Terima Suap, Mantan Presiden Ekuador Divonis 5 Tahun Penjara

Mantan Presiden Ekuador, Lenín Moreno, divonis 5 tahun penjara atas kasus suap dari perusahaan China terkait proyek pembangkit listrik.

oleh Septian DenyDiterbitkan 29 Agustus 2026, 16:00 WIB
Mantan Presiden Ekuador Lenín Moreno dijatuhi hukuman 5 tahun penjara pada hari Jumat setelah pengadilan menyatakan dia bersalah menerima suap dari sebuah perusahaan Tiongkok sebagai imbalan atas bantuannya dalam mengamankan kontrak pembangunan pembangkit listrik tenaga air. (AP Photo/Dolores Ochoa)

Liputan6.com, Quito - Mantan Presiden Ekuador, Lenín Moreno, dijatuhi hukuman lima tahun penjara setelah pengadilan menyatakan dirinya terbukti menerima suap dari sebuah perusahaan China. Suap tersebut diberikan sebagai imbalan atas bantuan Moreno dalam mengamankan kontrak pembangunan pembangkit listrik tenaga air.

Dikutip dari Associated Press, Sabtu (29/8/2026), Moreno, yang hadir saat pembacaan putusan pada Jumat, kini berusia 73 tahun. Ia memiliki kondisi fisik yang membuatnya tidak dapat berjalan sehingga akan menjalani hukuman tersebut melalui tahanan rumah.

Pengadilan menyatakan Moreno merupakan peserta langsung dalam skema suap yang berlangsung ketika dirinya menjabat sebagai wakil presiden di bawah pemerintahan Rafael Correa.

Dalam kasus yang sama, istri dan putri Moreno, dua saudara laki-lakinya, serta seorang saudara iparnya dinyatakan bersalah sebagai kaki tangan. Istri dan putrinya masing-masing dijatuhi hukuman 30 bulan penjara.

Seluruh terdakwa juga diperintahkan mengembalikan uang hasil penerimaan ilegal sebesar tiga kali lipat dari jumlah yang mereka terima. Pembayaran tersebut harus dilakukan dalam waktu 90 hari.

Moreno menjadi mantan presiden Ekuador ketiga yang dijatuhi hukuman terkait kasus korupsi. Namun, perkara yang menjeratnya terjadi sebelum dirinya menduduki kursi kepresidenan.

Mantan Presiden Rafael Correa sebelumnya dijatuhi hukuman delapan tahun penjara pada 2020 dalam kasus suap yang melibatkan raksasa konstruksi asal Brasil, Odebrecht. Correa hingga kini tinggal di Belgia.

Mantan Presiden Jamil Mahuad juga divonis delapan tahun penjara pada 2014 karena penyalahgunaan dana publik. Sementara itu, mantan Presiden Abdalá Bucaram masih menunggu vonis setelah dinyatakan bersalah dalam kasus kejahatan terorganisasi.

 

Jejak Suap Proyek Pembangkit Listrik

Jaksa menyebut jaringan korupsi tersebut beroperasi sejak 2008 hingga 2018. Jaringan itu diduga mengumpulkan suap sebesar 4 persen dari nilai proyek yang dikerjakan Sinohydro.

Uang tersebut kemudian disalurkan melalui berbagai transaksi domestik dan internasional kepada pejabat publik serta penerima lainnya, termasuk Moreno.

Sinohydro mulai membangun pembangkit listrik tenaga air Coca Codo Sinclair dengan nilai sekitar US$2 miliar pada 2010. Proyek tersebut diserahkan kepada pemerintah Ekuador pada 2016.

Namun, pembangkit tersebut kemudian menghadapi kritik terkait adanya cacat struktural.

Dari Wakil Presiden hingga Presiden

Moreno, yang sebelumnya merupakan pengusaha di bidang pariwisata, mulai dikenal secara nasional pada 2007 ketika diangkat menjadi wakil presiden di bawah Rafael Correa, yang memimpin Ekuador selama satu dekade.

Moreno menjabat hingga 2013 sebelum posisinya digantikan Jorge Glas.

Pada 2017, Moreno memenangkan pemilihan presiden sebagai kandidat dari gerakan Correísta yang dibangun di sekitar Correa. Saat itu, Jorge Glas menjadi pasangannya dalam pemilihan.

Glas kemudian meninggalkan pemerintahan dan kini menjalani hukuman penjara atas kasus korupsi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya