Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah terus memacu percepatan penanganan sampah nasional melalui intervensi teknologi. Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi pirolisis kini didorong untuk melengkapi fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Langkah ini diambil karena kapasitas PSEL yang ada saat ini dinilai belum memadai untuk mengolah seluruh timbulan sampah di Indonesia.
Advertisement
“Persoalan sampah tidak bisa lagi ditangani dengan cara biasa. Kita membutuhkan percepatan melalui intervensi teknologi. Karena itu, selain pembangunan PSEL, pemerintah juga mendorong pemanfaatan teknologi pirolisis agar semakin banyak sampah yang dapat diolah menjadi energi,” kata Zulhas dikutip dari Antara, Minggu (9/8/2026).
Implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 sebenarnya telah mempercepat pembangunan PSEL di berbagai daerah. Indonesia diproyeksikan memiliki 13 titik lokasi PSEL, termasuk fasilitas di Kota Palembang yang dijadwalkan mulai beroperasi pada Oktober 2026.
Meski begitu, Menko Zulhas mengungkapkan bahwa seluruh PSEL tersebut diperkirakan baru mampu menyerap sekitar 22 persen dari total sampah nasional. Oleh karena itu, kehadiran teknologi pendamping seperti pirolisis menjadi sangat krusial.
Kualitas Sama Seperti Solar
Teknologi pirolisis bekerja dengan mengolah tumpukan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) menjadi bahan bakar terbarukan yang kualitasnya setara dengan solar. Jika diterapkan secara meluas, teknologi ini diproyeksikan dapat menyelesaikan sekitar 20 persen masalah sampah nasional.
Untuk merealisasikannya, pemerintah menjalin kolaborasi dengan TNI Angkatan Darat serta pemerintah daerah melalui proyek percontohan di lima wilayah, yaitu Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Semarang, Kota Bekasi, dan DKI Jakarta. Kerja sama ini juga ditujukan untuk menyokong percepatan Proyek Strategis Nasional PSEL Bogor Raya 1.
Zulhas menekankan pentingnya peran aktif pemerintah daerah dalam mendukung penyediaan lahan, kemudahan perizinan, hingga jaminan ketersediaan pasokan sampah. Selain menekan beban penumpukan di TPA, penanganan sampah yang cepat juga penting untuk meminimalkan risiko kebakaran saat musim kemarau.
"Kita ingin persoalan sampah tidak hanya selesai, tetapi juga mampu menghasilkan manfaat ekonomi dan energi bagi masyarakat. Dengan gotong royong dan kerja cepat, target itu dapat kita capai," pungkas Zulhas.