Jalankan Mandat Prabowo, Pemerintah Siap Terapkan B60 di 2027

Usai sukses mencetak rekor dunia lewat B50, pemerintah mulai menyusun strategi pasokan CPO dan industri FAME demi mengimplementasikan B60 tahun depan.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 03 September 2026, 08:42 WIB
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung dalam EBTKE ConEx di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (2/9/2026). (Liputan6.com/Arief)

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan mandat Presiden Prabowo Subianto mengenai penerapan biodiesel B60 pada 2027. Rencana penerapannya pun disusun sejak saat ini.

Diketahui, pemerintah resmi menerapkan campuran 50 persen minyak sawit atau fatty acid methyl ester (FAME) dengan solar menjadi B50 pada tahun ini. Yuliot menyampaikan bahwa campuran tersebut akan dinaikkan menjadi 60 persen pada 2027, tahun depan.

"Bapak Presiden waktu kita meluncurkan B50, beliau sudah menyampaikan tahun depan sudah diimplementasikan B60," ujar Yuliot dalam EBTKE ConEx di JIExpo Kemayoran, Jakarta, dikutip Kamis (3/9/2026).

Menilik rencana tersebut, Yuliot menyinggung perlunya kesiapan industri minyak sawit untuk memastikan ketersediaan bahan bakunya. Peningkatan dari B50 ke B60 secara otomatis membutuhkan lebih banyak campuran FAME dari minyak sawit.

"Ketersediaan untuk sumber bahan bakunya, ini kita juga harus konsolidasikan. Bagaimana di hulu ketersediaan CPO-nya mencukupi, ya berarti ini juga ada tambahan penanaman atau peningkatan produktivitas. Kemudian kita juga harus meningkatkan industri FAME-nya untuk implementasi B60," tutur dia.

"Karena ini sudah merupakan arahan dari Bapak Presiden, ya kita juga harus berusaha untuk mengimplementasikan secara keseluruhan," imbuh Yuliot.

 

RI Stop Impor Solar

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang dioperasikan PT Pertamina Patra Niaga menjalankan penugasan Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Karawang, Jawa Barat. (Dok Pertamina)

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatatkan capaian positif penggunaan energi baru terbarukan (EBT), termasuk melalui campuran 50% minyak kelapa sawit (FAME) ke biodiesel B50. Penerapan B50 disebut berhasil mengurangi impor solar sekaligus mencatatkan rekor dunia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi. Menurutnya, B50 merupakan salah satu bukti Indonesia bisa mewujudkan kemandirian energi, termasuk dengan mengurangi impor.

"Target B50 ini bisa me-nondaktifkan atau menghentikan impor solar kita. Jadi CN48 dan CN51 itu ada jenis solarnya, yang tidak diimpor adalah CN48. Jadi kita sudah bisa mandiri dari impor CN48," tegas Eniya dalam Indonesia EBTKE ConEx 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (1/9/2026).

 

Jadi Negara Pertama Pakai B50

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang dioperasikan PT Pertamina Patra Niaga menjalankan penugasan Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Karawang, Jawa Barat. (Dok Pertamina)

Perlu diketahui, Fatty Acid Methyl Ester (FAME) merupakan campuran utama dengan minyak solar untuk membentuk biosolar. Porsi 50% FAME membentuk biodiesel B50 yang diaplikasikan oleh pemerintah di berbagai moda transportasi.

Eniya menerangkan, implementasi B50 oleh Indonesia ini merupakan praktik pertama di dunia. Beberapa negara lain disebut masih menerapkan porsi campuran yang lebih rendah dari Indonesia.

"Nah, ini kita buktikan dengan adanya kombinasi 50% FAME-nya yang sudah diresmikan oleh Bapak Presiden ini rekor dunia. Jadi tidak ada dunia yang mencapai 50% dari campuran ini," ujar dia.

"Kalau kita bandingkan ya, Malaysia itu baru saja mengumumkan B20, sebelumnya B15 terus. Lalu di Eropa itu 7%, 7% FAME yang dipakai. Dan kita lihat di beberapa negara lain 10% rata-rata," sambungnya.

 

Jadi Rujukan Dunia

Eniya menjelaskan, langkah RI dalam implementasi biodiesel B50 ini sekaligus menjadikannya rujukan bagi negara lain. Kementerian ESDM bakal menerbitkan kerangka acuan penerapan B50 ke depannya.

Sederet uji coba dilakukan sejak lama sebelum implementasi penuh di berbagai moda transportasi Tanah Air. "Nah, ini menunjukkan bahwa kita menjadi pionir dan sekarang menjadi rujukan, belum ada scientific proof," kata dia.

"Jadi kemarin selama 6 bulan teman-teman di bioenergi membuktikan. Road test bersama, jadi kita buka datanya ke masyarakat untuk bisa tahu bagaimana performanya," sambung Eniya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya