Liputan6.com, Yogyakarta - PSIM Yogyakarta resmi menggandeng Adidas sebagai penyedia apparel untuk mengarungi BRI Super League musim 2026/2027.
Dalam kolaborasi ini, Laskar Mataram memperkenalkan desain seragam tempur yang mengusung motif batik Parang sebagai identitas utama klub asal Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut.
Advertisement
Jersey kandang yang akan dikenakan skuad asuhan Jean-Paul van Gastel didominasi oleh warna biru. Sementara itu, untuk seragam tandang, tim memilih warna putih, dan jersey ketiga hadir dengan balutan warna kuning. Penggunaan motif batik Parang pada desain ini bukan sekadar elemen estetika, melainkan simbol keistimewaan klub.
Direktur Utama PSIM, Liana Tasno, mengungkapkan bahwa kehadiran motif tersebut merupakan hasil negosiasi yang cukup alot.
"Beberapa partner yang berpartner dengan Adidas itu mungkin enggak ada motifnya. Karena kenapa? Karena PSIM istimewa. Karena milik DIY, mesti ada batik Parang-nya," ujar Liana.
Perjuangan Membawa Identitas Lokal ke Apparel Global
Liana menuturka ia telah mendalami kultur klub sebelum menentukan konsep desain jersey. Ia menegaskan bahwa batik Parang harus menjadi bagian tak terpisahkan dari seragam PSIM, bahkan jika harus berhadapan dengan standar desain global dari pihak mitra.
"Saya sudah mempelajari dari culture PSIM, batik Parang itu sangat perlu diimplementasikan di jersey PSIM. Saya betul-betul nge-fight ke Adidas," kata Liana.
Ia menambahkan bahwa pihaknya secara proaktif mengajukan desain tersebut kepada Adidas untuk diimplementasikan, bukan sebaliknya.
Proses perizinan pun dilakukan dengan sangat serius untuk memastikan legalitas penggunaan motif tersebut.
"Adidas juga sempat tanya, 'Ini rights-nya batik itu ada di mana?' Kami mengurus perizinannya sampai HAKI, ke Kementerian apa Kebudayaan gitu, yang mempunyai peraturan mengenai rights batik tersebut," ungkapnya.
Penempatan Strategis dan Rencana Penjualan
Motif batik Parang akhirnya ditempatkan di bagian depan jersey, tepat di bawah area tiga setrip khas Adidas. Liana menjelaskan bahwa posisi tersebut dipilih agar identitas klub terlihat lebih menonjol dan memberikan kesan gagah bagi para pemain saat bertanding.
"Setrip Adidas itu identik banget dengan Adidas. Batik Parang identik banget dengan PSIM, makanya kami memang sengaja di-placement di situ," jelas wanita berusia 43 tahun tersebut.
Menurutnya, terdapat opsi lain di bagian bawah pinggang, namun ia menolak karena motif tersebut tidak akan terlihat jelas.
Terkait harga, jersey ini diperkirakan akan dibanderol di kisaran Rp700.000 hingga Rp800.000, dengan catatan angka final masih menunggu perhitungan pajak.
"Kalau harga kisaran Rp700-800 ribu karena kami belum hitung PPN, ada pajak yang harus kami bayarkan. Kan sekarang ini kami PT. Jadi, kurang lebihnya Rp700.000. Tapi, enggak mungkin lebih dari Rp800.000," kata Liana.
Manajemen menyarankan suporter untuk melakukan pemesanan lebih awal atau sistem pre-order (PO) guna mengantisipasi tingginya antusiasme. "Makanya PO dulu. Ini kayaknya pasti sudah padat juga PO-nya. Cuma ditanya saja ke store, bisa PO dulu dan DP dulu. Atau biar first come, first served, takutnya kehabisan," ucap Liana.