Liputan6.com, Jakarta - Harga emas yang dijual di Pegadaian pada Selasa (1/9/2026) cukup beragam berdasarkan mereknya. Harga emas Antam menjadi yang tertinggi untuk ukuran 1 gram, yakni Rp 2.704.000, disusul UBS Rp 2.639.000 dan Galeri24 Rp 2.606.000 per gram.
Harga tersebut berdasarkan pantauan pada laman Pegadaian dari Jakarta, Selasa (1/9/2026). Perlu diketahui, harga emas di Pegadaian dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan pasar.
Advertisement
Untuk emas Galeri24 dan Antam, Pegadaian menyediakan pilihan ukuran mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram.
Sementara itu, emas UBS tersedia dalam ukuran mulai dari 0,5 gram hingga 500 gram.
Perbedaan harga juga terlihat pada setiap ukuran. Semakin besar berat emas yang dibeli, semakin besar pula nilai transaksi yang harus disiapkan.
Berikut rincian harga emas Galeri24, Antam, dan UBS di Pegadaian hari ini:
Harga Emas Galeri24
- 0,5 gram: Rp 1.366.000
- 1 gram: Rp 2.606.000
- 2 gram: Rp 5.147.000
- 5 gram: Rp 12.773.000
- 10 gram: Rp 25.478.000
- 25 gram: Rp 63.352.000
- 50 gram: Rp 126.604.000
- 100 gram: Rp 253.082.000
- 250 gram: Rp 631.151.000
- 500 gram: Rp 1.262.300.000
- 1.000 gram: Rp 2.524.600.000
Harga Emas Antam
- 0,5 gram: Rp 1.403.000
- 1 gram: Rp 2.704.000
- 2 gram: Rp 5.348.000
- 3 gram: Rp 7.996.000
- 5 gram: Rp 13.292.000
- 10 gram: Rp 26.528.000
- 25 gram: Rp 66.191.000
- 50 gram: Rp 132.301.000
- 100 gram: Rp 264.522.000
- 500 gram: Rp 1.321.855.000
- 1.000 gram: Rp 2.643.669.000
Harga Emas UBS
- 0,5 gram: Rp 1.426.000
- 1 gram: Rp 2.639.000
- 2 gram: Rp 5.236.000
- 5 gram: Rp 12.938.000
- 10 gram: Rp 25.740.000
- 25 gram: Rp 64.224.000
- 50 gram: Rp 128.183.000
- 100 gram: Rp 256.265.000
- 250 gram: Rp 640.472.000
- 500 gram: Rp 1.279.440.000
Harga yang tercantum merupakan harga pada saat pemantauan dan dapat berubah sewaktu-waktu. Pembeli juga disarankan mengecek kembali harga terbaru sebelum melakukan transaksi melalui kanal resmi Pegadaian.
Harga Emas Dunia Anjlok 3%
Harga emas dunia turun pada perdagangan Senin dan berada di dekat level terendah dalam dua pekan. Investor mencermati meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) setelah komentar hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh.
Tekanan terhadap harga emas semakin kuat setelah lonjakan harga minyak kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Mengutip CNBC, Selasa (1/9/2026), harga emas spot turun 0,5% menjadi US$ 4.431,39 per ounce, setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak pertengahan Agustus.
Meski melemah, harga emas masih mencatat kinerja bulanan terkuat sejak Januari. Sepanjang Agustus, harga emas telah naik sekitar 9,6%.
Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Desember turun 1% menjadi US$ 4.482,60 per ounce.
Daniel Pavilonis, Senior Market Strategist di StoneX, mengatakan salah satu faktor utama yang menekan harga emas saat ini adalah meningkatnya suku bunga dan ekspektasi inflasi.
“Alasan terbesar saat ini adalah suku bunga yang lebih tinggi, ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, yang didorong oleh energi dan berkurangnya persediaan minyak,” kata Daniel Pavilonis.
Menurutnya, imbal hasil obligasi AS juga terus menguat, sementara dolar AS semakin kuat. Kondisi tersebut membuat posisi emas menjadi lebih rentan.
“Kemudian, imbal hasil obligasi AS terus menguat, dolar juga terus menguat. Saya pikir hal itu menempatkan emas dalam posisi yang cukup rentan,” tambah Pavilonis.
Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Capai 64%
Dolar AS masih berada di sekitar level tertinggi dalam dua pekan. Namun, sedikit pelemahan dolar pada perdagangan Senin membantu membatasi penurunan harga emas lebih lanjut.
Sebelumnya, harga emas anjlok lebih dari 3% pada Jumat, mencatat penurunan harian paling tajam sejak 10 Juni.
Penurunan tersebut terjadi setelah Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan sinyal bahwa para pembuat kebijakan mungkin perlu mengambil langkah lebih lanjut jika inflasi tidak kembali menuju target bank sentral sebesar 2%.
Komentar Warsh pada simposium Jackson Hole tersebut mendorong pelaku pasar meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada September kini diperkirakan mencapai sekitar 64%, naik signifikan dari sekitar 36% sebelum Warsh menyampaikan komentarnya.
Pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. Di antaranya laporan ketenagakerjaan ADP serta data nonfarm payrolls (NFP) Agustus.
Data tersebut akan menjadi petunjuk tambahan bagi investor untuk menilai kondisi perekonomian AS sekaligus memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed.