Sosok Berkerudung di Foto Proklamasi, Siapa Dia?

Sosok perempuan berkerudung dalam foto pengibaran bendera 17 Agustus 1945 kerap menimbulkan pertanyaan. Siapa dia?

oleh Tim NewsDiterbitkan 16 Agustus 2026, 08:03 WIB
Prosesi pengibaran bendera pusaka pertama saat proklamasi kemerdekaan RI digelar. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah suasana pengibaran bendera Merah Putih pada 17 Agustus 1945, ada satu sosok perempuan berkerudung yang menarik perhatian. Ia berdiri tak jauh dari tiang bendera dalam foto bersejarah yang diabadikan fotografer Mendur bersaudara.

Siapa perempuan tersebut?

“Itu Ibu Fatmawati,” kata pemerhati sejarah Hendi Jo saat dihubungi merdeka.com.

Nama Fatmawati memang tidak bisa dipisahkan dari kisah bendera pusaka dan upacara kemerdekaan pertama Indonesia. Istri Soekarno itu dikenal sebagai sosok yang menjahit sendiri bendera Merah Putih yang kemudian dikibarkan dalam upacara 17 Agustus 1945.

Fatmawati juga kerap tampil mengenakan kerudung dalam berbagai kesempatan publik. Karena itu, Hendi memastikan sosok perempuan dalam foto tersebut bukanlah SK Trimurti, sebagaimana kerap disebut dalam sejumlah keterangan.

“Di acara-acara publik, Fatmawati tampil dengan kerudung. Sosok tersebut adalah Fatmawati, bukan SK Trimurti,” ujar Hendi.

Kesaksian Fatmawati dalam catatan biografinya juga membawa kita kembali ke pagi 17 Agustus 1945.

Saat itu, ratusan orang telah berkumpul di halaman rumah Soekarno di Pegangsaan Timur, Jakarta. Soekarno dan Mohammad Hatta bersiap membacakan teks proklamasi yang akan menandai lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka.

Namun, ada satu persoalan yang muncul menjelang upacara.

Belum ada bendera Merah Putih.

 

 

Bendera yang Dijahit Fatmawati

Dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984) karya Lasmidjah Hardi, alasan Presiden Sukarno memilih tanggal 17 Agustus sebagai waktu proklamasi kemerdekaan adalah karena Bung Karno mempercayai mistik. (Dok.Arsip Nasional RI)

Fatmawati kemudian kembali ke kamarnya untuk mengambil bendera Merah Putih yang sebelumnya ia jahit dengan tangan.

Di saat yang sama, Shodanco Latief Hendraningrat mempersiapkan upacara pengibaran bendera.

Sebelum pembacaan proklamasi, Soekarno menyampaikan pidato singkat. Bagi Fatmawati, pidato tersebut terasa berbeda dibandingkan pidato-pidato Bung Karno pada hari-hari sebelumnya maupun sesudahnya.

“Pidato Bung Karno saat itu lebih berapi-api daripada pidato-pidato hari-hari sebelumnya, atau hari-hari sesudahnya,” kenang Fatmawati dalam buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno.

Setelah teks proklamasi dibacakan, upacara pengibaran bendera pun dimulai.

Tak ada kemegahan seperti upacara kenegaraan yang dikenal sekarang. Tiang bendera dibuat sederhana. Shodanco Latief baru saja menancapkannya. Bahannya bambu, bentuknya kasar, dan ukurannya tidak terlalu tinggi.

Di tengah kesederhanaan itulah, Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan dalam upacara kemerdekaan Republik Indonesia.

Fatmawati turut berada di sana.

Dalam kesaksiannya, ia mengingat kembali momen ketika berjalan menuju tiang bendera bersama SK Trimurti.

“Aku bersama-sama SK Trimurti menuju ke tiang bendera. Upacara dipimpin Pak Latief, dengan diiringi lagu Indonesia Raya, tanpa musik,” kenang Fatmawati.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya