Bursa Asia Dibuka Beragam, Hang Seng Naik 1,4 Persen

Bursa Asia bergerak variatif di tengah penguatan Wall Street dan penantian investor terhadap data ekonomi serta The Fed.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 17 Agustus 2026, 09:20 WIB
Seorang wanita berjalan melewati sebuah indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak terbatas pada perdagangan Minggu malam waktu setempat. Hal ini terjadi setelah indeks S&P 500 mencatat kenaikan selama tiga pekan berturut-turut meski berakhir melemah pada perdagangan Jumat.

Mengutip CNBC, Senin (17/8/2026), kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average naik 11 poin atau 0,02%. Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 naik 0,1% dan Nasdaq 100 menguat 0,2%.

Pergerakan tersebut menjadi perhatian pasar Asia pada awal pekan. Pada perdagangan Senin, bursa Asia bergerak beragam.

Indeks Nikkei 225 Jepang bergerak datar. Sementara itu, indeks acuan S&P/ASX 200 Australia turun 0,23%.

Di Hong Kong, Hang Seng Index menguat 1,4%. Sedangkan indeks CSI 300 China di bursa China daratan naik tipis 0,13%.

Adapun pasar saham Korea Selatan ditutup karena hari libur.

Wall Street sebelumnya mencatat penguatan selama tiga pekan berturut-turut untuk indeks S&P 500. Indeks tersebut kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada pekan lalu setelah musim laporan keuangan perusahaan yang kuat mendorong sentimen investor.

Pasar saham AS juga terus menguat meski ketegangan di Timur Tengah masih berlangsung. Kekhawatiran investor terkait perdagangan saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga belum sepenuhnya hilang.

 

Rilis Federal Reserve

Orang-orang berjalan melewati sebuah indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Mark Hackett, Chief Market Strategist di Nationwide, menilai investor semakin nyaman dengan kondisi pasar saat ini.

“Investor tampaknya semakin nyaman dengan kondisi saat ini, sehingga para investor bearish memiliki semakin sedikit narasi untuk diperdebatkan,” tulis Hackett pada Jumat.

“Semakin banyak ujian yang berhasil dilewati oleh investor bullish, semakin percaya diri mereka untuk mendorong pasar saham lebih tinggi,” lanjutnya.

Pekan ini, investor akan menghadapi agenda ekonomi yang relatif lebih sedikit dibandingkan pekan sebelumnya. Meski demikian, sejumlah katalis penting tetap akan menjadi perhatian pasar.

Federal Reserve dijadwalkan merilis risalah rapat terbarunya pada Rabu. Dokumen tersebut akan menjadi perhatian investor untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS.

 

Dari sisi ekonomi, investor akan mencermati sejumlah data penting, termasuk Empire State Manufacturing Index untuk Agustus.

Pasar juga akan memperhatikan NAHB Housing Market Index untuk Agustus sebagai salah satu indikator kondisi sektor perumahan AS.

Perkembangan data ekonomi dan laporan keuangan perusahaan tersebut akan menjadi perhatian investor dalam menentukan arah perdagangan pasar saham pada pekan ini.

 

Ekonomi Jepang Tumbuh 1,1 Persen

Tampak dalam foto, orang-orang menyeberang jalan di Tokyo pada 4 Agustus 2025. (Kazuhiro NOGI/AFP)

Sementara itu, perekonomian Jepang tumbuh 1,1% secara tahunan pada kuartal II. Pertumbuhan tersebut berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 2%.

Pertumbuhan ekonomi Jepang yang lebih rendah dari perkiraan terjadi karena permintaan domestik yang lebih lemah mengimbangi kuatnya ekspor.

Pada kuartal sebelumnya, ekonomi Jepang tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 2,1%.

Jika dihitung secara tahunan atau year-on-year (yoy), ekonomi Jepang tumbuh 0,7%. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan 0,5% pada kuartal I.

Kuartal II menjadi periode pertama yang secara penuh mencakup dampak perang Iran. Konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga energi yang berdampak terhadap dunia usaha dan rumah tangga.

Ekspor menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Jepang. Pengiriman barang dari Jepang melampaui ekspektasi selama tiga bulan pada kuartal tersebut.

Namun, peningkatan ekspor tersebut turut didukung oleh pelemahan yen, bukan semata-mata karena meningkatnya volume pengiriman barang.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya