Citizen6, Banda Aceh: Bagi yang telah menjejakkan kaki di Takengon, bisa dipastikan hatinya akan terpaut dengan keindahan panorama ibukota Kabupaten Aceh Tengah ini. Kabupaten ini digelari sebagai the paradise land (tanah surga).
"Seumur-umur, dan selama 8 tahun 10 bulan berdomisili di Banda Aceh, baru dua kali saya menjejaki dataran tinggi Gayo. Padahal, sering kali diajak kawan-kawan beranjangsana ke negeri di atas awan itu," tutur Ahmad Arif.
Mengapa diberi gelar negeri di atas awan? Menurut Muhammad Syukri, wilayah Aceh Tengah berada di ketinggian antara 200 hingga 2.600 meter dari permukaan laut. ahkan, sebelum memasuki kota Takengon, para pengunjung harus melalui sebuah kawasan yang bernama Bukit Menjangan (sekitar 7 Km menjelang Kota Takengon) yang berada di ketinggian sekitar 1.800 meter dari permukaan laut.
Karena berada di ketinggian, lanjut Syukri, maka cuaca di negeri penghasil durian yang kelezatannya tak kalah dari durian montong itu itu bisa berubah dengan cepat. Di pagi hari, langit Takengon sering terlihat cerah dengan warna biru terang.
Tetapi, menjelang siang, tiba-tiba langit berubah dengan awan hitam menggumpal-gumpal. Saat itu terjadi, bahu gunung di sekitar Kota Takengon mulai ditutupi awan. Jika dilihat dari ketinggian yang nampak hanya puncak gunung.
"Selama berada di Takengon pada 31 Januari hingga 2 Februari silam, saya beserta keluarga besar mengunjungi beberapa situs bersejarah. Hal yang paling saya ingat, saat kami mengelilingi danau Laut Tawar selama lebih dari 2 jam," cerita Arif.
Malam pertama, Arif dan keluarganya menginap di salah satu hotel yang berada di tengah-tengah Kota Takengon, persis berada di kaki bukit. Oleh karena itu, cuacanya lebih dingin dibandingkan daerah perkotaan.
Malam keduanya, mereka menginap di rumah keluarga seorang atlet karate Aceh. Selama berada di rumah keluarga ini, Ahmad dan keluarganya mendapatkan pengetahuan baru tentang cara memanaskan badan yang cukup unik.
Bila biasanya orang menghangatkan badan di perapian dengan cara menjulurkan tangan mendekat ke api, tidak demikian dengan warga desa ini. Mereka justru mendekatkan telapak kaki. Bahkan, sesekali, mereka sengaja menyentuhkan telapak kaki ke lidah api yang membara.
"Bila telapak kaki telah hangat, biasanya badan kita menjadi lebih cepat hangat. Jika tangan saja yang kita hangatkan, belum tentu seluruh badan menjadi hangat. Bisa saja bagian bawah tubuh kita membeku karenanya," ungkap Ama Irul (ayahnya si Khairul) menjawab rasa pertanyaan kami yang penuh rasa penasaran. (mar)
Penulis
Ahmad Arif
Baca juga:
FSPBUN Bantu Korban Sinabung Rp 493 Juta
Berwisata ke Gunung Gajah Pemalang
Sinabung: Mengenal Aliran Piroklastik dan Awan Panas
Disclaimer:
Citizen6 adalah media publik untuk warga. Artikel di Citizen6 merupakan opini pribadi dan tidak boleh menyinggung SARA. Isi artikel menjadi tanggung jawab si penulisnya.
Anda juga bisa mengirimkan link postingan terbaru blog Anda atau artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas, kesehatan, keuangan, wisata, kuliner, gaya hidup, sosial media, dan lainnya ke Citizen6@liputan6.com
"Seumur-umur, dan selama 8 tahun 10 bulan berdomisili di Banda Aceh, baru dua kali saya menjejaki dataran tinggi Gayo. Padahal, sering kali diajak kawan-kawan beranjangsana ke negeri di atas awan itu," tutur Ahmad Arif.
Mengapa diberi gelar negeri di atas awan? Menurut Muhammad Syukri, wilayah Aceh Tengah berada di ketinggian antara 200 hingga 2.600 meter dari permukaan laut. ahkan, sebelum memasuki kota Takengon, para pengunjung harus melalui sebuah kawasan yang bernama Bukit Menjangan (sekitar 7 Km menjelang Kota Takengon) yang berada di ketinggian sekitar 1.800 meter dari permukaan laut.
Karena berada di ketinggian, lanjut Syukri, maka cuaca di negeri penghasil durian yang kelezatannya tak kalah dari durian montong itu itu bisa berubah dengan cepat. Di pagi hari, langit Takengon sering terlihat cerah dengan warna biru terang.
Tetapi, menjelang siang, tiba-tiba langit berubah dengan awan hitam menggumpal-gumpal. Saat itu terjadi, bahu gunung di sekitar Kota Takengon mulai ditutupi awan. Jika dilihat dari ketinggian yang nampak hanya puncak gunung.
"Selama berada di Takengon pada 31 Januari hingga 2 Februari silam, saya beserta keluarga besar mengunjungi beberapa situs bersejarah. Hal yang paling saya ingat, saat kami mengelilingi danau Laut Tawar selama lebih dari 2 jam," cerita Arif.
Malam pertama, Arif dan keluarganya menginap di salah satu hotel yang berada di tengah-tengah Kota Takengon, persis berada di kaki bukit. Oleh karena itu, cuacanya lebih dingin dibandingkan daerah perkotaan.
Malam keduanya, mereka menginap di rumah keluarga seorang atlet karate Aceh. Selama berada di rumah keluarga ini, Ahmad dan keluarganya mendapatkan pengetahuan baru tentang cara memanaskan badan yang cukup unik.
Bila biasanya orang menghangatkan badan di perapian dengan cara menjulurkan tangan mendekat ke api, tidak demikian dengan warga desa ini. Mereka justru mendekatkan telapak kaki. Bahkan, sesekali, mereka sengaja menyentuhkan telapak kaki ke lidah api yang membara.
"Bila telapak kaki telah hangat, biasanya badan kita menjadi lebih cepat hangat. Jika tangan saja yang kita hangatkan, belum tentu seluruh badan menjadi hangat. Bisa saja bagian bawah tubuh kita membeku karenanya," ungkap Ama Irul (ayahnya si Khairul) menjawab rasa pertanyaan kami yang penuh rasa penasaran. (mar)
Penulis
Ahmad Arif
Baca juga:
FSPBUN Bantu Korban Sinabung Rp 493 Juta
Berwisata ke Gunung Gajah Pemalang
Sinabung: Mengenal Aliran Piroklastik dan Awan Panas
Disclaimer:
Citizen6 adalah media publik untuk warga. Artikel di Citizen6 merupakan opini pribadi dan tidak boleh menyinggung SARA. Isi artikel menjadi tanggung jawab si penulisnya.
Anda juga bisa mengirimkan link postingan terbaru blog Anda atau artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas, kesehatan, keuangan, wisata, kuliner, gaya hidup, sosial media, dan lainnya ke Citizen6@liputan6.com