Liputan6.com, Oslo - Raja Norwegia Harald V, yang semasa kecil mengungsi ke Amerika Serikat (AS) ketika negaranya diduduki Nazi dan kemudian menolak sejumlah perempuan bangsawan Eropa demi menikahi kekasihnya sejak sekolah, meninggal dunia pada Jumat. Ia berusia 89 tahun.
Istana Kerajaan Norwegia menyatakan Harald meninggal di Rumah Sakit Nasional di Oslo pada pukul 06.35 waktu setempat. Demikian seperti dilaporkan Associated Press.
Advertisement
Harald merupakan raja tertua di Eropa. Raja yang populer di kalangan masyarakat Norwegia itu memodernisasi keluarga kerajaan, tetapi memilih untuk tetap bertakhta, berbeda dengan sejumlah raja dan ratu lanjut usia di Eropa yang memutuskan turun takhta dalam beberapa tahun terakhir.
Sepeninggal Harald, putranya secara otomatis naik takhta sebagai Raja Haakon VIII.
Seperti keluarga kerajaan lainnya di Eropa, monarki Norwegia sebagian besar menjalankan peran simbolis. Keluarga kerajaan memiliki popularitas tinggi di tengah masyarakat, sementara kekuasaan politik di negara berpenduduk 5,5 juta jiwa itu berada di tangan parlemen yang dipilih melalui pemilu.
Harald naik takhta setelah ayahnya yang lahir di Inggris, Raja Olav V, meninggal pada Januari 1991. Masa pemerintahannya berlangsung ketika Norwegia mengalami lonjakan ekonomi yang ditopang industri minyak dan gas.
Mengungsi Saat Perang Dunia II
Harald lahir pada 1937 di Asker, dekat Oslo. Ia menjadi pangeran Norwegia pertama yang lahir di negaranya sendiri sejak Raja Olav IV pada 1370.
Selama berabad-abad setelah itu, Norwegia tidak memiliki raja sendiri hingga kakek Harald, Haakon VII, dipilih menjadi raja setelah persatuan antara Swedia dan Norwegia dibubarkan pada 1905.
Harald baru berusia 3 tahun ketika Nazi menduduki Norwegia pada awal Perang Dunia II. Agar tidak ditangkap, ibunya membawa Harald dan dua saudara perempuannya, Ragnhild dan Astrid, mengungsi. Mereka pertama-tama pergi ke Swedia, kemudian melanjutkan perjalanan dengan kapal ke AS.
Sementara itu, ayah dan kakek Harald mengungsi ke Inggris bersama pemerintah Norwegia.
Penolakan Haakon VII untuk memenuhi tuntutan Jerman pada masa pendudukan membuatnya mendapat penghormatan dari rakyat Norwegia.
Selama berada di AS, keluarga kerajaan Norwegia kerap menjadi tamu di Gedung Putih. Harald menjalankan tugas resmi pertamanya pada usia 6 tahun dengan menghadiri upacara penamaan pesawat-pesawat tempur baru di sebuah pangkalan udara Norwegia di Kanada.
Keluarga tersebut akhirnya kembali berkumpul di Norwegia pada Juni 1945, tidak lama setelah Perang Dunia II berakhir.
Harald kemudian menempuh pendidikan di sekolah umum, akademi militer Norwegia, serta Universitas Oxford.
Seperti ayahnya, yang merupakan juara Olimpiade cabang layar pada 1928, Harald memiliki kecintaan besar terhadap laut dan olahraga layar.
Ia mewakili Norwegia dalam sejumlah Olimpiade. Pada 1987, Harald juga menjadi nakhoda kapal layarnya ketika meraih medali emas dalam kejuaraan dunia.