Liputan6.com, Jakarta - Di sebuah studio fashion, ide bisa lahir dari banyak hal. Sebuah coretan di atas kertas, potongan kain yang ditemukan secara tak sengaja, bahkan karakter yang tersimpan sejak lama. Kini, layar komputer dan teknologi kecerdasan buatan (AI) perlahan ikut mengambil tempat dalam ruang kreatif tersebut.
AI tidak lagi hanya hadir sebagai alat untuk mencari informasi atau menjawab pertanyaan. Bagi sejumlah desainer, teknologi mulai digunakan sebagai ruang untuk mencoba kemungkinan, memperluas imajinasi, sekaligus melihat sebuah gagasan dari sudut yang sebelumnya belum terpikirkan.
Advertisement
"Dunia creative mode bersamaan dengan dunia kriya dan dunia F&B itu mendominasi dunia industri kreatif di Indonesia, dan dunia mode itu salah satu ekspor tertinggi di dunia industri kreatif. Karena memang it’s a big part of the economy," kata, Senior Brand Creative and Social Marketing Lead Google Southeast Asia, Mira Sumanti, saat jumpa pers di Jakarta, Kamis, 3 September 2026.
Melalui inisiatif "With Gemini, In Craft," Google Indonesia memperlihatkan bagaimana Gemini dapat menjadi mitra dalam perjalanan kreatif para pelaku fashion. Tiga nama hadir dengan pendekatan yang berbeda, yakni Stella Rissa melalui STELLARISSA, Andi Tan dan Jerome Kurnia bersama TWO STITCHES, serta Auguste Soesastro lewat KRATON.
Masing-masing membawa kebutuhan yang lahir dari karakter dan cara kerja mereka sendiri. Stella membawa sebuah karakter bernama Starlet yang pernah ia kembangkan secara manual.
Andi dan Jerome melihat teknologi sebagai cara untuk mengeksplorasi alternatif desain dengan lebih fleksibel. Auguste menggunakannya untuk menelusuri informasi sejarah dan budaya yang menjadi fondasi penciptaan couture.
Menghidupkan Kembali Starlet
Bagi Stella Rissa, kreativitas bersama Gemini bermula dari sesuatu yang sangat personal. Starlet bukan karakter yang tiba-tiba muncul dari teknologi. Sosok tersebut telah lebih dulu hidup dalam imajinasinya sejak 2021, ketika pandemi COVID-19 membuat banyak aktivitas berpindah ke ruang yang lebih sederhana.
Kebutuhan akan pakaian yang nyaman saat itu justru membuka ruang bagi Stella dan timnya untuk menciptakan sesuatu yang berbeda. Sebuah karakter kemudian digambar menggunakan watercolor dan diberi nama Starlet.
Karakter yang awalnya hadir dalam goresan tangan itu kemudian dibawa ke ruang digital. Bersama Gemini, Stella mengeksplorasi Starlet dalam berbagai kemungkinan visual, termasuk menerjemahkannya menjadi figur tiga dimensi yang dapat dilihat dari sudut 360 derajat.
Mempercepat Eksplorasi Desain
Cerita berbeda datang dari TWO STITCHES. Andi dan Jerome bekerja dengan tim yang tersebar di Jakarta, Bali, dan Berlin. Jarak membuat proses kreatif membutuhkan cara berkomunikasi yang dapat menjembatani berbagai referensi secara lebih praktis.
Proses mereka tetap dimulai dari tangan manusia. "Jadi kita awalnya dari hand drawing dulu, dari kertas, lalu kita (ambil) foto dan video dari produk yang kita sudah suka," ujar Andi.
Materi tersebut kemudian menjadi titik awal eksplorasi bersama Gemini. Berbagai alternatif warna, material, bentuk, dan tampilan busana dapat dicoba untuk membantu tim melihat kemungkinan yang paling sesuai dengan arah desain mereka.
Andi menggambarkan proses tersebut sebagai cara untuk menyaring pilihan dengan lebih cepat. Setelah alternatif visual tersedia, tim dapat memutar, mengganti warna atau fabric, serta melihat bagaimana rancangan tampil ketika dikenakan model.
Menelusuri Jejak untuk Sebuah Couture
Sementara itu, Auguste membawa pemanfaatan AI ke tahap yang lebih mendalam. Bagi desainer KRATON, couture tidak hanya berbicara tentang tampilan busana, namun juga cerita, sejarah, dan konteks budaya yang melatarinya.
Melalui Gemini, ia menelusuri arsip internasional, menerjemahkan dokumen sejarah berbahasa asing, dan memetakan garis keturunan dari sejumlah wilayah leluhur. Riset tersebut mendukung proses penciptaan couture untuk Kenya Kamalashila Soekarno, sekaligus membantunya memahami konteks budaya yang ingin diterjemahkan ke dalam karya.
Hasil penelusuran kemudian digunakan untuk menyusun narasi yang lebih terstruktur, lengkap dengan sumber dan bibliografi. Pemanfaatan ini memperlihatkan bahwa AI tidak hanya membuka kemungkinan visual baru, tapi juga membantu desainer menggali jejak sejarah yang relevan dengan karya.
Pada akhirnya, teknologi merupakan pendamping. Identitas dan keputusan kreatif tetap lahir dari pengalaman, pengetahuan, serta perspektif desainer.