Liputan6.com, Jakarta - Jauh sebelum namanya mencuri perhatian dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Tgk KH Nuruzzahri Yahya atau yang akrab disapa Waled NU telah lama dikenal sebagai sosok yang dekat dengan dunia pendidikan dan kehidupan santri.
Ulama asal Mideun Jok, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, itu mendirikan Dayah Ummul Ayman pada 1990. Mulanya Ummul Ayman adalah panti asuhan yang menampung anak-anak yang kehilangan orang tua akibat konflik dan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh.
Advertisement
Dilansir dari situs Yayasan Ummul Ayman, gagasan mendirikan lembaga tersebut muncul ketika konflik membuat banyak anak-anak kehilangan anggota keluarga. Kondisi itu turut berdampak terhadap akses pendidikan anak-anak.
Waled NU kemudian menggagas tempat yang dapat menjadi ruang perlindungan sekaligus pendidikan bagi anak-anak korban konflik. Lembaga tersebut diberi nama Ummul Ayman, mengambil nama salah seorang pengasuh Nabi Muhammad SAW.
"Ummul Ayman akan jadi pelindung anak anak yatim dari keputusasaan dan keterlantaran," tulis Yayan Ummul Ayman menceritakan kisah Waled NU dikutip Liputan6.com, Selasa (1/9/2026).
Membangun tempat pendidikan untuk anak-anak korban konflik bukan perkara mudah. Waled NU memilih berada di sebelah timur kediamannya yang saat itu menjadi area terbengkalai.
Lahan tersebut merupakan bekas sungai yang dipenuhi ilalang dan digunakan warga sebagai tempat membuang sampah. Kedalamannya bahkan mencapai sekitar tiga meter dari badan jalan.
Dengan bantuan masyarakat, lahan tersebut diuruk secara bertahap. Sebuah bangunan sederhana kemudian berdiri di atas tanah wakaf seluas sekitar 300 meter persegi.
"Bangunan itu menjadi tempat pertama bagi anak-anak korban konflik untuk belajar mengaji sekaligus tinggal. Kondisinya masih jauh dari memadai. Ketika hujan deras turun, area di sekitar bangunan kerap dipenuhi air," tulis Yayasan Ummul Ayman.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan kegiatan para santri. Mereka belajar, memasak, dan makan bersama dalam kondisi sederhana.
Jumlah santri korban konflik kemudian terus bertambah. Mereka berasal dari sejumlah daerah di Aceh, termasuk Aceh Timur dan Pidie yang saat itu turut terdampak konflik.
Bagi Waled, anak-anak tersebut tidak hanya membutuhkan tempat tinggal, tetapi juga membutuhkan pendidikan dan lingkungan yang memberikan rasa aman setelah kehilangan keluarga.
Dari Panti Asuhan Menjadi Pesantren
Pada 1991, Ummul Ayman berkembang menjadi sebuah yayasan. Lembaga tersebut kemudian memiliki sejumlah bidang pelayanan, termasuk panti asuhan, sekolah, dan pesantren salafiah.
Seiring perkembangannya, pendidikan umum dan pendidikan dayah mulai dipadukan. Para santri tidak hanya mendapatkan pendidikan agama, tetapi juga memiliki akses terhadap pendidikan formal.
Konsep tersebut kemudian menjadi salah satu ciri pendidikan Ummul Ayman. Pendidikan dayah tetap menjadi bagian utama, tetapi para santri juga diarahkan memperoleh pendidikan umum.
Prinsip pendidikan tersebut dirangkum dalam ungkapan yang digunakan Waled NU, yakni “menyekolahkan santri, bukan menyantrikan siswa.”
Tsunami Kembali Menguji
Perjalanan Ummul Ayman kembali menghadapi tantangan besar ketika tsunami melanda Aceh pada Desember 2004. Bencana tersebut menyebabkan banyak keluarga kehilangan anggota keluarganya.
Anak-anak yang kehilangan orang tua kemudian berdatangan ke berbagai lembaga pendidikan dan pengasuhan, termasuk Ummul Ayman. Ummul Ayman saat itu belum memiliki asrama khusus bagi santriwati. Sekitar 40 anak perempuan korban tsunami akhirnya ditampung di rumah Waled NU.
Dua kamar di rumah tersebut digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus ruang belajar. Seiring waktu, jumlah santriwati terus bertambah.
Dalam sekitar satu tahun, jumlah santriwati mencapai 80 orang. Kondisi tersebut membuat fasilitas yang tersedia tidak lagi memadai.
Waled NU kemudian membeli lahan sekitar tiga hektare di sebelah selatan kompleks putra untuk mengembangkan fasilitas pendidikan dan asrama bagi santriwati. Hingga 2007, jumlah santriwati yang masih berusia anak-anak mencapai sekitar 100 orang.
Ummul Ayman tidak hanya menerima anak yatim. Anak-anak dari keluarga yang masih memiliki orang tua juga dapat belajar di sana dengan membayar biaya makan bulanan.
Skema tersebut turut membantu memenuhi kebutuhan anak-anak yatim yang tinggal dan belajar di pesantren.
Jejak Panjang hingga Muktamar NU
Puluhan tahun setelah mendirikan Ummul Ayman, nama Waled NU kembali menjadi perhatian dalam Muktamar ke-35 NU. Dalam proses pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), Waled NU memperoleh 477 suara dari muktamirin.
Perolehan tersebut menempatkannya di posisi kedua dari sembilan kiai yang masuk dalam tim AHWA. Perolehan suara Waled NU bahkan berada di atas KH Miftachul Akhyar yang mendapatkan 350 suara dan KH Said Aqil Siroj dengan 273 suara.
Perjalanan Waled NU sendiri tidak terlepas dari pendidikan pesantren. Sejak muda, ia menempuh pendidikan agama dan kemudian melanjutkan studi ke sejumlah pesantren, termasuk di Jombang, Jawa Timur.
Namun, salah satu jejak terbesarnya justru lahir dari persoalan yang dihadapi masyarakat Aceh. Ketika konflik membuat anak-anak kehilangan orang tua akibat konflik dan tsunami Aceh, ia membangun tempat bagi mereka untuk belajar dan tumbuh.
Kini, Waled mencetak sejarah sebagai ulama sepuh pertama dari Aceh yang terpilih menjadi anggota AHWA dalam Muktamar ke-35 NU.
Rakyat Tanah Rencong berbangga dan merasa terhormat ulama karismatik seperti Waled bisa kontribusi lebih besar bagi umat dan pendidikan keagamaan di Indonesia.