Liputan6.com, Jakarta - PT Pintu Kemana Saja (PINTU) membidik pertumbuhan pasar trading derivatif kripto Indonesia melalui peluncuran Pintu Futures Lite dengan leverage hingga 25 kali.
Presiden Direktur PINTU, Andy Putra, mengatakan bahwa terdapat mekanisme transaksi derivatif dalam tiga langkah melalui fitur tersebut. Pengguna dapat membuka posisi Long atau Short, menentukan margin dan leverage, serta memasang Take Profit dan Stop Loss dalam satu alur transaksi.
Advertisement
“PINTU menghadirkan fitur Pintu Futures Lite sebagai pintu masuk bagi trader pemula maupun menengah yang ingin memulai trading derivatif kripto menggunakan leverage,” kata Andy di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Peluang pasar derivatif kripto Indonesia terlihat dari nilai transaksi yang mencapai Rp 4,4 triliun pada April 2026 berdasarkan data bursa kripto CFX. Secara global, volume perdagangan derivatif kripto juga mencapai US$ 12,7 triliun pada kuartal II 2026, jauh di atas volume perdagangan spot sebesar US$ 1,95 triliun.
Ia menilai tingginya aktivitas derivatif tersebut membuka ruang bagi perusahaan untuk memperluas basis pengguna melalui produk dengan mekanisme transaksi yang lebih sederhana.
“Kombinasi leverage yang dapat disesuaikan, manajemen risiko otomatis, dan tampilan single-screen yang sederhana menjadi keunikan tersendiri dari fitur Pintu Futures Lite di tengah lanskap trading derivatif kripto di Indonesia,” ujar Andy.
Leverage Hingga 25 Kali
Ia menyampaikan, pengguna bisa memilih posisi Long saat memperkirakan harga aset naik atau Short saat memperkirakan harga aset turun. Pengguna dapat menentukan leverage hingga 25 kali melalui slider sesuai toleransi risiko dan mengatur Take Profit serta Stop Loss setelah posisi terbuka.
PINTU juga akan memperluas pilihan aset dan fitur edukasi pada Pintu Futures Lite untuk meningkatkan penggunaan produk derivatif kripto.
Andy menegaskan leverage dapat memperbesar potensi keuntungan sekaligus meningkatkan risiko kerugian. “Trading futures dengan leverage memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kehilangan seluruh modal, sehingga kami selalu mengimbau pengguna untuk melakukan riset mandiri atau Do Your Own Research (DYOR) serta selalu mengelola risiko dengan baik sebelum bertransaksi,” kata Andy.