Liputan6.com, Beijing: Di tengah derasnya mainan modern berbahan plastik atau besi, keluarga Tang tetap bertahan memproduksi mainan tradisional Cina. Hingga kini, keluarga tersebut secara turun temurun menjadi pengrajin mainan tradisional dan mengelola satu-satunya toko mainan tradisional di Beijing, Cina.
Di era teknologi yang sedemikian maju, toko tersebut tak lagi menyedot perhatian pengunjung. Namun, bagi pemilik toko Tang Qiliang tak ada kata menyerah. Di usianya yang ke-86, Tang tetap menekuni pekerjaannya sebagai pembuat mainan tradisional. Tangan-tangan tua Tang masih cekatan menghasilkan berbagai boneka dari tanah liat. Selain itu, ia juga membuat patung macan atau figur kelinci yang diangkat dari cerita rakyat dengan menggunakan bahan kayu.
Karena tidak mungkin bersaing dengan mainan modern, pemerintah setempat mengulurkan bantuan kepada Tang, dua tahun silam. Bersama salah satu putrinya, Tang Yujie, Tang mengubah rumahnya menjadi toko untuk turis dan kolektor. Kini, hasil kerajinan tangannya tak lagi hanya sebagai mainan, namun menjadi cendera mata khas Cina. Hasil karya Tang juga menjadi catatan kebudayaan klasik Cina.
Demi kelangsungan tradisi, Tang Yujie memutuskan untuk melanjutkan kiprah ayahnya sebagai pembuat mainan tradisional generasi kelima. Yujie juga berusaha agar tradisi ini tidak hanya diturunkan dalam satu keluarga. Namun, tampaknya kebanyakan rakyat Cina tidak lagi peduli dengan keberadaan mainan tradisionalnya. Bahkan, sebaliknya lebih melirik mainan modern yang diproduksi massal.(TOZ/Ijx)
Di era teknologi yang sedemikian maju, toko tersebut tak lagi menyedot perhatian pengunjung. Namun, bagi pemilik toko Tang Qiliang tak ada kata menyerah. Di usianya yang ke-86, Tang tetap menekuni pekerjaannya sebagai pembuat mainan tradisional. Tangan-tangan tua Tang masih cekatan menghasilkan berbagai boneka dari tanah liat. Selain itu, ia juga membuat patung macan atau figur kelinci yang diangkat dari cerita rakyat dengan menggunakan bahan kayu.
Karena tidak mungkin bersaing dengan mainan modern, pemerintah setempat mengulurkan bantuan kepada Tang, dua tahun silam. Bersama salah satu putrinya, Tang Yujie, Tang mengubah rumahnya menjadi toko untuk turis dan kolektor. Kini, hasil kerajinan tangannya tak lagi hanya sebagai mainan, namun menjadi cendera mata khas Cina. Hasil karya Tang juga menjadi catatan kebudayaan klasik Cina.
Demi kelangsungan tradisi, Tang Yujie memutuskan untuk melanjutkan kiprah ayahnya sebagai pembuat mainan tradisional generasi kelima. Yujie juga berusaha agar tradisi ini tidak hanya diturunkan dalam satu keluarga. Namun, tampaknya kebanyakan rakyat Cina tidak lagi peduli dengan keberadaan mainan tradisionalnya. Bahkan, sebaliknya lebih melirik mainan modern yang diproduksi massal.(TOZ/Ijx)