Harga Minyak Dunia Kembali Tembus US$ 87, Harapan Kesepakatan Hormuz Memudar

Harga minyak dunia melonjak sekitar 5 persen setelah muncul keraguan AS dan Iran akan mencapai kesepakatan pembukaan Selat Hormuz.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 11 Agustus 2026, 07:40 WIB
Seseorang berdiri di perairan dangkal saat kapal kargo dan kapal komersial berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas, Iran, Senin, 8 Juni 2026. (Amirhosein Khorgooi/ISNA via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melonjak sekitar 5 persen pada perdagangan Senin setelah muncul keraguan bahwa Amerika Serikat dan Iran akan segera mencapai kesepakatan untuk meningkatkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, Selasa (11/8/2026), kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik sekitar 5 persen dan ditutup di US$ 82,13 per barel. Sementara itu, Brent crude, patokan minyak internasional, juga menguat sekitar 5 persen menjadi US$ 87,72 per barel.

Kenaikan tajam tersebut terjadi setelah Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa Washington hanya setengah bernegosiasi dengan Iran, meskipun sebelumnya ia menegaskan kedua negara sedang melakukan pembicaraan.

Trump mengisyaratkan bahwa pemerintah AS lebih memilih mengandalkan blokade angkatan laut untuk menekan Teheran dibanding melancarkan gelombang serangan udara baru.

“Kami hanya mengamati Iran dengan inflasi yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak punya uang,” kata Trump.

Trump juga mengungkapkan bahwa ia membatalkan rencana serangan terhadap Republik Islam Iran pada 1 Agustus 2026 untuk memberi ruang bagi proses negosiasi.

Di tengah ketegangan tersebut, cadangan minyak di Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS dilaporkan turun di bawah 300 juta barel, level terendah sejak Januari 1983, seiring berlanjutnya konflik di kawasan tersebut.

 

Harapan Kesepakatan Hormuz Masih Belum Terwujud

Sebuah perahu motor kecil melewati kapal-kapal yang berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas, Iran, Kamis, 11 Juni 2026. (Amirhosein Khorgooi/ISNA via AP)

Sebelumnya, harga minyak sempat jatuh lebih dari 7 persen pekan lalu setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC bahwa kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz dengan kebebasan pelayaran kapal bisa segera tercapai.

Namun hingga kini, kesepakatan tersebut belum juga diumumkan. Posisi Washington dan Teheran justru dinilai semakin mengeras.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa Amerika Serikat harus terlebih dahulu mencabut blokade lautnya sebelum Iran bersedia membuka Selat Hormuz sepenuhnya.

“Selama blokade angkatan laut AS masih berlanjut, syarat yang diperlukan untuk pembukaan kembali Selat Hormuz belum ada,” ujar Baghaei seperti dikutip kantor berita pemerintah Tasnim.

Ia menambahkan bahwa Iran dan Oman saat ini sedang melakukan negosiasi bilateral terkait jalur pelayaran di selat tersebut.

Ketidakpastian ini membuat pasar kembali khawatir terhadap potensi gangguan pasokan minyak global. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia karena menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.

 

Kesepakatan Juni Runtuh Setelah Serangan Tanker

Sebuah kapal tanker berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Amerika Serikat dan Iran sebenarnya pernah menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni 2026 untuk membuka Selat Hormuz bagi kapal komersial.

Namun kesepakatan itu segera runtuh setelah pecah pertempuran terkait penentuan jalur yang boleh digunakan kapal-kapal yang melintas.

Iran kemudian melancarkan beberapa serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Hormuz di sepanjang pantai Oman di bawah perlindungan militer AS. Teheran menuntut agar kapal-kapal yang melintas menggunakan perairan teritorial Iran saat melewati selat tersebut.

Sebagai respons atas serangan tanker itu, Amerika Serikat melancarkan beberapa gelombang serangan udara dan kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran.

Rangkaian eskalasi tersebut memicu kekhawatiran bahwa ketegangan di Timur Tengah dapat mengganggu distribusi minyak global dan mendorong harga energi tetap tinggi dalam waktu dekat.

Pasar kini menanti perkembangan diplomatik berikutnya antara Washington dan Teheran, yang diperkirakan akan menjadi faktor utama penentu arah pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa pekan mendatang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya