Liputan6.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menargetkan pembahasan dua dokumen strategis dalam muktamar ke-35 NU yang digelar di Jombang, Jawa Timur. Dengan mengusung tema 'Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa', muktamar diharapkan menjadi momentum penting dalam mematangkan arah pembangunan NU menuju visi 2051.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya membeberkan, target pertama adalah roadmap 25 tahun NU, yaitu peta jalan integratif untuk memastikan seluruh lembaga dan badan otonom memiliki arah pembangunan organisasi yang selaras dalam jangka panjang.
Advertisement
Kedua, piagam nilai keulamaan, yakni dokumen panduan mengenai otoritas keilmuan dan otoritas dakwah yang ditujukan untuk membantu warga menghadapi derasnya informasi keagamaan di era digital sekaligus menjadi rujukan publik dalam mengenali penceramah dengan landasan sanad yang sah.
Gus Yahya menilai, pergerakan NU di abad kedua membutuhkan pendekatan tajdidut tajdid, atau pembaruan atas pembaruan, agar kebesaran organisasi dapat diimbangi dengan kapasitas kelembagaan yang semakin kuat.
Saat ini struktur NU mencakup 38 PWNU, 548 PCNU, sekira 7.000 MWC dan lebih dari 61.000 pengurus ranting di tingkat desa, dengan basis warga mencapai 57,2 persen dari populasi Muslim Indonesia.
“Kebesaran ukuran organisasi harus diimbangi dengan adaptasi administrasi modern. Digitalisasi dan standarisasi tata kelola adalah jalur mutlak agar NU tetap berdaya guna dan relevan melayani umat di tingkat akar rumput,” ujar Gus Yahya dalam keterangannya kepada wartawan, Minggu (23/8/2026)
Menurutnya, dalam lima tahun terakhir PBNU mendorong perubahan tata kelola agar kerja organisasi semakin ditopang oleh sistem yang terstandar dan dapat diterapkan secara konsisten di berbagai tingkatan.
Transformasi tersebut salah satunya dilakukan melalui platform digital Digdaya NU yang mendukung penguatan fungsi administrasi organisasi. PBNU juga mengintegrasikan layanan AI WhatsApp Chatbot untuk membantu kebutuhan administratif di tingkat cabang hingga ranting, terutama di wilayah dengan keterbatasan personel teknologi informasi.
Penguatan sistem berjalan bersamaan dengan pembangunan sumber daya manusia organisasi.
Program kaderisasi berjenjang seperti PD-PKPNU dan PMKNU telah meluluskan lebih dari 133.000 kader yang diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung penguatan organisasi.
Di tengah proses modernisasi tersebut, akar tradisi dan spiritualitas tetap dipertahankan melalui program Nasrus Sanad di Pesantren Tebuireng untuk menjaga keterhubungan sanad keilmuan dan tradisi keulamaan.
Selain penguatan organisasi di dalam negeri, PBNU juga memperluas jangkauan diplomasinya melalui penyelenggaraan berbagai forum internasional seperti Religion of Twenty (R20) dan ISORA, diplomasi dengan sejumlah negara, serta pengerahan aksi kemanusiaan global melalui LAZISNU.
Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas peran NU dalam membawa nilai Islam Rahmatan lil ‘Alamin ke ruang dialog internasional sekaligus memperkuat kontribusi organisasi terhadap berbagai persoalan kemanusiaan global.
Namun, orientasi global tersebut tetap ditempatkan dalam kerangka tanggung jawab NU terhadap Indonesia.
“Tidak bisa kita berpikir tentang NU, kecuali pada saat yang sama kita berpikir dan bertindak tentang Indonesia,” ucap Gus Yahya.
Selain itu, PBNU juga menggarisbawahi penguatan kemandirian ekonomi melalui unit usaha strategis Nuconomic yaitu gerakan dan ekosistem kemandirian ekonomi warga NU yang digagas oleh PWNU Jawa Timur.
Kemudian perluasan integrasi teknologi hingga tingkat desa untuk mendukung kemandirian organisasi yang halal dan transparan.