Rusia Serahkan Kendali Pangkalan Hmeimem dan Tartus ke Suriah

Reposisi strategis pangkalan asing ini menjadi bukti pergeseran pola kemitraan antara Suriah dan Rusia.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 12 Agustus 2026, 14:00 WIB
Helikopter Rusia terbang di atas Pangkalan Udara Hmeimim di tenggara Kota Latakia, Suriah, 16 Desember 2024. (Dok. AP Photo/Leo Correa)

Liputan6.com, Damaskus - Pasukan Rusia di Suriah akan menyerahkan kendali atas dua pangkalan strategis di pesisir Laut Mediterania. Berdasarkan kesepakatan baru antara Damaskus dan Moskow, fasilitas militer di kedua lokasi itu nantinya akan digunakan sebagai pusat pelatihan bersama Rusia-Suriah, kata Kementerian Luar Negeri Suriah, Minggu (9/8/2026).

Rusia merupakan sekutu politik dan militer utama Presiden Bashar Al-Assad selama perang saudara Suriah yang berlangsung dari 2011 hingga 2024. Assad digulingkan pada Desember 2024 oleh kelompok bersenjata yang dipimpin Ahmad al-Sharaa, yang kini menjabat sebagai presiden sementara Suriah.

Setelah kehilangan kekuasaan, Assad melarikan diri ke Rusia dan hidup dalam pengasingan.

Selama perang berlangsung, Pangkalan Udara Hmeimem dan Pangkalan Angkatan Laut Tartus menjadi dua titik penting bagi kehadiran militer Rusia di kawasan timur Laut Mediterania.

Dalam kesepakatan baru tersebut, Suriah akan mengambil alih pengelolaan Pangkalan Udara Hmeimem dan dermaga komersial di Pelabuhan Tartus untuk dimasukkan ke dalam administrasi sipil. Adapun fasilitas militer di kedua lokasi, menurut Kementerian Luar Negeri Suriah, akan digunakan sebagai pusat "pelatihan bersama".

Kementerian menyebut kesepakatan itu sebagai bagian dari "penataan kembali kehadiran Rusia" di sepanjang pesisir Suriah.

"Langkah ini merupakan perkembangan paling signifikan sejak perundingan dimulai sekitar satu setengah tahun lalu dan membuka jalan bagi babak baru hubungan Suriah-Rusia," demikian pernyataan kementerian tersebut.

Rusia belum memberikan tanggapan mengenai kesepakatan itu.

Rusia tidak turun tangan ketika serangan cepat kelompok pemberontak berujung pada jatuhnya pemerintahan Assad. Namun, Rusia memberikan suaka kepada Assad dan keluarganya. Setelah Assad digulingkan, pasukan Rusia yang masih berada di Suriah secara bertahap meninggalkan negara tersebut, kecuali mereka yang ditempatkan di kedua pangkalan itu.

Pemerintahan baru Suriah berupaya mempertahankan hubungan bilateral yang kuat dengan Moskow. Sejak berkuasa, al-Sharaa telah dua kali mengunjungi Presiden Vladimir Putin di Moskow. Masa depan dua pangkalan Rusia di pesisir Mediterania menjadi salah satu pokok utama dalam pembicaraan mereka.

Sejak Assad digulingkan, Suriah memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat (AS), negara-negara Eropa, serta negara-negara Arab di kawasan yang sebelumnya memutus hubungan dengan Damaskus menyusul tindakan keras pemerintahan Assad terhadap aksi protes.

AS telah mencabut sebagian besar sanksi berat yang sebelumnya dikenakan terhadap Suriah. Presiden Prancis Emmanuel Macron juga berkunjung ke Suriah pada Juli. Dalam kunjungan tersebut, Macron mengumumkan bahwa kedua negara akan kembali menempatkan duta besar masing-masing untuk pertama kalinya dalam 14 tahun.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya