Dari Terlilit Utang, Rini Bangkit Lewat Gitar

Sempat hidup dalam tekanan tagihan, Rini perlahan bangkit dan menemukan harapan baru dari usaha gitar buatannya.

oleh Tim RegionalDiterbitkan 13 Agustus 2025, 20:56 WIB
Rini Sudarwanti, pembuat gitar yang mendapat bantuan modal dan mampu bangkit dari keterpurukan. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Bagi Rini Sudarwanti, membuat gitar bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Ada cerita panjang di balik setiap gitar yang dibuatnya, termasuk masa ketika ia harus berjuang keluar dari tekanan utang demi mempertahankan kehidupan keluarganya.

Tahun 2021 menjadi salah satu periode paling berat bagi Rini. Usaha makanan matang yang dijalankannya sedang sepi. Sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan. Dalam kondisi itu, ia sempat terjerat pinjaman dari rentenir. Tagihan yang datang hampir setiap hari membuat hidupnya semakin tertekan.

“Saat itu saya benar-benar merasa berat. Usaha sedang sepi, sementara tagihan terus datang. Saya hanya berpikir bagaimana caranya keluar dari masalah dan bisa kembali menjalankan usaha,” cerita Rini.

Di tengah situasi tersebut, Rini mulai mencari jalan untuk kembali menjalankan usahanya. Ia kemudian memanfaatkan pembiayaan dari PNM Mekaar sebagai modal.

Pelan-pelan, usahanya kembali bergerak.

Namun, Rini tidak berhenti pada usaha makanan. Ia kemudian mencoba mengembangkan kerajinan gitar handmade. Kayu menjadi bahan utama yang diolahnya dengan teliti hingga menjadi gitar dengan bentuk dan karakter yang khas.

Dari usaha yang awalnya dirintis sedikit demi sedikit itu, Rini kemudian mengembangkan aktivitas lainnya dengan menjadi AgenBRILink Mekaar.

Perjalanannya bersama PNM juga tidak hanya berkaitan dengan pembiayaan. Rini mengikuti sejumlah kegiatan pemberdayaan, mulai dari pelatihan usaha hingga pameran UMKM.

Ia bahkan berhasil masuk dalam 50 besar program inkubasi bisnis Mekaarpreneur 2026.

Bagi Rini, pengalaman tersebut membuatnya mendapatkan sesuatu yang tidak kalah penting dari modal: keberanian untuk mencoba dan kepercayaan diri untuk mengembangkan usaha.

“Buat saya, PNM bukan hanya memberikan modal. Saya juga mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan usaha. Saya jadi lebih berani mencoba, lebih percaya diri, dan punya semangat untuk terus maju,” ujar Rini.

 

Tak Hanya Soal Usaha

Perubahan yang dirasakan Rini perlahan tidak hanya terlihat dari usahanya.

Ada hal lain yang kini menjadi sumber semangatnya, pendidikan anak.

Pada 2026, anak Rini yang masih duduk di bangku SMA mendapatkan Beasiswa Pendidikan PNM.

Bagi Rini, beasiswa tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri. Selama ini, perjuangannya membangun usaha bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga memastikan anaknya memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang baik.

“Sekarang saya tidak hanya berpikir bagaimana usaha saya bisa jalan. Saya juga ingin anak saya bisa sekolah dengan baik dan punya masa depan yang lebih baik. Itu yang membuat saya terus semangat,” kata Rini.

Perjalanan itu membuat Rini melihat usahanya dengan cara yang berbeda. Gitar yang dibuatnya bukan semata-mata barang yang kemudian dijual kepada pembeli.

Di balik proses pembuatannya, ada upaya untuk mempertahankan kehidupan keluarga dan menyiapkan masa depan anak.

Dikonfirmasi terkait kisah Rini, Direktur Utama PNM Kindaris mengatakan, apa yang dialami Rini menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak berhenti pada pemberian pembiayaan.

“PNM tidak hanya fokus memberikan pembiayaan, tetapi juga mendampingi mereka agar usahanya tumbuh, keluarganya semakin kuat, dan anak-anaknya memiliki kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Rini sendiri telah bergabung sebagai nasabah PNM Mekaar sejak 2019. Saat pertama mendapatkan pembiayaan, plafon yang diterimanya sebesar Rp2 juta. Kini, plafon pembiayaannya telah mencapai Rp8 juta.

Kindaris mengatakan, angka tersebut menjadi bagian kecil dari perjalanan panjang Rini. Dari seorang ibu yang pernah hidup dalam tekanan tagihan, ia kini terus berusaha berdiri dengan usahanya sendiri.

Bagi pelaku usaha ultra mikro seperti Rini, modal memang penting. Tetapi perjalanan untuk mengubah keadaan sering kali membutuhkan lebih dari itu,  pengetahuan, pendampingan, akses terhadap pasar, dan kesempatan untuk mencoba lagi ketika usaha sebelumnya tidak berjalan.

Rini mendapatkan kesempatan itu dan memilih menggunakannya untuk memulai kembali.

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya