Liputan6.com, Jakarta - Asupan cairan yang cukup membantu mencegah pembentukan batu ginjal karena urine tidak terlalu pekat. Namun pada penyakit ginjal kronis tertentu, jumlah cairan justru dibatasi oleh dokter, sehingga takaran minum tidak bisa disamaratakan untuk semua kondisi ginjal.
Anjuran "minum delapan gelas air sehari" memang mudah diingat, tapi anjuran itu ditujukan untuk orang dengan fungsi ginjal yang masih normal. Begitu ginjal mulai bermasalah — entah karena riwayat batu ginjal atau penyakit ginjal kronis (PGK) — kebutuhan cairan tubuh berubah, dan arahnya bisa berlawanan tergantung kondisinya.
Advertisement
Pada kasus batu ginjal, memperbanyak minum umumnya dianjurkan karena membantu mengencerkan zat-zat pembentuk kristal dalam urine. Sebaliknya, pada penyakit ginjal kronis stadium lanjut atau pasien yang menjalani hemodialisis, ginjal yang sudah tidak mampu membuang kelebihan cairan justru membuat asupan air perlu dibatasi ketat agar tidak terjadi penumpukan cairan di tubuh. Artikel ini merangkum perbedaan takaran tersebut berdasarkan kondisi ginjal, lengkap dengan rujukan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI).
Kenapa Asupan Air Minum Penting bagi Kesehatan Ginjal
Ginjal bekerja menyaring darah dan membuang zat sisa metabolisme lewat urine. Ketika tubuh kekurangan cairan, urine menjadi lebih pekat sehingga mineral dan garam di dalamnya lebih mudah mengendap dan membentuk kristal atau batu ginjal. Kecukupan air putih membantu proses penyaringan ini berjalan lebih ringan dan menurunkan risiko tersebut.
Kemenkes menyebutkan kebutuhan air putih harian orang dewasa secara umum berkisar 2 liter atau setara delapan gelas per hari untuk mendukung fungsi ginjal dan organ tubuh lainnya. Ketua Umum PB PERNEFRI, dr. Pringgodigdo Nugroho, juga menegaskan angka serupa untuk dewasa sehat, dengan catatan kebutuhan tiap orang berbeda tergantung usia, aktivitas fisik, dan iklim tempat tinggal — misalnya lansia di atas 60 tahun disarankan cukup sekitar 1,5 liter per hari, tidak kurang maupun lebih.
Air Minum untuk Penderita Batu Ginjal
Bagi orang dengan riwayat batu ginjal, dokter umumnya menganjurkan asupan cairan lebih tinggi dari kebutuhan orang sehat pada umumnya, yaitu sekitar 2–3 liter per hari atau 8–12 gelas. Tujuannya agar volume urine yang dihasilkan cukup banyak untuk "membilas" saluran kemih dan mencegah kristal mineral mengendap kembali.
Patokan yang lebih akurat sebenarnya bukan volume air yang diminum, melainkan volume urine yang dihasilkan. Kemenkes menyebutkan bahwa pasien dengan riwayat batu ginjal umumnya dianjurkan mencapai keluaran urine sekitar 2,5 liter per hari, dan dokter biasanya meminta pasien memantau volume urine untuk memastikan target itu tercapai. Tinjauan pustaka yang dimuat Alomedika turut mencatat bahwa keluaran urine minimal 2,5 liter per hari bersifat protektif terhadap kekambuhan batu ginjal, meski disebutkan pula bahwa kualitas bukti ilmiah untuk klaim ini masih tergolong terbatas sehingga tidak bisa dijadikan patokan mutlak untuk semua orang.
Air putih tetap menjadi pilihan utama, tetapi cairan lain seperti air dari buah dan sayur berkadar air tinggi juga bisa membantu memenuhi kebutuhan ini. Minuman berkafein tinggi atau bersoda sebaiknya dibatasi karena sifat diuretiknya dapat memengaruhi keseimbangan cairan.
Berapa Liter Air Minum yang Dibutuhkan untuk Ginjal?
Karena kebutuhan cairan sangat bergantung pada kondisi ginjal seseorang, tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua orang. Tabel berikut merangkum kisaran umum yang banyak dijadikan acuan, namun tetap perlu disesuaikan dengan anjuran dokter secara individual.
| Kondisi Ginjal | Kisaran Takaran Cairan | Catatan |
|---|---|---|
| Dewasa sehat, fungsi ginjal normal | ≈2 liter/hari (8 gelas) | Disesuaikan dengan aktivitas fisik, iklim, dan usia |
| Lansia (>60 tahun) tanpa gangguan ginjal | ≈1,5 liter/hari | Tidak dianjurkan kurang maupun lebih dari angka ini |
| Riwayat/berisiko batu ginjal | 2–3 liter/hari, dengan target keluaran urine ≈2,5 liter/hari | Patokan utama adalah volume urine, bukan volume minum |
| Penyakit ginjal kronis (PGK)/hemodialisis | Volume urine 24 jam + 500 ml (dihitung per individu) | Cairan dibatasi ketat oleh dokter untuk mencegah penumpukan cairan |
Kapan Asupan Cairan Justru Perlu Dibatasi?
Pada penyakit ginjal kronis, terutama yang sudah memasuki stadium lanjut atau menjalani hemodialisis, ginjal tidak lagi mampu membuang kelebihan cairan secara efektif. Jika asupan cairan tetap tinggi, cairan akan menumpuk di tubuh dan memicu pembengkakan pada kaki atau wajah, sesak napas akibat cairan yang menumpuk di paru-paru, hingga beban berlebih pada jantung.
Kemenkes mencatat bahwa pada pasien hemodialisis, konsumsi cairan harian umumnya dihitung berdasarkan jumlah urine yang dikeluarkan dalam 24 jam ditambah sekitar 500 ml. Sebagai gambaran, jika seorang pasien menghasilkan 1.000 ml urine dalam sehari, maka total asupan cairan yang disarankan berkisar 1.500–1.750 ml per hari. Angka ini bersifat sangat individual karena bergantung pada stadium penyakit, sisa fungsi ginjal, serta ada-tidaknya kondisi penyerta seperti gangguan jantung.
Peringatan: Selalu Konsultasikan ke Dokter
Takaran-takaran di atas adalah gambaran umum, bukan resep baku. Kondisi ginjal setiap orang berbeda, dan salah menerapkan takaran cairan — baik kekurangan maupun kelebihan — bisa berdampak serius, khususnya bagi penderita penyakit ginjal kronis. Konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam atau nefrolog (spesialis ginjal) tetap diperlukan untuk menentukan takaran cairan yang tepat sesuai stadium penyakit dan hasil pemeriksaan. Segera cari pertolongan medis apabila muncul gejala penumpukan cairan seperti bengkak mendadak, sesak napas, atau kenaikan berat badan yang tidak wajar dalam waktu singkat.
Kesimpulan
Air minum berperan penting bagi kesehatan ginjal, tetapi arah anjurannya bisa berbeda tergantung kondisi. Pada orang sehat atau yang berisiko batu ginjal, memperbanyak minum umumnya dianjurkan untuk menjaga urine tetap encer. Sebaliknya, pada penyakit ginjal kronis, cairan justru perlu dibatasi sesuai perhitungan dokter. Memahami perbedaan ini membantu siapa pun mengambil langkah hidrasi yang tepat, alih-alih mengikuti anjuran umum yang belum tentu sesuai dengan kondisi ginjalnya sendiri.
(*)