Cerita Siswi Difabel Bangkit dari Bullying Kini Berani Kejar Cita-cita

Karmila, merupakan siswi difabel Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Sulsel.

oleh FauzanDiterbitkan 07 Agustus 2026, 15:01 WIB
Karmila siswi Sekolah Rakyat Sulsel. (Liputan6.com/Fauzan)

Liputan6.com, Jakarta - Karmila tidak lagi menundukkan kepala ketika berada di hadapan banyak orang. Siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Sulawesi Selatan itu bahkan berani menyanyikan lagu “Jangan Menyerah” di depan Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman.

Momen tersebut terjadi saat Gus Ipul meninjau SRT 3 Sulsel di Pajjaiang, Makassar, Jumat (7/8/2026). Bagi Karmila, tampil di depan banyak orang menjadi sesuatu yang dulu sulit dibayangkan.

Karmila merupakan satu-satunya siswa penyandang disabilitas di sekolah tersebut. Ia terlahir dengan congenital talipes equinovarus atau kaki pengkor dan telah mengalami perundungan sejak kecil.

Pengalaman itu membuat Karmila tumbuh dengan rasa minder. Ketika mendapat tawaran melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat, ia justru khawatir akan kembali menjadi korban bully.

“Awal ke sini berat sekali. Saya tidak mau. Saya bilang nanti dibully lagi, tidak akan ada yang mau berteman dengan saya,” kenangnya.

Kekhawatiran tersebut akhirnya berhasil dilewatinya setelah sang ibu, Sarefah, meminta Karmila mencoba terlebih dahulu. Jika tidak betah, Karmila dipersilakan pulang.

“Mama bilang tidak apa-apa dicoba dulu. Kalau tidak betah, nanti bisa pulang,” ujarnya.

Karmila pun berangkat ke Makassar dan mulai menjalani pendidikan di SRT 3 Sulawesi Selatan. Di tempat tersebut, ketakutan yang selama ini membayanginya perlahan hilang.

Ia justru mendapatkan teman-teman yang mau membantu dan menjaganya. Karmila juga mengaku mendapat perlakuan yang sama dengan siswa lainnya, kecuali pada kegiatan yang membutuhkan kemampuan fisik lebih berat.

“Di sini saya punya banyak teman. Kami sama-sama berasal dari keluarga kurang mampu dan mereka menjaga saya,” katanya.

Karmila merupakan putri Kamarauddin dan Sarefah, petani di Kabupaten Jeneponto. Sebelum masuk Sekolah Rakyat, ia bersekolah di madrasah tsanawiyah, tetapi kondisi ekonomi keluarga membuat pendidikannya terancam terhenti.

Kesempatan itu kemudian datang melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Karmila diusulkan melanjutkan pendidikan melalui Sekolah Rakyat.

Saat ini, Karmila masih harus menggunakan kursi roda setelah menjalani operasi kaki kanannya sekitar dua pekan lalu. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan keinginannya untuk terus mengikuti kegiatan sekolah.

Kepala SRT 3 Sulsel Widya Wati, mengatakan Karmila memang datang dengan rasa percaya diri yang sangat rendah. Ia kerap bercerita kepada guru mengenai pengalaman merasa tersisih akibat keterbatasan fisiknya.

“Dia sering curhat merasa tersingkirkan karena keterbatasannya. Kami memberikan motivasi, pengasuhan dari wali asrama dan guru hingga akhirnya dia bisa bangkit dan percaya diri,” ujar Widya Wati.

Menurut Widya Wati, perubahan Karmila mulai terlihat setelah mendapatkan pendampingan dari guru dan wali asuh. Sekolah juga mendorongnya untuk berani tampil agar ia menyadari bahwa dirinya memiliki kemampuan.

Kemampuan bernyanyi dan berbahasa Inggris kemudian menjadi potensi yang terus dikembangkan. Karmila beberapa kali didorong tampil di depan siswa dan guru hingga akhirnya berani menyanyi di hadapan Mensos.

“Kami terus mendorong dia tampil di depan supaya dia tahu kalau dirinya sangat berharga,” kata Widya Wati.

Perubahan itu membuat Karmila kini memiliki pandangan berbeda terhadap dirinya sendiri. Ia tidak lagi ingin dikenal karena keterbatasan fisiknya, tetapi karena kemampuan dan cita-cita yang ingin diwujudkannya.

“Saya sering minder dan putus asa karena jadi korban bully sejak kecil. Tapi saya ingat lagi orang tua saya,” ujarnya.

Karmila mengatakan perjuangan kedua orang tuanya yang bekerja sebagai petani menjadi salah satu alasan dirinya tidak ingin menyerah. Ia ingin berhasil dan membanggakan keluarganya melalui pendidikan.

Kini, Karmila memiliki cita-cita menjadi dokter. Ia juga ingin mengembangkan kemampuan bahasa Inggris dan berharap suatu hari dapat melanjutkan pendidikan hingga Amerika Serikat.

Sebelum mengakhiri perbincangan, Karmila berpesan kepada siswa lainnya agar tetap semangat menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat. Ia mengakui tinggal jauh dari orang tua bukan perkara mudah, tetapi dukungan lingkungan sekolah membuatnya mampu bertahan.

“Harus tetap semangat. Jauh dari orang tua memang tidak mudah, tetapi di Sekolah Rakyat kita dibimbing dengan baik,” katanya.

Menurut Karmila, siswa di Sekolah Rakyat juga diajarkan untuk saling menghormati, bertoleransi, menghargai, dan menjaga satu sama lain. Nilai-nilai tersebut membuatnya merasa lebih diterima dibandingkan pengalaman yang pernah dialaminya sebelumnya.

 

Karmila siswi SR dengan Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman. (Liputan6.com/Fauzan)

Mensos: Siswa Punya Minat dan Kemampuan Berbeda

Gus Ipul mengatakan Sekolah Rakyat dibangun sebagai ruang pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin. Para siswa yang belajar di dalamnya memiliki latar belakang, minat, serta kemampuan yang berbeda.

“Yang bersekolah di sini benar-benar berasal dari keluarga paling tidak mampu, dengan latar belakang dan kemampuan yang berbeda-beda,” ujar Saifullah.

Menurutnya, kurikulum Sekolah Rakyat dirancang agar setiap siswa dapat berkembang sesuai minat, bakat, dan kemampuannya. Dengan pendampingan tersebut, siswa diharapkan mampu tumbuh dan meraih cita-cita masing-masing.

Saifullah juga mengapresiasi pemerintah daerah, kepala sekolah, guru, dan seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Ia berharap kapasitas sekolah dapat terus diperluas agar semakin banyak anak dari keluarga miskin memperoleh pendidikan berkualitas.

Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman turut mengapresiasi keberadaan Sekolah Rakyat di Sulsel. Menurutnya, sekolah tersebut menjadi kesempatan bagi anak-anak dari keluarga sederhana untuk memperoleh pendidikan dengan fasilitas yang memadai.

“Anak-anak di sini berasal dari keluarga sederhana. Mereka mendapatkan fasilitas yang lengkap sehingga bisa mengejar cita-citanya,” kata Andi Sudirman.

Pemprov Sulsel, kata Andi Sudirman, telah menyiapkan lahan untuk pembangunan Sekolah Rakyat baru. Sekolah tersebut ditargetkan mampu menampung sekitar 3.000 siswa.

Penambahan kapasitas itu diharapkan membuka akses pendidikan bagi lebih banyak anak dari keluarga kurang mampu di Sulawesi Selatan. Bagi Karmila, kesempatan mendapatkan pendidikan itu kini telah mengubah rasa takutnya menjadi keberanian untuk mengejar cita-cita.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya