Film Dokumenter Energi untuk Negeri Dirilis di YouTube Hari Ini, 1 September 2026

Dalam peluncuran film dokumenter Energi Untuk Negeri, Wakil MPR RI, Eddy Soeparno ungkap lapangan kerja dan industri hijau adalah komitmen.

oleh Afradhiya N. RDiterbitkan 01 September 2026, 22:18 WIB
Eddy Soeparno, Wakil MPR RI dalam acara peluncuran film dokumenter "Energi Untuk Negeri" yang diselenggarakan di kawasan Jakarta, (1/9/2026). (Liputan6.com/Afradhiya N.R)

Liputan6.com, Jakarta - Transisi energi sering dianggap istilah yang rumit karena hanya sering dibahas dalam lingkup kebijakan, anggaran, dan perdebatan energi terbarukan. Hal ini akhirnya menggerakkan Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia, dengan dukungan Yayasan Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB) untuk merilis film dokumenter Energi Untuk Negeri.

Tayangan ini membahas secara detail bagaimana ternyata transisi energi bisa menjadi sesuatu yang dapat mencegah dan mengatasi berbagai persoalan seperti pemanasan global, harga bahan bakar yang mahal, hingga kemacetan yang berdampak pada kehidupan masyarakat.

Dalam acara peluncuran film yang dihelat pada Selasa (1/9/2026) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno, juga bicara mengenai transisi energi. “Saya melihat, Ibu Bapak teman-teman sekalian bahwa transisi energi ini adalah salah satu strategi pembangunan kita,” ucapnya.

Ia pun menyebut bahwa upaya yang diperlukan bukan hanya pengurangan emisi gas rumah kaca melainkan menguatkan ketahanan energi Indonesia.

“Jadi harus kita laksanakan bukan hanya sekedar upaya dekarbonisasi saja. Satu, itu akan menguatkan ketahanan energi kita supaya kita bisa mengurangi sumber-sumber energi yang impor dengan mengembangkan sumber-sumber energi terbarukan yang ada di seluruh Indonesia,” ungkap Wakil Ketua MPR.


Transisi Energi Menghasilkan Lapangan Kerja dan Industri Ramah Lingkungan

Eddy Soeparno, Wakil MPR RI dalam acara peluncuran film dokumenter "Energi Untuk Negeri" yang diselenggarakan di kawasan Jakarta, (1/9/2026). (Liputan6.com/Afradhiya N.R)

“Kedua, kita juga mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Pasal 33 ayat 4, Undang-Undang Dasar mengatakan bahwa pembangunan ekonomi kita harus berdasarkan pada platform yang berkelanjutan. Ini adalah salah satu buktinya,” ujarnya.

Selain itu, hadirnya investasi baru pada pengembangan sektor energi terbarukan juga menghasilkan lapangan kerja ramah lingkungan dan industri hijau.

“Kemudian kita juga menghadirkan investasi baru karena banyak sektor-sektor di sektor energi terbarukan akan dikembangkan. Dan ini akan menghasilkan apa? Menghasilkan green jobs, menghasilkan green industries,” ungkapnya.


Industri dan Lapangan Kerja Hijau Bukan Sekadar Slogan

Lebih lanjut, Eddy Soeparno menyebut green jobs dan green industries bukan sekadar kata-kata manis melainkan sebuah komitmen aksi.

“Adanya industri hijau, lapangan kerja hijau, bukan sekedar slogan saja, tetapi memang merupakan suatu kenyataan. Juga merupakan bagian dari komitmen kita. Jadi kita tidak sekedar bicara saja bahwa kita melakukan transisi energi, mencegah perubahan iklim atau krisis iklim, tapi kita apa melaksanakan itu secara konsekuen,” kata Wakil Ketua MPR itu.

Lanjut Baca:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya