80 Orang Tewas Gara-gara Rumor Pencurian Alat Kelamin

Lebih dari 80 orang tewas di Afrika akibat rumor palsu "pencurian alat kelamin" yang diperkuat media sosial.

oleh Septian DenyDiterbitkan 03 September 2026, 16:00 WIB
Ilustrasi Pembunuhan

Liputan6.com, Dodoma - Lebih dari 80 orang tewas dalam rentang Oktober 2025 hingga Juli tahun ini akibat tuduhan palsu terkait apa yang disebut sebagai “pencurian alat kelamin”. Temuan tersebut diperoleh BBC Global Disinformation Unit setelah mengumpulkan data dari kepolisian di enam negara Afrika.

Kekerasan itu dipicu rumor bahwa sentuhan sederhana di bahu dapat membuat alat kelamin seorang pria menyusut atau bahkan menghilang. Klaim tersebut kemudian diperkuat oleh misinformasi yang beredar luas di media sosial.

Boniface Mgala, seorang mekanik asal Tanzania, menjadi salah satu korbannya. Pada April lalu, ia dikeroyok hingga mengalami luka parah oleh massa yang meyakini bahwa dirinya telah mencuri alat kelamin seseorang.

“Mereka berteriak bahwa kami telah mencuri alat kelamin seseorang dan kami tidak punya cara untuk melarikan diri karena massa begitu besar,” ujar Mgala kepada BBC.

Pengalaman Mgala serupa dengan sejumlah video yang ditelusuri BBC. Dalam rekaman-rekaman tersebut, sejumlah pria mengaku alat kelamin mereka—penis dan testis—menghilang atau menyusut setelah bersentuhan dengan orang asing. Massa kemudian menuntut orang yang dituduh sebagai pelaku untuk mengembalikan alat kelamin yang diyakini telah dicuri.

Rumor Lama yang Diperkuat Media Sosial

Klaim mengenai “pencurian alat kelamin” berakar pada ketakutan dan takhayul yang telah lama ada. Fenomena semacam ini bukan hal baru di Afrika, terutama di komunitas yang kepercayaan terhadap ilmu sihir masih kuat.

Namun, media sosial membuat ketakutan tersebut menyebar jauh lebih cepat.

Gelombang rumor terbaru tampaknya bermula tahun lalu di Republik Demokratik Kongo. Klaim serupa sebenarnya pernah muncul di negara tersebut pada 2008.

Dari sana, rumor perlahan menyebar ke sejumlah negara lain, termasuk Burundi, Zambia, Tanzania, Mozambik, Angola, Malawi, dan Kenya.

Di Zambia, kabar mengenai alat kelamin yang menghilang mulai mendapat perhatian pada Maret setelah seorang perempuan tewas dikeroyok massa. Rumor tersebut kemudian menyebar melintasi perbatasan ke Tanzania dan memicu kepanikan.

Diseret Massa dan Nyaris Kehilangan Nyawa

Di rumahnya di Mpemba, dekat Tunduma, Tanzania, Mgala masih dapat merasakan bekas luka berbentuk seperti sabit yang membentang di sisi kanan kepalanya. Tunduma merupakan kota perdagangan yang sibuk di perbatasan Tanzania dan Zambia.

Ia mengenang kembali kejadian traumatis yang hampir merenggut nyawanya.

“Kalau saya tahu betapa dekatnya saya dengan kematian hari itu, saya tidak akan pergi ke restoran itu untuk makan. Tapi kita memang tidak pernah tahu seberapa dekat kematian,” katanya.

Pada 1 April, Mgala dan seorang temannya pergi ke Tunduma untuk menemui seorang klien terkait penjualan mobil. Sebelum bertemu klien, keduanya memutuskan makan siang.

Mereka baru saja duduk di restoran ketika massa menyeret mereka keluar.

Mgala mengalami luka di kepala dan dagu serta kehilangan satu gigi. Di tengah pengeroyokan, ia sempat kehilangan kesadaran.

Dua hari kemudian, ia sadar di rumah sakit dan mendapat kabar bahwa temannya telah tewas.

Kini, di rumah yang ia tinggali bersama istri dan empat anaknya, Mgala berjalan terpincang-pincang. Ia juga mengatakan terus mengalami sakit kepala.

Ia belum dapat kembali bekerja di bengkel miliknya. Untuk membeli sebagian obat yang dibutuhkan, tetangga dan teman-temannya turut membantu.

 

Korban Dibakar Massa

Pada hari yang sama ketika Mgala dan temannya diserang, seorang fotografer komersial sekaligus pengusaha bernama Michael Silavwe mengaku menyaksikan serangan serupa di Tunduma.

Menurut Silavwe, kecemasan di kota itu mulai meningkat setelah video-video mengenai “alat kelamin yang dicuri” beredar di TikTok.

Dari luar tokonya, ia melihat orang-orang berlarian. Ia kemudian mengetahui bahwa seorang pria telah dituduh sebagai pelaku di sekitar lokasi dan dikeroyok massa. Pria itu kemudian dibakar.

“Setelah mereka membakarnya, polisi tiba di lokasi dan semua orang berpencar lalu melarikan diri,” kata Silavwe, yang berusia 23 tahun, kepada BBC.

BBC Global Disinformation Unit memverifikasi salah satu video serangan tersebut. Dalam rekaman yang telah ditonton lebih dari 100.000 kali di TikTok dan Facebook, sekelompok orang terlihat memukuli seorang pria sambil menuntut agar ia mengembalikan alat kelamin yang dituduhkan telah dicurinya.

“Insiden-insiden itu terus meningkat dan orang-orang terus dipukuli,” ujar Silavwe.

Ia mengatakan, saat itu anak-anak muda sepertinya merasa takut. Namun, kini ia menyadari bahwa rumor tersebut tidak benar.

Asha Steven Mwakilasa, penjahit dan perancang busana berusia 50 tahun di Tunduma, juga sampai pada kesimpulan yang sama.

“Saya akhirnya menyadari bahwa itu tidak benar,” katanya.

Meski demikian, rasa cemas belum sepenuhnya hilang, terutama ketika suami atau anak-anaknya sedang berada di luar rumah. Ia bersyukur polisi kini melakukan patroli.

Diduga Ada yang Sengaja Memicu Kepanikan

Komisioner Distrik Momba, Elias Daniel Mwandobo, mengatakan penyelidikan lokal menunjukkan adanya dugaan niat kriminal di balik sejumlah insiden.

“Individu-individu bersekongkol untuk melakukan kejahatan dan memicu kepanikan publik demi keuntungan mereka sendiri,” ujarnya kepada BBC.

Video lain yang direkam di Dar es Salaam, kota utama Tanzania, memperlihatkan massa menggiring seorang pria melewati jalan pasar yang berdebu. Pria tersebut didorong, ditarik, dan dipukul sambil terus dituntut mengembalikan alat kelamin yang disebut telah dicurinya. Ia sendiri berulang kali menyatakan tidak bersalah.

BBC Disinformation Unit juga memverifikasi video serangan serupa dari Mozambik dan Kenya.

Puluhan rekaman kekerasan massa, pengakuan yang diklaim berasal dari korban, peringatan mengenai insiden, komentar, hingga video yang dibuat seolah-olah merupakan laporan kejadian di wilayah tertentu kini beredar di TikTok dan Facebook.

Sebagian dari konten tersebut, termasuk beberapa video yang memperlihatkan kekerasan massa, masih dapat ditemukan secara online.

Juru bicara Meta mengatakan kepada BBC bahwa perusahaan tersebut sedang meninjau konten yang dilaporkan dan akan mengambil tindakan terhadap konten yang terbukti melanggar kebijakan. TikTok belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar BBC.

Di sisi lain, tidak selalu jelas apakah para pembuat konten yang memperingatkan penonton agar waspada benar-benar mempercayai rumor tersebut atau sekadar berusaha mendapatkan lebih banyak interaksi.

Selain konten peringatan, sejumlah pengguna juga mempromosikan benda-benda yang disebut dapat melindungi dari “pencurian alat kelamin”. Para komedian bahkan memparodikan klaim tersebut melalui sketsa komedi.

 

Video Membuat Rumor Terlihat Meyakinkan

Penulis Julien Bonhomme mengatakan smartphone dan media sosial membuat rumor dapat menyebar lebih cepat, menjangkau lebih banyak orang, dan semakin sulit dikendalikan setelah beredar.

Dalam bukunya, The Sex Thieves: The Anthropology of a Rumor, Bonhomme membahas bagaimana kabar mengenai “pencuri alat kelamin” menyebar dan mengapa orang mempercayainya.

Menurutnya, orang-orang tidak hanya mendengar klaim bahwa seseorang kehilangan alat kelaminnya. Mereka juga melihat pria yang tampak tertekan mengaku mengalami hal tersebut atau menyaksikan massa bereaksi terhadap sebuah tuduhan.

Video di media sosial dapat membuat klaim yang belum terverifikasi terlihat lebih meyakinkan karena sifatnya yang langsung dan seolah menghadirkan bukti di depan mata. Bonhomme menyebut hal itu sebagai salah satu perbedaan paling signifikan antara lingkungan digital saat ini dan gelombang rumor pada masa sebelumnya.

Mozambik Jadi Negara dengan Korban Terbanyak

Mozambik menjadi negara yang paling parah terdampak. Pada Mei, kepolisian menyatakan 55 orang tewas hanya dalam waktu enam minggu. Di antara korban terdapat seorang polisi, tenaga kesehatan, dan pegawai negeri.

Presiden Mozambik Daniel Chapo secara terbuka mengecam rumor dan kematian yang terjadi. Ia menegaskan bahwa klaim tersebut palsu dan pemerintah tidak menemukan bukti medis yang menunjukkan bahwa seseorang kehilangan bagian tubuhnya.

Dua tenaga kesehatan diserang di rumah dan tempat kerja mereka pada April di Provinsi Cabo Delgado, wilayah yang berbatasan dengan Tanzania dan telah terdampak pemberontakan kelompok Islam selama hampir satu dekade.

Fasilitas kesehatan di kawasan tempat serangan terjadi bahkan harus ditutup selama berminggu-minggu ketika pemerintah meluncurkan kampanye penyadaran publik untuk melawan klaim tersebut.

Dalam kampanye kesehatan itu, pemerintah mengatakan sebagian ketakutan yang muncul mungkin berkaitan dengan Koro syndrome, gangguan mental yang juga dikenal sebagai histeria akibat keyakinan bahwa alat kelamin menghilang atau tertarik masuk ke dalam tubuh.

 

Kekerasan Berlanjut hingga Kenya dan Malawi

Insiden kekerasan terbaru terjadi di Kenya. Lima orang tewas dikeroyok massa di wilayah pesisir Kwale dan Mombasa.

Setelah insiden pertama dilaporkan pada Juli, Komisioner Kabupaten Mombasa Mohamed Noor menyalahkan sejumlah pembuat konten yang menyebarkan klaim tersebut demi meningkatkan interaksi dan “sekadar menarik perhatian serta penonton”.

“Informasi yang salah seperti ini dapat dengan mudah menyebabkan hilangnya nyawa,” kata Noor kepada BBC.

Ia mengatakan polisi kemudian berhasil mengendalikan kekerasan dan melakukan sejumlah penangkapan. Di antara mereka terdapat ayah dan anak yang dijatuhi hukuman satu tahun penjara setelah mengaku bersalah karena menyerang seorang perempuan yang mereka tuduh menyebabkan alat kelamin pria menghilang.

Klaim serupa juga memicu serangan massa di Malawi, yang menyebabkan delapan orang tewas.

Sementara itu, di Tunduma, Tanzania, Mgala masih berusaha pulih dari luka fisik akibat serangan tersebut. Namun, luka emosional akibat kehilangan sahabatnya belum mengering.

“Saya masih sangat terluka ketika mengingat bagaimana teman saya meninggal tanpa alasan yang masuk akal, karena saya masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.

“Bagaimana mungkin tiba-tiba Anda dilempari batu tanpa alasan, lalu akhirnya kehilangan nyawa?” tutup dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya