Ribuan Gempa Susulan dan Kecemasan Warga NTT yang Belum Usai

Yang paling membuat warga khawatir adalah ketika gempa terjadi pada malam hari.

oleh SupriatinDiterbitkan 19 Agustus 2026, 05:00 WIB
Tenda Darurat Korban Gempa di Kota Reo, Desa Salama, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, NTT. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Selasa malam, pukul 21.13 WITA. Fitri Tuti Darwanti (36) berada di dalam tenda pengungsian bersama suami dan kedua anaknya. Mereka tidak sendiri. Sejumlah warga lainnya juga menempati tenda darurat yang sama.

Tenda itu beratapkan terpal hijau. Penyangganya kayu seadanya. Di dalam, warga tidur beralaskan tikar dan kasur tipis. Mereka berhimpitan di ruang yang terbatas.

Sudah empat malam Fitri, suami, dan kedua anaknya tidur di tenda darurat. Sejak gempa bumi mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu lalu. Namun, Fitri tak bisa tidur nyenyak.

Matanya lebih sering terjaga. Gempa susulan yang masih terjadi membuatnya terus waspada. Setiap kali bumi berguncang, rasa takut kembali muncul.

"Kami sedih, takut, trauma, campur aduk. Mau masuk ke dalam rumah sendiri yang kami tinggali sehari-hari saja takut, takut tiba-tiba runtuh karena gempa selalu kunjungi kami setiap saat," cerita Fitri kepada Liputan6.com.

Aktivitas sehari-hari pun tak lagi tenang. Makan dan minum dilakukan dengan rasa khawatir. Bahkan untuk pergi ke toilet pun mereka masih waspada.

"Makan minum tidak tenang, pergi buang air saja tidak tenang, hanya kadang sedikit bercanda untuk mengisi waktu duka lara kami. Dan pastinya masih tetap bersyukur masih selamat," ujarnya.

Fitri tak bisa menghitung berapa kali gempa susulan terjadi. Namun, yang paling membuatnya khawatir adalah ketika gempa terjadi pada malam hari.

"Kami sangat takut kalau gempa malam hari, karena sangat berisiko. Dan kami tidak bisa tidur tenang istirahat malam," tuturnya.

Gempa Susulan Setiap Menit

Warga mencuci peralatan masak di samping tenda di sebuah lapangan terbuka di Marapokot, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Senin, 17 Agustus 2026, (AFP/ Juni Kriswanto)

Menurut Fitri, gempa susulan terasa hampir setiap menit. Warga pun mulai terbiasa dengan kondisi tersebut. Meski rasa takut belum hilang.

"Gempa hampir tiap menit. Istilahnya kami jadi berteman dengan gempa. Setiap malam kami begadang, biasanya bapak-bapak yang jadi penjaga, ibu-ibu baring sama anak-anak," katanya.

Karena gempa bisa datang kapan saja, malam hari pun dihabiskan dengan berjaga. Warga tidak lagi tidur seperti biasanya. Para bapak-bapak bergantian menjaga, sementara ibu-ibu memilih berbaring bersama anak-anak.

Ketika listrik padam, warga mencari penerangan seadanya. Para bapak-bapak berjaga sambil minum kopi dan menyalakan api unggun.

"Atau bakar obor kaya jaman dulu," ujar Fitri.

Saat ini, Fitri, suami, dan kedua anaknya mengungsi di tenda darurat yang tak jauh dari rumah mereka di Kota Reo, Desa Salama, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, NTT.

2.119 Gempa Susulan Hantui NTT

Warga beristirahat di bawah tenda di sebuah lapangan terbuka di Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Senin, 17 Agustus 2026, (AFP/ Juni Kriswanto)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat gempa susulan yang mengguncang NTT telah mencapai 2.119 kali. Data tersebut tercatat hingga Selasa (18/8/2026) pukul 16.00 WIB.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan aktivitas gempa susulan masih fluktuatif. Gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil mencapai magnitudo 1,3.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 24 gempa susulan memiliki magnitudo di atas 5. Sementara 70 gempa susulan dirasakan oleh masyarakat.

"Di atas magnitudo 5 ada 24 kali, sedangkan gempa susulan yang dirasakan sebanyak 70 kali," ungkap Berton.

Berton mengatakan aktivitas gempa susulan masih berpotensi terjadi karena pola peluruhan belum terlihat jelas. BNPB memperkirakan kondisi tersebut mulai stabil dalam dua hingga tiga pekan ke depan.

"Aktivitas gempa masih fluktuatif dan pola peluruhan belum terlihat jelas. Diperkirakan kondisi ini akan mulai stabil dalam 2 sampai 3 minggu ke depan," jelas Berton.

Korban Meninggal Capai 70 Orang

Petugas evakuasi korban gempa

Sementara itu, korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di NTT mencapai 70 orang.

Direktur Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Laksamana Pertama Yudhi Bramantyo, mengatakan total korban yang telah dikompilasi hingga Senin (17/8/2026) pukul 23.30 WITA mencapai 202 orang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 70 orang meninggal dunia dan 132 orang mengalami luka-luka. Rinciannya, 40 orang mengalami luka berat dan 92 lainnya luka ringan.

Memasuki hari keempat penanganan, Basarnas menyatakan tidak lagi menerima laporan mengenai warga yang masih dalam pencarian.

Tim SAR kemudian memfokuskan kegiatan pada penyisiran wilayah terdampak serta membantu proses pencarian dan pemulihan yang dilakukan BNPB.

Yudhi mengatakan keputusan tersebut diambil setelah tidak ada lagi laporan mengenai warga yang hilang atau masih dalam pencarian dari masyarakat di wilayah terdampak.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya