3 September 1967: Swedia Pindahkan Setir Kiri ke Kanan

Bagaimana suasana Swedia saat pergantian setir pada 3 September 1967?

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 03 September 2026, 06:00 WIB
Ilustrasi menyetir, mengemudi mobil. (Photo by Art Markiv on Unsplash)

Liputan6.com, Stockholm - Dagen H, peristiwa sejarah pergantian setir kiri ke setir kanan di Swedia terjadi pada 3 September 1967 setelah persiapan empat tahun dan perdebatan 40 tahun serta biaya sebesar 40 juta pound sterling (Rp 961,2 miliar). Kerumunan warga bersorak membuat jalanan macet pada hari itu.

Dikutip dari The Guardian, Kamis (3/9/2026), seluruh lalu lintas hari itu harus dihentikan selama 10 menit pada 04.50 waktu setempat di seluruh jaringan jalan Swedia yang sepanjang 96,5 ribu kilometer. Namun di Kungsgatan, yang sering disebut Oxford Street-nya Stockholm, waktu tunggu bagi para pengemudi yang tidak sabar dan ingin mencoba peruntungan dengan berkendara di sisi kanan jalan jauh lebih lama.

Walaupun pusat kota sudah ditutup selama hampir 24 jam untuk semua kendaraan kecuali taksi, bus, dan mobil dengan izin khusus, kemacetan parah terjadi karena para warga, pengendara sepeda, dan kru televisi memenuhi jalanan. Polisi melihat dengan raut wajah muram saat antrean panjang kendaraan dengan lampu depan yang silau dan bunyi klakson, berusaha sia-sia untuk berpindah jalur sesuai aturan, tapi malah terjebak dalam kekacauan total.

Dengan suara gemuruh helikopter militer yang melintas di atas kepala, akhirnya situasi tertib dan “Hoger-dag” atau Hari Kanan yang disebutkan orang Swedia dengan penuh hormat, kembali ke efisiensi yang teratur seperti mesin jam, sesuai perencanaan awal.

Sekitar 2,000 tentara, 6,000 polisi sipil, 50 ribu polisi sekolah, dan 150 ribu relawan bertugas di seluruh Swedia. Sementara itu, pasukan pekerja konstruksi sudah bekerja semalaman untuk melakukan perubahan akhir pada 350 ribu rambu jalan.

Walaupun sesekali terjadi kemacetan dan sejumlah kecelakaan kecil, reputasi Swedia dalam hal ketelitian hampir tidak pernah ditunjukkan dengan lebih baik lagi. Salah satu contoh perhatian yang sangat teliti terhadap detail adalah bahwa musim perburuan rusa bahkan dimajukan satu minggu agar para pemburu tidak menambah masalah lalu lintas.

 

Upaya Pencegahan

Ilustrasi Kemacetan (Pixabay)

Untuk mencegah kecelakaan terjadi karena kelalaian setelah perubahan itu, pemerintah meluncurkan kampanye sosialisasi yang intens selain memberlakukan batas kecepatan yang ketat. Batasnya berkisar antara 40 kilometer per jam di area pemukiman sampai 90 kilometer per jam di jalan tol. Para pengemudi disarankan untuk tetap menyalakan lampu depan di siang dan malam hingga besoknya.

Menurut polisi, masa percobaannya akan terjadi sekitar tiga minggu ketika para pengemudi mulai lengah dan melupakannya. Sikap masyarakat di sini terhadap perubahan itu terlihat aneh. Banyak pengemudi yang bersyukur bahwa bencana ini akan berakhir, tapi tetap kritis terhadap biaya operasinya.

Kritik semakin tajam karena usulan kenaikan pajak kendaraan sebesar 50 persen di tahun depannya, yang secara luas dianggap sebagai akibat dari “Hoger-dag.” Baru sekitar 10 tahun sebelumnya dalam referendum nasional, 83 persen pemilih menentang perubahan tersebut.

Ketika rancangan undang-undang tersebut akhirnya disahkan di Riksdag pada tahun 1963 setelah kesepakatan antara dua partai politik utama, diperkirakan biayanya akan mencapai 400 juta krona (Rp 740,1 miliar), yang akan diperoleh melalui pajak kendaraan khusus sebesar 2 pound sterling dan 13 shilling (Rp 63,7 ribu) untuk mobil kecil dan 5 pound sterling (Rp 120,2 ribu) untuk mobil besar, bus, dan truk.

Di 1965, perkiraan resmi direvisi menjadi 600 juta krona (Rp 1,1 triliun), dan sekarang diperkirakan bahwa biaya akhir yang harus ditanggung kemungkinan akan melebihi 800 juta krona (Rp 1,4 triliun) dengan biaya tak langsung setidaknya 200 juta krona (Rp 370 miliar). Jika dihitung totalnya mencapai 80 juta pound sterling (Rp 1,9 triliun).

 

Inggris Terlihat Akan Mengikuti

Ilustrasi Setir Kanan (Pixabay)

Keberhasilan (atau kegagalan) perubahan ke arah kebijakan yang tepat ini dinilai sebagai ujian bagi masa depan politik Menteri Komunikasi, Olof Palme yang secara luas diprediksi akan menjadi perdana menteri selanjutnya jika Partai Sosial Demokrat tetap berkuasa setelah pemilihan umum tahun depannya.

Perubahan kebijakan Swedia ini membuat hanya tersisa empat negara Eropa (tidak termasuk Gibraltar) yang masih menerapkan sistem kemudi setir kiri. Islandia juga berencana untuk melakukan perubahan setelah Swedia di tahun depannya.

Meskipun Federasi Jalan Raya Inggris, Kementerian Perhubungan, AA, dan RAC semuanya mengirimkan pengamat ke Stockholm, sejauh saat itu belum ada antusiasme dari pihak manapun untuk melakukan hal yang sama di Inggris.

Harga yang akan ditanggung sangat besar, perkiraan terakhir menyentuh 350 juta pound sterling (Rp 8,4 triliun). Tapi yang lebih penting, alasan-alasan yang mendorong Swedia untuk mengikuti kenbijakan negara-negara tetangganya tidak berlaku di sana. 90 persen mobil mereka bukan setir kiri, dan jumlah mobil asing dan mobil Inggris yang masuk dan keluar masih relatif kecil.

Hingga Terowongan Selat Inggris selesai dibangun dan sampai mereka bergabung dengan Pasar Bersama, ide tentang perubahan itu hampir tidak akan terwujud. Bahkan jika hal itu terjadi, sikap Inggris yang tertutup dalam semua hal bisa menunda langkah tersebut setidaknya selama satu generasi.

Namun di tahun 2000, bahkan orang Swedia ikut berpendapat bahwa Inggris akan mengikuti jejak Swedia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya