Liputan6.com, Tel Aviv - Istri Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Sara Netanyahu, menghadapi tuduhan telah membentak, menghina, dan memperlakukan buruk staf rumah kediaman perdana menteri selama lebih dari 25 tahun.
Dikutip dari Anadolu, Selasa (11/8/2026), surat kabar harian Yedioth Ahronoth menyatakan menelusuri puluhan kesaksian dan gugatan hukum yang melibatkan mantan pekerja di kediaman tersebut. Tuduhan yang muncul beragam, mulai dari kekerasan verbal, penghinaan, hingga tuntutan pekerjaan yang dianggap berlebihan.
Advertisement
Sebagian perkara berujung pada putusan pengadilan yang memberikan kompensasi kepada mantan pekerja. Sebagian lainnya diselesaikan melalui kesepakatan atau ditolak pengadilan.
Sara Netanyahu dan pengacaranya berulang kali membantah tuduhan tersebut. Mereka menyebut tudingan itu sebagai bagian dari “kampanye media” dan upaya untuk mendapatkan uang dari negara.
Salah satu tuduhan terbaru datang dari Yehiel Ohav Ami, 61 tahun, yang bekerja di kediaman perdana menteri selama setahun terakhir.
Ami mengatakan dirinya menjadi sasaran bentakan, hinaan, dan penghinaan. Ia juga mengaku pernah diperintahkan membersihkan lantai dapur sambil merangkak.
Menurut Ami, Sara Netanyahu juga pernah mendoakan dirinya terkena kanker dan meninggal dunia. Setelah menyebut Ami mengidap autisme, Sara disebut mengatakan kepadanya, “Saya adalah psikiater nomor satu di negara ini, dan saya tidak punya saingan.”
Kantor Netanyahu menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai “upaya lain untuk mengarang pemerasan uang dari negara dengan mencemarkan nama baik istri perdana menteri”.
Sara Netanyahu juga menggugat Ami dengan tuduhan bahwa ia mengambil foto kediaman perdana menteri secara ilegal dan melanggar privasinya.
Gugatan dan Kompensasi
Yedioth Ahronoth juga menyoroti kasus Meni Naftali, mantan manajer kediaman perdana menteri yang menggugat kantor Netanyahu terkait kondisi kerjanya.
Pada Februari 2016, Pengadilan Perburuhan Regional Yerusalem memberikan kompensasi sebesar 170.000 shekel atau sekitar US$ 56.670 kepada Naftali. Pengadilan menyatakan Naftali mengalami kondisi kerja yang buruk di kediaman tersebut akibat perilaku Sara Netanyahu terhadap para pekerja.
Putusan tersebut ditujukan kepada negara dan pihak lain yang menjadi tergugat dalam perkara itu, bukan kepada Sara Netanyahu secara pribadi.
Dalam kasus lainnya, pekerja pemeliharaan Guy Eliyahu mendapat kompensasi pada 2016 setelah pengadilan mengabulkan sebagian besar gugatannya. Ia menyatakan bekerja dalam lingkungan yang dipenuhi rasa takut, bentakan, teguran, dan penghinaan.
Eliyahu mengaku pernah diminta kembali ke rumah setelah tengah malam hanya untuk memanaskan semangkuk sup bagi Sara Netanyahu. Pada kesempatan lain, ia mengatakan harus kembali hanya untuk mengucapkan “Selamat malam” kepadanya.
Ia juga mengaku terkadang bekerja hingga 19 jam dalam sehari.
Tuduhan Memukul Tangan Pekerja
Chef Eti Haim mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa Sara Netanyahu pernah memukul tangannya setelah ia membuka sebuah lemari sebelum mencuci tangan. Haim menggambarkan kejadian itu sebagai “pukulan di tangan”.
Haim juga menuduh Sara membentak para pekerja, menarik taplak meja dari meja, kemudian memerintahkan agar meja tersebut ditata ulang dalam hitungan menit.
Sara Netanyahu membantah tuduhan tersebut.
Shira Raban, seorang pekerja kebersihan religius berusia 24 tahun, juga pernah menggugat Sara. Raban menuduh dirinya menjadi sasaran bentakan dan penghinaan hingga merasa seperti seorang “pembantu”.
Dalam kesaksiannya, Raban mengatakan Sara akan berlari mendekati pekerja perempuan sambil “mengayunkan tangan, berteriak dan menarik rambutnya”. Menurut Raban, perilaku tersebut membuat para pekerja takut Sara akan menyerang mereka secara fisik.
Namun, Pengadilan Perburuhan menolak gugatan Raban pada Februari 2022. Pengadilan menyatakan Raban gagal membuktikan bahwa dirinya telah diperlakukan buruk dan menilai keterangannya tidak kredibel.
Mantan pekerja lainnya, Sylvie Gansia, mengajukan gugatan pada 2020 dengan tuduhan Sara Netanyahu membentak, menghina, dan melemparkan setrika ke arahnya.
Pengadilan tidak memutuskan kebenaran tuduhan tersebut. Gugatan kemudian ditolak setelah Gansia gagal menyerahkan dokumen hukum yang diwajibkan.
Dalam gugatan terpisah yang diajukan Sara Netanyahu, Gansia diperintahkan membayar sekitar 100.000 shekel atau US$33.340, ditambah biaya hukum.
Disebut 'Budak Zaman Modern'
Pada 2024, Pengadilan Perburuhan memenangkan perkara yang diajukan tiga mantan pekerja di kediaman perdana menteri. Kantor Netanyahu diperintahkan membayar sekitar 900.000 shekel atau US$300.000 atas pelanggaran hak-hak pekerja, termasuk lembur yang tidak dibayar serta pekerjaan pada Sabtu dan hari libur.
Dua dari pekerja tersebut menyebut diri mereka sebagai “budak zaman modern”.
Namun, kompensasi itu dibebankan kepada Kantor Perdana Menteri sebagai pemberi kerja, bukan kepada Sara Netanyahu secara pribadi.
Pada April, seorang pekerja lainnya mengajukan gugatan dengan tuduhan Sara melemparkan potongan tomat dan zaitun ke arahnya ketika ia sedang menyiapkan sarapan.
Pekerja tersebut mengatakan Sara marah karena jumlah bawang bombai, tomat, dan zaitun di atas piring dianggap tidak sesuai. Menurutnya, insiden itu terjadi di hadapan Benjamin Netanyahu.
Perkara tersebut kemudian diselesaikan melalui kesepakatan rahasia dengan perusahaan penyedia tenaga kerja. Pekerja itu menerima kompensasi puluhan ribu shekel, tetapi tidak ada putusan pengadilan yang menetapkan bahwa insiden tersebut benar-benar terjadi.