Liputan6.com, Jakarta - Pendiri BitMEX, Arthur Hayes, menilai Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) berpeluang menguat apabila Federal Reserve (The Fed) memperluas dukungan likuiditas dolar untuk Jepang. Potensi tersebut muncul jika upaya mempertahankan nilai tukar yen semakin agresif.
Dalam esainya berjudul "Yen-quake", dikutip dari CoinMarketCap, Rabu (12/8/2026), Hayes menyebut Jepang memiliki ruang yang terbatas untuk memperkuat mata uangnya tanpa menimbulkan masalah baru di sektor lain.
Advertisement
Menurut dia, kenaikan suku bunga secara agresif oleh Bank of Japan (BoJ) dapat meningkatkan beban pembayaran utang pemerintah Jepang.
Di sisi lain, jika institusi Jepang menjual aset luar negeri dalam jumlah besar, terutama obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), langkah tersebut berisiko mendorong kenaikan imbal hasil (yield) Treasury AS.
Karena itu, Hayes menilai fasilitas Foreign and International Monetary Authorities (FIMA) Repo Facility milik The Fed menjadi opsi yang paling realistis.
Fasilitas tersebut memungkinkan otoritas asing yang disetujui untuk menukar sementara obligasi Treasury AS dengan dolar AS tanpa harus menjual obligasi tersebut secara permanen.
Kementerian Keuangan Jepang pada Minggu (3/8/2026) juga menyatakan berencana memanfaatkan fasilitas FIMA pada masa mendatang sebagai salah satu instrumen stabilisasi pasar valuta asing.
Namun, menurut Hayes, persoalan utamanya adalah skala fasilitas tersebut yang masih relatif kecil dibandingkan kebutuhan Jepang.
Jepang Punya Potensi Aset Treasury Lebih dari US$ 1 Triliun
Hayes memperkirakan pemerintah Jepang memiliki sekitar US$ 1,143 triliun obligasi Treasury AS. Selain itu, Government Pension Investment Fund (GPIF) diperkirakan memegang sekitar US$ 230 miliar Treasury AS.
Dengan demikian, total aset yang berpotensi digunakan mencapai US$ 1,373 triliun.
Sementara itu, fasilitas FIMA saat ini membatasi setiap pihak hanya dapat mengakses hingga US$ 60 miliar. Kesenjangan antara batas fasilitas dan besarnya kepemilikan Treasury Jepang inilah yang menjadi perhatian utama Hayes.
Ia berpendapat bahwa jika kapasitas FIMA diperbesar, likuiditas dolar global dapat meningkat. Mekanismenya, Jepang dapat meminjam dolar dengan menjaminkan Treasury AS, lalu menjual dolar tersebut untuk membeli yen guna mendukung nilai tukar mata uangnya.
"Semakin banyak mereka mencetak uang, semakin tinggi Bitcoin naik," tulis Hayes dalam esainya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa skenario tersebut masih bersifat kondisional dan sangat bergantung pada perubahan kebijakan The Fed.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, secara terpisah juga dilaporkan mendorong The Fed untuk memperluas fasilitas FIMA. Sementara ekonom Daleep Singh menilai fasilitas yang lebih besar hanya akan menjadi "peredam guncangan, bukan obat untuk tren mata uang".
Hayes mengaku saat ini meningkatkan eksposurnya pada Bitcoin, emas fisik, dan saham perusahaan tambang emas sambil menunggu kemungkinan perubahan aturan terkait fasilitas likuiditas tersebut.
Ethereum Disebut "Large Cap Sleeper"
Selain Bitcoin, Hayes juga melihat peluang menarik pada Ethereum. Ia bahkan menyebut ETH sebagai "large cap sleeper", yakni aset kapitalisasi besar yang menurutnya belum sepenuhnya mencerminkan potensi kenaikan harga.
Ia juga menyoroti Ethena (ENA) sebagai taruhan berisiko lebih tinggi yang berpotensi memperoleh manfaat jika pasar Bitcoin yang lebih kuat mendorong kenaikan basis yield di pasar derivatif kripto.
Analisis Hayes muncul di tengah tekanan yang masih membayangi mata uang Jepang. Pada Juli 2026, yen sempat melemah hingga 163,24 per dolar AS, level terlemah sejak 1986.
Pelemahan tersebut akhirnya mendorong Amerika Serikat dan Jepang melakukan intervensi bersama pada Kamis (31/7/2026) untuk mendukung nilai tukar yen.
Di periode yang sama, Bank of Japan mempertahankan suku bunga acuannya di level 1%. Keputusan itu membuat perbedaan suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat tetap menjadi faktor utama yang menekan yen.
Karena itu, perdebatan mengenai langkah lanjutan Jepang, apakah melalui kenaikan suku bunga tambahan atau intervensi pasar valuta asing yang lebih besar, masih menjadi perhatian pelaku pasar global.
Bagi Hayes, arah kebijakan tersebut tidak hanya penting bagi pasar mata uang, tetapi juga dapat menjadi penentu berikutnya bagi pergerakan Bitcoin dan Ethereum di pasar kripto global.