Kekayaan CEO Wang Xinxing Tembus Rp 283,5 Triliun Usai Saham Unitree Naik 629%

CEO Unitree Wang Xingxing menjadi miliarder usai Forbes memperkirakan nilai saham Unitree, produsen robot humanoid.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 26 Agustus 2026, 21:15 WIB
Wang Xingxing, miliarder asal China, pemilik Unitree. (Getty Image via AFP/Kevin Frayer)

Liputan6.com, Jakarta - Peluncuran pasar Unitree Robotics, produsen robot humanoid asal China dengan penjualan terbesar di dunia, mengantarkan kekayaan bersih chairman dan CEO Unitree Robotics, Wang Xingxing menjadi US$ 16 miliar, atau Rp 283,5 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.720).

Saham perusahaan asal Hangzhou ini meroket 629% pada Rabu pekan lalu, memberikan perusahaan tersebut kapitalisasi pasar sebesar US$ 66 miliar, atau Rp 1.169 triliun, berdasarkan laporan South China Morning Post.

Melansir VnExpress, Rabu (26/8/2026), Wang (36) pertama menjadi miliarder pada awal Agustus saat Forbes memprediksikan nilai saham sebesar US$ 2,4 miliar, atau Rp 42,5 triliun. Unitree adalah produsen robot humanoid terbesar di dunia berdasarkan penjualan, tetapi berdasarkan pengiriman, dia tertinggal oleh AgiBot asal Shanghai.

Antusiasme investor naik saat pembeli bergabung dalam sebuah perusahaan teknologi unggulan nasional China.

Direktur Pelaksana Bank Investasi Chanson & Co, Shen Meng menuturkan, pasar ini meyakinkan potensi perusahaan di tengah dukungan pemerintah terhadap industri terkemuka, mulai dari robotik hingga semikonduktor.

"Kenaikan 629% ini sesuai ekspektasi,” ujar Shen, dikutip oleh Forbes.

"Namun, robot berbentuk manusia oleh Unitree biasanya digunakan untuk riset, pengajaran, dan pertunjukan,” ia menambahkan.

Dalam prospektus, Unitree menyoroti industri humanoid masih berada pada tahap awal komersialisasi. Dalam jangka pendek, humanoid miliknya akan digunakan untuk R&D dan pertunjukan panggung.

Tujuan jangka panjangnya adalah untuk membuat mereka membantu pekerjaan pabrik dan pekerjaan rumah saat biaya perangkat keras semakin menurun, dan kemajuan di bidang AI membuat mesin-mesin tersebut semakin cerdas.

Potensi dan Kendala Unitree

Pertunjukan tersebut memadukan elemen budaya tradisional dengan teknologi robotika canggih dari berbagai startup China seperti Unitree Robotics dan Booster Robotics. Tampak dalam foto, sebuah robot humanoid dengan pakaian merah meriah memberi isyarat di atas panggung sementara robot berkaki empat yang dilengkapi kepala singa kehilangan keseimbangan di latar depan selama hari kedua perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di sebuah pekan raya kuil di Beijing pada Rabu 18 Februari 2026. (AP Photo/Vincent Thian)

Potensinya bisa jadi fenomenal. Dipimpin oleh China dan AS, pengiriman global untuk humanoid diprediksi melonjak dari 20.000 unit pada tahun lalu ke 1,2 juta hingga 2030, menciptakan pasar senilai US$ 37 miliar, atau Rp 655,5 triliun dalam waktu kurang dari lima tahun, menurut laporan April dari BofA Global Research.

Seiring kemampuannya meningkat, mesin ini akan diterapkan secara bertahap dalam skenario industrial dan komersial dalam tiga hingga empat tahun mendatang, menurut laporan tersebut.

Pendapatan Unitree naik lebih dari 300% per tahun ke 1,7 miliar yuan China, atau Rp 4.4 triliun (asumsi yuan China terhadap rupiah di kisaran 2.635), sedangkan keuntungan bersihnya naik hampir 200% ke 278,2 juta yuan China, atau Rp 733,1 miliar, berdasarkan prospektusnya. Robot humanoidnya dipasarkan senilai 166.400 yuan China, atau Rp 438,4 juta.

Meski demikian, Unitree juga menghadapi kendala, termasuk risiko geopolitik, seiring perkembangannya. Administrasi Trump mengumumkan larangan impor humanoid dan robot anjing berkaki empat baru dari China pada bulan Juli.

 

 

 

Produk Robot Unitree

Pertunjukan tersebut memadukan elemen budaya tradisional dengan teknologi robotika canggih dari berbagai startup China seperti Unitree Robotics dan Booster Robotics. Tampak dalam foto, sebuah robot humanoid dengan pakaian merah meriah memberi isyarat di atas panggung sementara robot berkaki empat yang dilengkapi kepala singa kehilangan keseimbangan di latar depan selama hari kedua perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di sebuah pekan raya kuil di Beijing pada Rabu 18 Februari 2026. (AP Photo/Vincent Thian)

Perusahaan ini, yang meraup hampir dari 10% penjualannya melalui penjualannya di AS pada tahun lalu, mengatakan larangan ini tidak berlaku bagi produknya yang sudah terjual di AS, tetapi produk baru membutuhkan persetujuan oleh pemerintah AS.

Robot penari dari perusahaan ini telah menangkap perhatian warga China sejak penampilannya di gala Festival Musim Semi 2025-2026 di China.

Unitree juga meluncurkan robot berkecepatan tinggi, dengan julukan “Superman” sebelum peluncuran pasarnya. Robot ini bisa lompat setinggi dua meter dan memiliki kecepatan 12,66 meter per detik, melampaui rekor manusia, menurut Unitree.

Awal tahun ini, Unitree menghebohkan media sosial China saat mengumumkan GD01, sebuah robot yang dapat berubah, yang dapat menampung pilot manusia di kokpitnya. Robot ini diberi harga mulai dari US$ 650.000, atau Rp 11,5 miliar.

Dalam berkasnya, perusahaan tersebut mendeskripsikan produk ini sebagai alat yang mampu beradaptasi dengan lingkungan yang kompleks.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya