Liputan6.com, Jakarta - CEO Meta Mark Zuckerberg baru-baru ini menerbitkan surat terbuka sepanjang 6.500 kata berjudul "The Future is for Everyone" atau "Masa Depan untuk Semua". Tulisan tersebut menjadi manifesto terbaru dari bos perusahaan teknologi yang menyampaikan pandangannya mengenai besarnya potensi kecerdasan buatan (AI).
Bagi sebagian orang, tulisan Zuckerberg merupakan ungkapan optimisme terhadap masa depan AI. Namun, bagi sebagian lainnya, manifesto tersebut tidak lebih dari strategi hubungan masyarakat yang dibuat dalam bentuk tulisan panjang.
Advertisement
Dikutip dari BBC, Senin (17/8/2026), Zuckerberg bukan satu-satunya bos teknologi yang menyampaikan visi besarnya tentang AI. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pemimpin perusahaan teknologi juga membuat manifesto yang menjelaskan mengapa AI akan menjadi teknologi paling penting di masa depan.
Visi mereka memiliki kesamaan. Teknologi yang sedang mereka kembangkan dianggap sebagai salah satu inovasi paling penting dalam sejarah manusia.
Marc Andreessen, salah satu pendiri Netscape, perusahaan pelopor internet, mungkin menjadi salah satu tokoh yang memulai tren tersebut pada 2023.
Saat itu, Andreessen menerbitkan esai sepanjang sekitar 5.000 kata berjudul "The Techno-Optimist Manifesto". Ia berpendapat bahwa inovasi merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan manusia.
“Jadi sekarang mereka menulis manifesto?” demikian kesan yang muncul ketika melihat tren tersebut.
Dalam tulisannya, Andreessen mengawali pembahasan dengan berbagai hal yang menurutnya keliru dan meminta pembaca untuk melawannya.
"Kami percaya pertumbuhan adalah kemajuan – yang mengarah pada vitalitas, perluasan kehidupan, peningkatan pengetahuan, dan kesejahteraan yang lebih tinggi," tulisnya.
Zuckerberg Ikut Bicara Optimistis soal AI
Manifesto terbaru Zuckerberg tidak menyebut tokoh tertentu. Namun, bos Meta tersebut memiliki pola yang mirip dengan Andreessen dengan mempertanyakan pandangan orang-orang yang memperingatkan dampak negatif teknologi di masa depan.
"Mengejutkan bahwa diskursus dari banyak pihak yang mengembangkan AI begitu dipenuhi dengan pandangan buruk," tulis Zuckerberg.
Pandangan tersebut muncul di tengah peringatan Dana Moneter Internasional (IMF) bahwa AI berpotensi memengaruhi hampir 40 persen pekerjaan dan memperburuk ketimpangan ekonomi global.
Meski demikian, Zuckerberg justru meyakini masa depan akan tetap menyediakan banyak lapangan pekerjaan.
"Saya tidak mengerti mengapa siapa pun yang percaya bahwa AI akan menghilangkan sebagian besar pekerjaan dan sebagian besar relevansi manusia justru terburu-buru membangun masa depan tersebut."
Pernyataan itu menarik perhatian karena Meta sendiri telah memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya atau sekitar 8.000 pekerjaan dalam proses reorganisasi perusahaan yang berfokus pada AI.
Manifesto Zuckerberg menjadi tulisan terbaru dari para pemimpin perusahaan teknologi yang berusaha memberikan sudut pandang positif mengenai perkembangan AI.
Pada 2024, CEO OpenAI Sam Altman juga menerbitkan manifesto berjudul "The Intelligence Age" atau "Era Kecerdasan". Tulisan tersebut berisi pandangan optimistis mengenai potensi teknologi AI.
Altman memprediksi perkembangan teknologi akan mempercepat kemajuan manusia secara signifikan.
"Kita perlu bertindak dengan bijaksana tetapi dengan keyakinan," ujarnya.
Pada tahun yang sama, CEO Anthropic Dario Amodei menerbitkan manifesto berjudul "Machines of Loving Grace". Ia menguraikan potensi AI untuk mengubah berbagai bidang, mulai dari layanan kesehatan hingga politik.
Amodei mengatakan tulisannya merupakan upaya untuk membagikan berbagai manfaat yang mungkin dihasilkan AI. Ia juga tidak ingin dipandang sebagai pihak yang hanya melihat sisi buruk atau ancaman AI.
Bukan Pertama Kali Zuckerberg Menulis Manifesto
Zuckerberg sebenarnya bukan orang baru dalam membuat tulisan panjang untuk menjelaskan visi dan pandangan perusahaan.
Pada masa pemerintahan pertama Presiden AS Donald Trump, Zuckerberg pernah menulis mengenai berbagai persoalan sulit, termasuk penyebaran misinformasi di platform milik Meta.
Ia juga pernah menulis untuk menjelaskan keputusan kontroversial Meta mengubah fokus perusahaan ke metaverse pada 2021.
Namun, menurut blogger ekonomi Noah Smith, taruhannya kini jauh lebih besar pada era AI. Karena itu, komentar dari para eksekutif teknologi juga memiliki arti yang lebih penting.
"Saya pikir mereka semua merasa bahwa ini adalah momen yang sangat penting sehingga mereka merasa perlu melakukan apa pun yang mereka bisa untuk membentuk arah perkembangan teknologi ini," kata Smith.
Manifesto terbaru Zuckerberg juga mengumumkan rencana Meta untuk membagikan perangkat AI secara lebih terbuka. Artinya, desain atau kode di balik teknologi tersebut akan tersedia untuk publik sehingga siapa pun dapat melihat, menggunakan, dan mengubahnya.
Keputusan mengenai apakah perangkat AI sebaiknya dibuat open source atau sumber terbuka memiliki konsekuensi besar karena teknologi tersebut berpotensi disalahgunakan.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah model AI yang sangat kuat dilaporkan berhasil meretas situs web. Sebagian pihak bahkan menggambarkannya sebagai AI yang "menjadi liar".
Model-model tersebut merupakan AI yang sangat kuat dan bukan model yang dibuat secara open source. Namun, perkembangan tersebut menimbulkan pertanyaan serius bagi Smith.
"Haruskah kita membuka sumber sesuatu yang memiliki kemampuan untuk membunuh umat manusia?" tanyanya.
"Jika Anda tidak menganggap serius hal itu, Anda hanyalah orang bodoh."
Karena itulah Smith menilai manifesto para bos teknologi tetap penting, meskipun sebagian pengguna internet menjadikannya bahan candaan.
Perhatian terhadap manifesto tersebut juga meningkat ketika pasar AI open source saat ini semakin banyak diisi oleh model AI asal China, seperti Qwen, DeepSeek, dan GLM.
Manifesto Juga Jadi Cara Bangun Citra
Di sisi lain, semakin seringnya para eksekutif teknologi menerbitkan manifesto juga dapat menjadi cara untuk menempatkan diri dan perusahaan mereka dalam perdebatan mengenai masa depan teknologi.
"Ini adalah cara untuk menunjukkan betapa cerdasnya Anda," kata Rob Lalka, profesor bisnis di Tulane University.
Menurutnya, para eksekutif perusahaan telah lama menggunakan blog korporasi untuk menyampaikan gagasan dan membangun citra sebagai sosok yang tidak hanya berstatus pengusaha, tetapi juga pemikir mengenai masa depan.
"Mereka mencoba memperjuangkan optimisme sebagai cara untuk melihat masa depan," ujarnya.
Lalka menilai waktu penerbitan manifesto Zuckerberg juga tidak kebetulan. Saat ini, kemarahan publik terhadap dampak AI semakin meningkat, mulai dari ancaman terhadap lapangan pekerjaan hingga persoalan lingkungan.
Para jurnalis teknologi dan akademisi mungkin akan membaca manifesto tersebut secara mendalam untuk mencari berbagai gagasan penting. Namun, tulisan semacam itu belum tentu mendapat perhatian yang sama dari masyarakat luas.
"Mereka mencoba meyakinkan bahwa sisi positifnya akan jauh lebih besar dibandingkan sejumlah dampak negatif yang disoroti dalam penolakan publik," katanya.
"Namun, saya pikir banyak alasan untuk optimistis tersebut masih belum terbukti."