Destry Damayanti Dinilai Sosok Adaptif untuk Pimpin Bank Indonesia

Rekam jejak dan pemahaman mendalam Destry Damayanti dinilai menjadi modal penting BI dalam menghadapi tantangan AI, geopolitik, hingga digitalisasi global.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 11 Agustus 2026, 08:45 WIB
Destry Damayanti Dinilai Sosok Adaptif untuk Pimpin Bank Indonesia di Era Perubahan Ekonomi. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai bukan sekadar soal kesinambungan kebijakan moneter, tetapi juga tentang bagaimana menyiapkan bank sentral menghadapi perubahan ekonomi global.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai pengalaman panjang Destry membuatnya memiliki bekal untuk membesarkan BI menghadapi tantangan baru, layaknya seorang ibu yang tidak hanya menjaga anak tetap aman, tetapi juga mempersiapkannya menghadapi dunia yang terus berubah.

“Menurut saya, Ibu Destry Damayanti adalah salah satu teknokrat moneter paling lengkap yang pernah dimiliki Indonesia. Beliau memahami teori ekonomi, dinamika pasar keuangan, stabilitas perbankan, hingga proses pengambilan kebijakan di Bank Indonesia,” ujar Fakhrul kepada wartawan, dikutip Selasa (11/8/2026).

Menurutnya, tantangan BI ke depan semakin kompleks karena AI, digitalisasi, fragmentasi perdagangan, perubahan rantai pasok, transisi energi, demografi, dan geopolitik mulai mengubah struktur ekonomi dunia.

“Dunia yang akan dihadapi Gubernur BI berikutnya bukan lagi dunia ketika inflasi dan suku bunga menjadi satu-satunya variabel utama. Kita sedang memasuki periode ketika AI mengubah produktivitas, digitalisasi mengubah sistem pembayaran, dan geopolitik mengubah arah arus modal global,” katanya.

 

Kemampuan Membaca Keadaan

Destry Damayanti Dinilai Sosok Adaptif untuk Pimpin Bank Indonesia di Era Perubahan Ekonomi. (Foto: Bank Indonesia)

Fakhrul menilai Destry juga tidak tepat ditempatkan dalam kategori hawkish atau dovish. Menurut dia, pendekatan yang dibutuhkan justru kemampuan membaca keadaan dan menyesuaikan kebijakan, seperti orang tua yang tahu kapan harus melindungi dan kapan harus memberi ruang untuk berkembang.

“Saya tidak melihat Ibu Destry sebagai seorang hawk ataupun dove. Saya melihat beliau sebagai central banker yang adaptif dan berorientasi pada stabilitas dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan,” ujar Fakhrul.

Tantangan tersebut, lanjut Fakhrul, membuat BI perlu memperkuat komunikasi, riset, serta bauran kebijakan. Bank sentral harus mampu menjelaskan bukan hanya keputusan suku bunga, tetapi juga bagaimana seluruh instrumen moneter bekerja menghadapi perubahan ekonomi.

“Pasar tidak hanya membutuhkan keputusan yang tepat, tetapi juga membutuhkan pemahaman mengenai mengapa keputusan tersebut diambil, bagaimana berbagai instrumen digunakan secara bersama-sama, dan ke mana arah kebijakan berikutnya,” katanya.

 

Fase Baru Bank Indonesia

Fakhrul berharap kepemimpinan Destry nantinya dapat membawa BI semakin siap menghadapi perubahan struktural ekonomi global tanpa kehilangan kredibilitas dan independensinya.

“Saya berharap Ibu Destry kelak tidak hanya dikenang sebagai Gubernur Bank Indonesia yang menjaga stabilitas, tetapi sebagai Gubernur yang berhasil membawa BI memasuki fase baru bank sentral modern,” tutur Fakhrul.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya