Sebelum Jadi Presiden, Bung Karno Pernah Ditawari Jepang Jadi Raja

Jauh sebelum menjadi presiden pertama Indonesia, Soekarno pernah mendapat tawaran menjadi raja. Jepang menyebut usulan itu mendapat dukungan rakyat Bali.

oleh Tim NewsDiterbitkan 18 Agustus 2026, 17:13 WIB
Bung Karno saat membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Ada satu tawaran yang pernah datang kepada Soekarno menjelang Indonesia merdeka, menjadi raja.

Tawaran itu muncul ketika posisi Jepang dalam Perang Dunia II semakin terdesak. Pada Maret 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta terbang ke Makassar untuk menghadiri pertemuan rahasia dengan pembesar tentara Jepang.

Pertemuan itu membicarakan masa depan Indonesia, termasuk bentuk pemerintahan yang akan dibangun setelah kemerdekaan. Di tengah pembicaraan tersebut, Jepang justru mengusulkan sesuatu yang tidak pernah menjadi cita-cita Soekarno, menjadikannya raja Indonesia.

Menurut Soekarno, pembesar Jepang bahkan mengklaim telah melihat dukungan rakyat Bali terhadap dirinya.

"Mereka mendesak agar Sukarno diangkat menjadi raja Indonesia," kata pembesar Jepang tersebut, sebagaimana dikutip Soekarno dalam biografinya Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams.

Bagi Jepang, tawaran itu mungkin terlihat sebagai jalan untuk mendapatkan dukungan politik Soekarno sekaligus menjaga pengaruh mereka di Indonesia.

Namun, Soekarno tidak tergoda. Dia menolak gagasan Indonesia menjadi kerajaan.

"Aku telah berjanji kami tidak menghendaki sebuah kerajaan. Aku selalu berbicara menentang bentuk lain kecuali republik," tegas Soekarno.

Penolakan itu bukan keputusan yang muncul tiba-tiba. Sejak jauh sebelum Jepang menduduki Indonesia, Soekarno telah membayangkan Indonesia sebagai sebuah republik.

Karena itu, ketika Jepang menawarkan posisi sebagai raja, ia memilih tetap pada gagasan politik yang selama bertahun-tahun disampaikannya kepada rakyat.

 

Jepang dan Janji Kemerdekaan

Gambar Naskah atau teks proklamasi yang diklaim tulisan tangan Bung Karno sebelum diketik dan dibacakan. (Istimewa)

Tawaran menjadi raja itu muncul ketika Jepang sebenarnya sedang berada dalam posisi sulit. Pada Juli 1944, Pulau Saipan yang strategis jatuh ke tangan Amerika Serikat. Kekalahan demi kekalahan membuat posisi Jepang di kawasan Asia-Pasifik semakin terdesak.

Dalam kondisi tersebut, Jepang mulai melunak terhadap Indonesia.

Pada 7 September 1944, Tokyo mengumumkan bahwa waktu pemberian kemerdekaan kepada Indonesia akan segera ditentukan.

Namun, janji itu tidak pernah benar-benar diwujudkan Jepang.

Indonesia akhirnya memproklamasikan kemerdekaannya sendiri pada 17 Agustus 1945.

Soekarno tidak menjadi raja.

Ia justru berdiri sebagai presiden pertama Republik Indonesia, bersama Mohammad Hatta sebagai wakil presiden.

Pilihan tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan gagasan republik yang telah diperjuangkan Soekarno jauh sebelum Proklamasi.

Kabar Proklamasi Menyebar ke Sumatera

Pengunjung mengamati diorama Bung Karno, Bung Hatta, dan Ahmad Soebardjo saat merumuskan naskah Proklamasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Setelah Proklamasi dibacakan di Jakarta, kabarnya mulai bergerak ke berbagai daerah, termasuk Sumatera.

Namun, penyebaran berita kemerdekaan tidak berlangsung mudah. Sejumlah radio di Sumatera menghentikan siaran sejak 15 Agustus 1945 sehingga warga terisolasi dari perkembangan dunia luar.

Di Bukittinggi, Ahmad Basya dan Asri Aidid Sutan Rajo Nan Sati menjadi bagian dari upaya menyebarkan kabar tersebut dengan mengetik ulang teks Proklamasi dan menempelkannya di sejumlah tempat.

Meski begitu, sebagian tokoh daerah masih diliputi keraguan.

Dukungan resmi dari Sumatera baru disampaikan pada 29 Agustus 1945, ketika Residen Sumatera Moehammad Sjafei membacakan "Permakloeman Kemerdekaan Indonesia" di Bukittinggi.

Pernyataan itu menegaskan pengakuan masyarakat Sumatera terhadap kemerdekaan Indonesia dan dukungan kepada Soekarno-Hatta.

Namun, perjalanan menuju pengakuan itu menunjukkan bahwa setelah teks Proklamasi dibacakan di Jakarta, perjuangan untuk membuat gagasan republik benar-benar diterima di berbagai daerah masih terus berlangsung.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya