Singapura Ternyata Jadi Negara Paling Bising di Dunia, Ini Penyebabnya

Singapura mendapat skor rendah dalam indeks ketenangan global sebagai konsekuensi kehidupan modernya.

oleh Alfareza RamadhaniDiterbitkan 25 Agustus 2026, 21:00 WIB
Patung Merlion Singapura. (dok. Jisun Han/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Singapura dikenal sebagai salah satu destinasi wisata populer di Asia dengan sistem transportasi yang terintegrasi, kawasan perkotaan yang padat, serta berbagai atraksi yang dapat dikunjungi wisatawan.

Kondisi tersebut ternyata turut membuat negara ini dinobatkan sebagai negara terbising di dunia berdasarkan indeks perjalanan global terbaru.

Studi oleh agen perjalanan Go2Africa melalui Noise-Free Nations Index ini dilakukan untuk melihat negara mana yang menawarkan suasana paling tenang bagi wisatawan. Penilainnya mempertimbangkan sejumlah faktor yang berkaitan dengan tingkat kebisingan dan kepadatan suatu wilayah.

Singapura memperoleh Quiet Score sebesar 6,78 dari 100, menempatkannya di posisi terbawah dalam daftar negara dengan lingkungan yang dianggap tenang, melansir Time Out Singapore, Senin, 24 Agustus 2026.

Riset tersebut turut mempertimbangkan tujuh faktor, yaitu kepadatan penduduk, jumlah wisatawan, luas wilayah pedesaan, kawasan yang dilindungi, jumlah kendaraan bermotor, keberadaan bandara, serta jaringan kereta api.

Seluruh indikator tersebut digunakan untuk melihat seberapa besar peluang wisatawan menemukan suasana yang jauh dari hiruk-pikuk aktivitas modern.

Kondisi geografis Singapura menjadi salah satu alasan yang membuat berbagai aktivitas terkonsentrasi dalam wilayah relatif kecil. Ruang yang terbatas membuat permukiman, pusat bisnis, fasilitas transportasi, kawasan wisata, serta berbagai aktivitas perkotaan berada dalam jarak berdekatan.

Predikat sebagai negara paling bising bukan merupakan gambaran buruknya kualitas destinasi, melainkan menunjukkan konsekuensi dari sebuah negara yang sangat aktif dan terkoneksi.

Kepadatan Jadi Salah Satu Faktor Utama

Suasana Merlion Park saat kabut asap menyelimuti Singapura, Rabu (18/9/2019). Kebakaran hutan Indonesia menyebarkan kabut asap hingga Singapura dan Malaysia. Menurut BMKG, kabut asap akibat kebakaran hutan di Indonesia menyebar ke Malaysia dan Singapura karena terbawa angin. (Roslan RAHMAN/AFP)

Kepadatan penduduk menjadi salah satu indikator penting dalam Noise-Free Nations Index. Singapura memiliki konsentrasi penduduk yang tinggi dalam wilayah relatif kecil.

Infrastruktur transportasi turut berperan dalam hasil penelitian tersebut, seperti jaringan MRT, kendaraan bermotor, serta keberadaan bandara, yang menunjukkan tingginya mobilitas di negara tersebut.

Sekitar 30 persen wilayah rural Singapura turut mengurangi pilihan bagi wisatawan yang ingin mencari suasana sunyi.

Daftar lima negara dengan Quiet Score terendah juga memperlihatkan bahwa Singapura berada cukup jauh di posisi pertama. Maladewa menempati peringkat kedua dengan skor 8,48, disusul Barbados dengan 10,12. Qatar berada di posisi keempat dengan 15,45, sedangkan Lebanon melengkapi lima besar dengan skor 18,13.

Kehidupan Kota Membentuk Suasana Singapura

Ilustrasi Singapura (AP/Wong Maye-E)

Keberadaan berbagai fasilitas dalam area yang berdekatan membuat Singapura terasa sangat efisien bagi wisatawan. Perjalanan dari satu destinasi ke destinasi lain dapat dilakukan dengan relatif mudah karena jaringan transportasi dan fasilitas publik tersedia secara luas.

Kemudahan tersebut datang bersamaan dengan intensitas aktivitas yang tinggi. Predikat paling bising tidak berarti seluruh kawasan Singapura memiliki tingkat kebisingan yang sama. Kondisi lingkungan dapat berbeda berdasarkan lokasi, waktu, serta aktivitas yang berlangsung.

Kawasan bisnis, pusat transportasi, dan area dengan aktivitas wisata tinggi berpotensi memberikan pengalaman yang lebih ramai dibandingkan dengan ruang hijau atau area yang jauh dari pusat mobilitas.

Karakter tersebut menjadi bagian dari pengalaman berwisata di Singapura. Wisatawan yang datang untuk menikmati kehidupan kota justru dapat melihat tingginya aktivitas sebagai daya tarik tersendiri.

Bhutan Berada di Sisi Berlawanan

Suasana pemandangan alam Bhutan. (dok. Ugyen Tenzin/Unsplash)

Sisi berlawanan dari pemeringkatan tersebut ditempati oleh Bhutan. Negara di kawasan Himalaya itu memperoleh Quiet Score 89,44 dan menjadi negara paling tenang dalam Noise-Free Nations Index.

Lanskap alam menjadi salah satu karakter utama Bhutan. Hutan yang luas, pegunungan, serta lembah memberikan ruang yang jauh berbeda dari kawasan perkotaan padat seperti Singapura. Kondisi geografis tersebut membuat Bhutan memiliki lebih banyak area yang memungkinkan wisatawan menikmati suasana dengan tingkat aktivitas manusia yang lebih rendah.

Negara-negara Afrika juga mendominasi daftar destinasi paling tenang. Lebih dari separuh negara yang masuk dalam 25 besar berasal dari benua tersebut. Namibia berada di posisi kedua, disusul Botswana, Zambia, dan Gabon.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya