Harga Emas Dunia Anjlok 3%, Pasar Makin Yakin The Fed Naikkan Suku Bunga

Harga emas dunia turun hampir 3% setelah komentar Kevin Warsh mendorong pasar meningkatkan taruhan kenaikan suku bunga The Fed.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 01 September 2026, 07:20 WIB
Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia turun pada perdagangan Senin dan berada di dekat level terendah dalam dua pekan. Investor mencermati meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) setelah komentar hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh.

Tekanan terhadap harga emas semakin kuat setelah lonjakan harga minyak kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Mengutip CNBC, Selasa (1/9/2026), harga emas spot turun 0,5% menjadi US$ 4.431,39 per ounce, setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak pertengahan Agustus.

Meski melemah, harga emas masih mencatat kinerja bulanan terkuat sejak Januari. Sepanjang Agustus, harga emas telah naik sekitar 9,6%.

Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Desember turun 1% menjadi US$ 4.482,60 per ounce.

Daniel Pavilonis, Senior Market Strategist di StoneX, mengatakan salah satu faktor utama yang menekan harga emas saat ini adalah meningkatnya suku bunga dan ekspektasi inflasi.

“Alasan terbesar saat ini adalah suku bunga yang lebih tinggi, ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, yang didorong oleh energi dan berkurangnya persediaan minyak,” kata Daniel Pavilonis.

Menurutnya, imbal hasil obligasi AS juga terus menguat, sementara dolar AS semakin kuat. Kondisi tersebut membuat posisi emas menjadi lebih rentan.

“Kemudian, imbal hasil obligasi AS terus menguat, dolar juga terus menguat. Saya pikir hal itu menempatkan emas dalam posisi yang cukup rentan,” tambah Pavilonis.

Harga Minyak Melonjak

Harga minyak mentah naik lebih dari 3% pada perdagangan Senin setelah Amerika Serikat menyerang sebuah pulau milik Iran di Selat Hormuz.

Teheran menyatakan telah merespons serangan tersebut. Eskalasi ini semakin memperburuk konflik yang kini telah memasuki bulan ketujuh.

Lonjakan harga minyak menjadi perhatian pasar karena dapat meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi keputusan bank sentral AS dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Capai 64%

Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)

Dolar AS masih berada di sekitar level tertinggi dalam dua pekan. Namun, sedikit pelemahan dolar pada perdagangan Senin membantu membatasi penurunan harga emas lebih lanjut.

Sebelumnya, harga emas anjlok lebih dari 3% pada Jumat, mencatat penurunan harian paling tajam sejak 10 Juni.

Penurunan tersebut terjadi setelah Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan sinyal bahwa para pembuat kebijakan mungkin perlu mengambil langkah lebih lanjut jika inflasi tidak kembali menuju target bank sentral sebesar 2%.

Komentar Warsh pada simposium Jackson Hole tersebut mendorong pelaku pasar meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada September kini diperkirakan mencapai sekitar 64%, naik signifikan dari sekitar 36% sebelum Warsh menyampaikan komentarnya.

Pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. Di antaranya laporan ketenagakerjaan ADP serta data nonfarm payrolls (NFP) Agustus.

Data tersebut akan menjadi petunjuk tambahan bagi investor untuk menilai kondisi perekonomian AS sekaligus memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed.

 

Harga Perak, Platinum dan Palladium

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,4% menjadi US$ 66,1351 per ounce.

Meski terkoreksi, harga perak masih mencatat kenaikan sekitar 15% sepanjang bulan ini setelah pada Jumat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Juni.

Sementara itu, harga platinum turun 1,8% menjadi US$ 1.787,63 per ounce.

Harga palladium juga merosot hampir 4% menjadi US$ 1.365,09 per ounce.

Kedua logam tersebut masih berada di jalur untuk mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak Desember.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya