Top 3 Tekno: Aplikasi Android Pulse Sedot Perhatian

Aplikasi Android Pulse tiba-tiba muncul di daftar pembaruan Google Play Store, sehingga banyak pengguna merasa was-was.

oleh IskandarDiterbitkan 24 Agustus 2026, 11:00 WIB
Android Pulse. Iskandar/Liputan6.com

Liputan6.com, Jakarta - Aplikasi Android Pulse tiba-tiba muncul di daftar pembaruan Google Play Store. Uniknya, aplikasi ini hadir tanpa ikon resmi dan hanya menampilkan kotak kosong.

Informasi ini menyedot perhatian para pembaca di kanal Tekno Liputan6.com, Minggu (23/8/2026) kemarin.

Berita lain yang juga populer datang dari semakin banyaknya halaman web yang memiliki indikasi dibuat menggunakan AI.

Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com berikut ini.

1. Geger Aplikasi Android Pulse Muncul di Google Play Store, Berbahayakah?

Pengguna HP Android sempat dikejutkan dengan kemunculan aplikasi baru bernama Android Pulse di daftar pembaruan Google Play Store. Uniknya, aplikasi ini muncul tanpa ikon resmi dan hanya menampilkan kotak kosong.

Pantauan Tekno Liputan6.com di toko aplikasi Google, Minggu (23/8/2026), aplikasi ini belum muncul di Play Store untuk wilayah Indonesia--mungkin karena hanya diperuntukkan buat HP Android tertentu.

Meski bentuknya mencurigakan, Android Pulse bukanlah malware atau program berbahaya. Diwartakan 9to5google, Pulse merupakan aplikasi resmi besutan Google yang ditujukan untuk keperluan diagnosis sistem.

Apa Fungsi Android Pulse?

Dalam deskripsi resminya di Play Store, Google menjelaskan bahwa aplikasi ini bertugas memfasilitasi distribusi aturan untuk mendeteksi anomali pada konsumsi sumber daya sistem yang bersifat kritis, baik oleh sistem operasi Android maupun aplikasi yang terpasang.

Secara sederhana, Android Pulse bekerja di latar belakang tanpa antarmuka (user interface) yang bisa dibuka pengguna.

Aplikasi ini berfungsi sebagai alat diagnosis untuk memantau kesehatan perangkat, khususnya terkait penggunaan sumber daya penting seperti daya baterai, kinerja prosesor (CPU), dan memori (RAM).

Baca selengkapnya di sini

2. Konten AI Makin Marak, Begini Cara Kenali Chatbot

Ilustrasi AI sebagai gambaran otak manusia. (Foto: Unsplash/Steve Johnson)

Pernah membaca sebuah teks di internet dan merasa tulisan tersebut seperti dibuat oleh bot kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI)? Dugaan tersebut ternyata cukup mungkin benar.

Studi terbaru Pew Research menunjukkan semakin banyak halaman web yang memiliki indikasi dibuat menggunakan AI.

Temuan ini juga berkaitan dengan teori Dead Internet yang mulai ramai dibahas sejak 2021. Teori tersebut menyebut sebagian besar aktivitas dan konten di internet pada akhirnya akan didominasi oleh bot dan AI.

Dilansir CNET, Minggu (2322/8/2026), peneliti Pew Research menganalisis hampir 500.000 halaman web berbahasa Inggris selama lima tahun terakhir menggunakan data dari Common Crawl.

Peneliti juga menganalisis sampel 10.000 halaman web terbaru yang dikumpulkan pada Juli 2026.

Dalam penelitian tersebut, peneliti menggunakan alat pendeteksi AI Open Pangram. Alat ini digunakan untuk mencari frasa, kata, dan pola bahasa yang dianggap menjadi ciri khas tulisan yang dibuat AI.

Baca selengkapnya di sini

3. Benarkah Meta Pura-Pura Peduli Keselamatan Anak?

CEO Facebook Mark Zuckerberg (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Persidangan yang tengah berlangsung di California, Amerika Serikat, kembali menyoroti dugaan peran Meta dalam memperburuk krisis kesehatan mental anak-anak.

Para jaksa agung negara bagian mendesak Meta untuk bertanggung jawab atas dampak platform media sosialnya terhadap anak dan remaja.

Mantan insinyur keselamatan Meta, Arturo Béjar, memberikan kesaksian dalam persidangan tersebut. Ia menyebut perusahaan sengaja menerapkan kebijakan “jangan tanya, jangan beri tahu” terkait upaya menjaga keselamatan anak-anak di platformnya.

Dikutip dari Futurism, Minggu (23/8/2026), Béjar mengatakan Meta mengetahui bahwa platformnya dapat membahayakan anak-anak. Salah satu persoalan yang disorot adalah munculnya konten seperti kekerasan dan materi seksual dalam feed pengguna muda.

Menurut Béjar, Meta tidak segera mencari solusi meski telah memahami persoalan tersebut. Hal ini dinilai bertolak belakang dengan klaim perusahaan yang berulang kali menyatakan tidak menempatkan keuntungan di atas keselamatan pengguna.

“Tampaknya dia (Zuckerberg) menciptakan kesan palsu dan menyesatkan mengenai komitmen Facebook terhadap anak muda,” ujar Béjar dalam kesaksiannya.

Baca selengkapnya di sini

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya