Sejarah Gempa Dahsyat di Bali hingga Nusa Tenggara Akibat Sesar Naik Flores

Semua aktivitas gempa di NTT menunjukkan kaitan erat dengan aktivitas Sesar Naik Flores.

oleh Raynaldo Ghiffari LubabahDiterbitkan 15 Agustus 2026, 14:08 WIB
Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi. Gempa berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Liputan6.com, Jakarta - Gempa besar berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) pagi. Gempa ini diduga kuat akibat pergerakan Sesar Naik Flores. Pulau Flores bagian utara paling banyak terdampak karena gempa berpusat di Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust merupakan sistem sesar naik yang berada di dasar laut di sebelah utara Pulau Flores. Struktur ini memanjang ratusan kilometer hingga kawasan Sumbawa, Lombok, dan Bali.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono mengatakan data sebaran episentrum gempa utama, dan susulan membentuk kluster pada arah barat-timur paralel dengan jalur Sesar Naik Flores.

Data aktivitas gempa signifikan di Flores menunjukkan mekanisme sesar naik dengan sudut kemiringan sesar ke arah selatan. Semua aktivitas gempa menunjukkan kaitan erat dengan aktivitas Sesar Naik Flores.

"Hasil analisis sementara terhadap data Gempa Flores hari ini menunjukkan ada keterkaitan erat dengan aktivitas Sesar Naik Flores," kata Daryono dalam keterangannya.

Daryono mencatat, Sesar Naik Flores pernah memicu 5 gempa kuat dan sebagian diantaranya memicu tsunami pada busur Bali dan Nusa Tenggara. Catatan tertua adalah gempa berkekuatan M 7,0 yang memicu tsunami di Bali utara dan Lombok pada 22 November 1815.

Berikutnya, gempa kuat M 7,5 di Bima pada 28 November 1836. Gempa M 7,0 juga memicu tsunami di Bali dan Lombok pada 13 Mei 1857. Selanjutnya, gempa dahsyat berkekuatan M 6,6 mengguncang Seririt, Bali, pada 14 Juli 1976.

Parameter tercatat dengan baik karena saat itu kita sudah memiliki jaringan seismograf. Gempa Seririt merusak 67.419 rumah dan menelan korban jiwa 559 orang di Bali.

Berikutnya gempa Flores, 12 Desember 1992, berkekuatan M 7,8 memicu tsunami dan menelan korban jiwa lebih dari 2.500 orang. Terakhir adalah gempa kuat di Lombok yang masih terjadi gempa susulannya.

"Catatan gempa kuat dan tsunami masa lalu di atas menjadi bukti akan aktifnya Sesar Naik Flores," ujar Daryono.

 

Waspada Sesar Naik Flores

Daryono mengingatkan, gempa hari ini menjadi pengingat kepada masyarakat untuk selalu waspada terhadap ancaman yang muncul akibat Sesar Naik Flores.

"Ke depan, potensi gempa di kawasan utara Bali hingga Nusa Tenggara yang bersumber dari Sesar Naik Flores tetap ada dan patut diwaspadai karena ini adalah ancaman gempa dan tsunami yang permanen," jelas Daryono.

Gempa ini, kata Daryono juga memberikan pelajaran tentang pentingnya strategi mitigasi gempa yang tepat sehingga dampak korban dan kerusakan bisa diantisipasi.

"Melihat banyaknya bangunan rumah yang rusak, penting ada upaya nyata dan serius dalam merealisasikan bangunan tahan dan aman gempa. Jika tidak, setiap terjadi gempa kuat, masyarakat akan terus menjadi korban," tutup Daryono.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya