai dasar visual dalam Purwacarita Borobudur perlu melalui proses validasi sebelum dipublikasikan.

Azhar menekankan bahwa proses tersebut tidak dilakukan berdasarkan satu sudut pandang saja. "Sebelum kita publish harus sudah dikurasi. Nah, inilah yang kita sebut dengan meaningful understanding, jadi enggak hanya diterka-terka berdasarkan melihat, tapi ada validasi kurasi dan bukan cuma dari satu orang tadi yang melibatkan banyak sekali pihak," bebernya.

Menurutnya, informasi yang menjadi pijakan visual harus memiliki sumber yang jelas dan telah tervalidasi. Pendekatan ini diharapkan membantu masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih bermakna tentang Candi Borobudur, bahkan sebelum mereka datang dan melihat langsung situs bersejarah tersebut.

Proses Literasi Menjadi Kunci Akurasi

Tingkat akurasi penggunaan Ethical AI perlu adanya manusia, Jumat, (4/9/2026). (Liputan6.com/Nurri Indah)

Curaweda membutuhkan waktu untuk menentukan sumber informasi sekaligus pihak yang berwenang melakukan kurasi. Dari delapan segmen yang dikembangkan, proses ini telah dimulai sejak awal 2025 dengan mengutamakan sumber primer, baik dari catatan sejarah maupun pihak yang memiliki kewenangan dalam preservasi dan konservasi.

"Mulai dari literasinya, suaranya, karakter per karakter, menit per menit, tanda tangan dan stempel oleh Museum dan Cagar Budaya, dan divalidasi ulang oleh Universitas Gajah Mada dari Departemen Sejarah Budaya," jelas Azhar.

Ketelitian tersebut menjadi penting karena informasi yang diberikan sejak awal turut menentukan hasil visual AI. Proses kurasi bahkan mencakup detail seperti bentuk mahkota dan anting pada arca, hingga representasi pakaian, suku, ras, dan warna kulit.

"Manusia ditempatkan di proses-proses yang paling berbahaya. Di mana? Di literasi awal dan juga di accuracy akhir," ujarnya.

Menghadapi Pro Kontra

Adanya pro dan kontra terhadap penggunaan Ethical AI, Jumat, (4/9/2026). (Liputan6.com/Nurri Indah)

Penggunaan AI untuk merepresentasikan sejarah tak selalu lepas dari perbedaan pandangan. Sebab, sejarah dapat memiliki beragam perspektif, sehingga sebuah representasi mungkin dimaknai berbeda oleh setiap orang.

Menurut Azhar, tantangannya bukan menghilangkan seluruh pro dan kontra, melainkan memastikan informasi yang disampaikan memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Prinsip tersebut menjadi bagian penting dalam penerapan Ethical AI, termasuk untuk mencegah tim merasa paling memahami suatu persoalan sejarah. Azhar menyebut pentingnya keterbukaan terhadap pihak lain yang memiliki pengetahuan dan kewenangan terkait.

"Norma yang kita jaga itu adalah bagaimana supaya kita tidak keminter, bahasa Jawanya, dalam arti kita nggak salah tahu. Berarti kan harus ada yang memberi tahu,” ujar Azhar.

Dengan pendekatan ini, kritik maupun perbedaan tafsir dapat dihadapi secara terbuka karena proses di balik representasi sejarah memiliki dasar yang jelas dan dapat dijelaskan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya