Liputan6.com, Washington - Berlangsungnya perang dengan Iran kembali memunculkan kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang cedera otak traumatis atau traumatic brain injury (TBI) yang dialami tentara Amerika Serikat.
Pengalaman Joe Shearer menjadi salah satu gambaran mengenai bagaimana cedera tersebut dapat terus memengaruhi kehidupan seorang veteran bertahun-tahun setelah berada di medan perang.
Advertisement
Saat bertugas sebagai anggota Korps Marinir AS di Irak, Shearer pernah terjatuh akibat ledakan mortir musuh hingga muntah. Meski mengalami sakit kepala hebat, ia bangkit dan kembali bertugas.
Beberapa bulan kemudian, bom pinggir jalan menghantam konvoi Humvee yang ditumpanginya. Gelombang kejut ledakan menerpa tubuhnya sebelum sakit kepala dan kesulitan tidur muncul selama berhari-hari.
"Selama kamu bisa bangkit dan kembali berpatroli, ya begitulah yang kamu lakukan," kata Shearer.
Kini berusia 40 tahun dan tinggal di Colorado Springs, Colorado, Shearer mengaitkan kedua kejadian pada 2005 tersebut dengan cedera otak traumatis yang baru didiagnosis bertahun-tahun kemudian.
Hingga kini, ia masih mengalami berbagai gejala, mulai dari pusing dan migrain hingga kesulitan mengingat tugas sehari-hari dan tanggung jawabnya terhadap istri serta anak-anaknya.
Pengalaman seperti yang dialami Shearer kembali menjadi perhatian seiring dampak perang Iran terhadap tentara AS. Konflik tersebut berlangsung tanpa batas akhir yang jelas, sementara hampir 700 anggota militer AS telah terluka akibat serangan drone dan rudal terhadap pangkalan di Timur Tengah serta pertempuran lainnya.
Menurut pernyataan sejumlah pejabat militer, sebagian besar dari mereka mengalami cedera otak traumatis dan kembali bertugas.
Juru bicara utama Pentagon Sean Parnell bulan lalu menyebut sebagian besar cedera yang terjadi dalam periode dua pekan sebagai "gegar otak ringan".
Dokter Sulit Memprediksi Dampak Jangka Panjang
Gegar otak kerap disebut sebagai TBI ringan dan banyak orang dapat pulih dalam hitungan pekan. Namun, sebagian orang yang pada awalnya hanya mengalami gejala ringan dapat menghadapi masalah selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Masalah tersebut antara lain sakit kepala, pusing, serta gangguan daya ingat atau konsentrasi yang terkadang disebut sebagai brain fog.
Dokter belum memiliki cara untuk memprediksi siapa yang akan mengalami dampak jangka panjang. Ketidakpastian tersebut bahkan memunculkan perdebatan medis mengenai perlu tidaknya istilah "TBI ringan" tetap digunakan.
Benturan berulang diketahui meningkatkan kemungkinan munculnya masalah jangka panjang, termasuk penyakit otak degeneratif yang dikenal sebagai chronic traumatic encephalopathy (CTE). Penyakit tersebut mendapat perhatian karena dikaitkan dengan kematian sejumlah atlet di National Football League dan cabang olahraga lainnya.
Dr. David Okonkwo, spesialis trauma otak dari University of Pittsburgh, mengatakan seseorang harus benar-benar pulih dari gegar otak sebelum melakukan aktivitas yang meningkatkan risiko terkena benturan berikutnya.
Dokter juga masih mempelajari bagaimana ledakan dapat melukai otak dibandingkan dengan benturan fisik.
"Gelombang ledakan itu sendiri dapat menyebabkan cedera," kata Dr. James Kelly, profesor emeritus neurologi di University of Colorado School of Medicine sekaligus kepala ilmuwan medis Invisible Wounds Foundation, organisasi yang berfokus pada cedera otak akibat tugas militer.
"Ini merupakan cedera sel yang berbeda. Ledakan berbeda dengan cedera akibat benturan langsung di kepala," ujarnya.
Pola Perang dengan Iran Berbeda
Pasukan AS kini menghadapi pola peperangan baru dalam konflik dengan Iran. Drone dapat meledak lebih dekat dengan kepala tentara, berbeda dengan bom pinggir jalan dan alat peledak rakitan yang lebih umum digunakan dalam perang di Irak dan Afghanistan.
Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat menyerukan penyelidikan terhadap perawatan yang diterima tentara AS yang terluka setelah serangan drone Iran di Kuwait. Serangan pada awal perang tersebut menewaskan enam tentara AS.
Senator Wisconsin Tammy Baldwin pada Rabu mendesak militer melalui surat agar merilis hasil penyelidikan terhadap serangan 1 Maret tersebut.
"Saya berbicara langsung dengan warga Wisconsin yang mengalami cedera otak traumatis akibat perang Presiden Donald Trump di Iran dan berminggu-minggu tidak mendapatkan pemeriksaan, apalagi perawatan khusus untuk cedera mereka," kata Baldwin dalam sebuah pernyataan.
Juru bicara Defense Health Agency Peter Graves mengatakan melalui email bahwa "kebijakan yang berlaku adalah anggota militer menjalani pemeriksaan TBI."
Para ahli mengatakan militer AS telah mengalami kemajuan dalam pemeriksaan dan penanganan TBI, yang menjadi salah satu jenis cedera khas dalam perang di Afghanistan dan Irak.
Lebih dari 500.000 anggota militer didiagnosis mengalami TBI sepanjang 2000 hingga 2025. Sebanyak 82 persen kasus dikategorikan ringan, dan tidak semuanya berkaitan dengan pertempuran.
Namun, para advokat mengatakan jumlah kasus tersebut masih mungkin lebih rendah dari kondisi sebenarnya karena gejala TBI kerap tumpang tindih dengan gangguan stres pascatrauma atau PTSD serta kondisi lainnya.
Diagnosis Bisa Muncul Bertahun-tahun Kemudian
Dua ledakan yang dialami Shearer di Irak tidak menimbulkan luka yang terlihat. Saat itu, petugas medis lebih memprioritaskan anggota Marinir yang mengalami cedera lebih parah.
"Kamu tidak ingin menjadi orang yang pergi ke unit kesehatan atau berkata, 'Oh, saya terluka,' karena kamu akan jauh dari timmu," kata Shearer.
Menurutnya, terdapat budaya di kalangan tentara yang membuat seseorang tidak ingin dianggap lebih rendah atau lemah sehingga cedera cenderung disembunyikan.
Ketika pulang pada usia 19 tahun, Shearer menyangkal mengalami PTSD dan bahkan belum mengetahui apa itu TBI. Ia dihantui mimpi buruk, sulit tidur, dan sakit kepala. Pada awalnya, ia menggunakan narkoba untuk mengobati dirinya sendiri dan sempat mempertimbangkan bunuh diri.
Shearer akhirnya mendapatkan bantuan untuk PTSD. Namun, butuh waktu bertahun-tahun sebelum ia menyadari bahwa dirinya juga mengalami cedera otak traumatis.
Saat bekerja di Wounded Warrior Project dan melakukan pemeriksaan TBI terhadap sesama veteran, ia menyadari bahwa dirinya mengalami banyak gejala yang sama.
Ia kemudian didiagnosis dan menjalani perawatan. Namun, sejumlah masalah masih bertahan, termasuk vertigo dan sensitivitas terhadap cahaya. Ia juga kerap melupakan percakapan penting dengan keluarganya.
"Saya tahu beberapa dari hal itu terdengar stereotip, tetapi bagi saya, rasanya berbeda. Tidak ada ingatan bahwa percakapan itu pernah terjadi," ujarnya.
Otak Masih Bisa Beradaptasi
Masalah kehilangan ingatan juga dialami veteran Angkatan Darat Frank Sonntag setelah mengalami TBI akibat ledakan mortir di Irak pada 2004.
Saat itu, Sonntag berusia 50-an tahun dan sedang melatih pasukan cadangan. Ia merasakan hembusan angin akibat ledakan yang terjadi sekitar 70 kaki atau 21 meter dari tempatnya.
Ia tidak menyadari telah mengalami cedera dan baru mencari pengobatan dua tahun kemudian. Selama itu, ia mengabaikan sakit kepala yang semakin parah dan brain fog.
Kondisinya kemudian memburuk. Ia membutuhkan waktu hingga 30 menit hanya untuk menulis sebuah email, sementara rekan-rekannya mengatakan bahwa ia berbicara satu kata setiap 10 detik.
Sonntag juga sempat mempertimbangkan bunuh diri. Ia baru mendapatkan diagnosis setelah tersesat saat mengemudi pulang.
Ahli saraf kemudian memberikan obat untuk mengatasi migrainnya, selain sejumlah perawatan lainnya.
"Terapi bicara adalah salah satu hal terbaik yang saya dapatkan," kata Sonntag, yang kini berusia 75 tahun dan tinggal di Queen Creek, Arizona.
"Mereka mengajari saya cara melatih kata-kata yang saya ucapkan dan bagaimana menyusun kalimat kembali," ujarnya.
Kelly Parker, direktur layanan independen di Wounded Warrior Project, mengatakan sulit untuk memprediksi bagaimana cedera otak akan berkembang pada setiap orang.
"Jika Anda melihat satu TBI, Anda telah melihat satu TBI," katanya.
Menurut Parker, pemeriksaan, penanganan dini, dan dukungan dapat menjadi faktor penting untuk membantu seseorang kembali menjalani kehidupan yang lebih normal. Terapi fisik, terapi bicara, dan terapi seni juga dapat memberikan perbaikan.
"Masih banyak yang tidak kita ketahui tentang otak, tetapi satu hal yang kita tahu adalah otak dapat menyembuhkan dirinya sendiri," kata Parker.
"Kita tahu jalur saraf baru dapat terbentuk, dan kita benar-benar percaya bahwa otak dapat beradaptasi. Kita telah melihatnya terjadi," ujarnya.
Veteran Angkatan Darat Spencer Milo juga menghadapi persoalan serupa. Setelah bertahun-tahun meninggalkan dinas militer, ia masih mengalami migrain, kejang, dan mudah lupa.
TBI pertamanya terjadi di Irak pada 2008, ketika Humvee yang ditumpanginya menabrak tembok saat berusaha menghindari tembakan. Cedera kedua dialaminya akibat ledakan bom bunuh diri di Afghanistan pada 2011.
"Saya punya rekan sesama anggota militer yang bahkan berada bersama saya pada hari-hari itu, dan mereka berkata, 'Kawan, kenapa kamu tidak bisa melupakannya saja?'" kata Milo, 41 tahun, dari Parker, Colorado.
"Saya benar-benar berharap sesederhana itu. Ini sulit karena ketika sesuatu tidak bisa dilihat, sulit untuk percaya bahwa itu benar-benar ada," ujarnya.