Harga Bitcoin Melesat 12% dalam 2 Hari, Clarity Act jadi Penopang

Harga bitcoin menguat sejak Rabu pekan ini didorong sejumlah sentimen salah satunya Clarity Act.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 21 Agustus 2026, 07:42 WIB
Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga bitcoin (BTC) diperdagangkan pada level tertinggi sejak Juni 2026. Kenaikan harga bitcoin didorong upaya terakhir dari Gedung Putih dan pemimpin industri kripto untuk meloloskan Clarity Act dalam beberapa pekan ke depan.

Mengutip CNBC, Jumat, (21/8/2026), harga bitcoin naik lebih dari 5% pada Kamis pekan ini menjadi US$ 72.383,99 atau Rp 1,28 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.760). Harga bitcoin mencapai level tertinggi sejak 1 Juni. Kenaikan ini menjadikan total lonjakan harga bitcoin selama dua terakhir mencapai 12%. Sebelumnya pada pekan ini, harga bitcoin diperdagangkan di kisaran level US$ 63.000 atau Rp 1,11 miliar.

Saham-saham terkait kripto turut bergerak naik. Saham Coinbase dan Circle masing-masing mencatat kenaikan sekitar 7% bersama dengan Strategy melanjutkan tren positif dari sesi perdagangan sebelumnya.

Reli harga ini bermula pada Rabu ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS (treasury yields) turun tajam, sehingga mengurangi tekanan terhadap aset berisiko. Hal ini memicu arus masuk modal yang lebih luas ke pasar kripto, yang kemudian diperkuat oleh fenomena short squeeze besar-besaran di mana posisi short kripto senilai sekitar US$ 2,7 miliar atau Rp 47,9 triliun dilikuidasi, menurut data CoinGlass.

Pada hari yang sama, Gedung Putih mengadakan pertemuan mendadak dengan para CEO perusahaan kripto terkemuka termasuk Coinbase, Kraken, Robinhood, Ripple, dan ChainLink. Dalam acara tersebut, Presiden Donald Trump mendesak Kongres untuk mengesahkan "versi yang adil" dari rancangan undang-undang (RUU) struktur pasar kripto yang dikenal sebagai Clarity Act sebelum akhir tahun. Pertemuan ini berlangsung menjelang rapat perdana Komite Penasihat Inovasi (Innovation Advisory Committee) milik Commodity Futures Trading Commission (CFTC) yang dijadwalkan pada Kamis.

"Kita membutuhkan Kongres untuk mengambil langkah selanjutnya dengan mengesahkan Clarity Act  versi yang adil dari Clarity Act," ujar Trump dalam pidato pembukaannya.

 "Ini adalah undang-undang terstruktur yang sangat kuat, yang akan menjaga posisi kita tetap unggul dibandingkan China dan negara-negara lain, serta membuka pintu bagi gelombang inovasi dan inovator berikutnya."

 

Clarity Act Jadi Katalis

Ilustrasi bitcoin (Foto: Unsplash/Aleksi Raisa)

Seruan Trump mengenai "versi yang adil" mencerminkan poin perdebatan dengan Partai Demokrat, yang mendesak adanya aturan etika lebih ketat untuk mencegah presiden dan pejabat publik lainnya mengambil keuntungan pribadi dari kripto; sementara itu, Partai Republik menolak ketentuan yang mereka anggap terlalu spesifik menyasar pihak tertentu atau terlalu membatasi ruang gerak.

Clarity Act secara luas dipandang sebagai katalis utama yang dapat mendorong pasar keluar dari periode "musim dingin kripto" (crypto winter) yang telah berlangsung sejak musim gugur tahun lalu.

Para investor mulai menganggap rancangan undang-undang tersebut praktis gagal untuk 2026 setelah Senat memasuki masa reses bulan Agustus tanpa melakukan pemungutan suara, ditambah dengan negosiasi yang masih menemui jalan buntu terkait ketentuan etika serta perbedaan lainnya antara Partai Republik dan Demokrat.

 

Sentimen Lainnya

Ilustrasi Bitcoin. (Foto: Unsplash/Thought Catalog)

Kegagalan untuk melampaui hambatan utama yaitu pemungutan suara prosedural pertama di Senat pada 15 September dapat secara efektif memupus peluang rancangan undang-undang tersebut tahun ini, mengingat adanya prioritas lain yang menyita perhatian menjelang pemilihan umum sela.

Bitcoin masih diperdagangkan sekitar 40% di bawah level tertingginya pada Oktober 2025 yang mencapai kisaran US$ 126.000 atau Rp 2,23 miliar.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya