Jejak Panjang Masinis Indonesia

Sudah lebih dari satu setengah abad, masinis menjadi bagian dalam perjalanan sejarah perkeretaapian Indonesia.

oleh SupriatinDiterbitkan 06 Agustus 2026, 17:28 WIB
Masinis kereta api (foto: instagram @keretaapikita)

Liputan6.com, Jakarta - Setiap hari, ribuan kereta api melintasi rel yang membentang dari ujung barat hingga timur Pulau Jawa sampai Sumatra. Kereta itu tak melaju sendiri. Ada sosok yang memegang kendali penuh di ruang kemudi lokomotif. Dialah masinis.

Sudah lebih dari satu setengah abad, masinis menjadi bagian dalam perjalanan sejarah perkeretaapian Indonesia. Mereka ada sejak lokomotif uap pertama kali mengaspal di Hindia Belanda.

Melewati masa penjajahan, pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, hingga era modern ketika kereta api sudah dilengkapi teknologi digital dan sistem keselamatan canggih.

Pada 17 Juni 1864, Gubernur Jenderal Hindia Belanda L.A.J. Baron Sloet van de Beele melakukan pencangkulan pertama pembangunan jalur kereta api Semarang–Vorstenlanden. Jalur tersebut dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).

Tiga tahun kemudian, pada 1867, jalur itu mulai beroperasi. Peristiwa tersebut menjadi tonggak awal perjalanan kereta api di Indonesia.

Masinis Profesi Bergengsi

Jalur Kereta Api di Stasiun Tanggung pada Lintas Semarang-Tanggung pada 1867 (Akun Media Sosial PT KAI)

Saat lokomotif uap mulai beroperasi, kebutuhan tenaga pengendali kereta pun muncul. Saat itu, profesi masinis merupakan pekerjaan yang sangat bergengsi.

Namun tugasnya tidak mudah. Seorang masinis harus memahami cara kerja mesin uap, mengatur tekanan boiler, membaca sinyal, menguasai karakter lintasan, hingga memastikan kereta tiba di tujuan dengan selamat.

Pada masa awal perkeretaapian, hampir seluruh jabatan teknis penting di perkeretaapian, termasuk masinis, masih dikuasai orang-orang Eropa.

Buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia: Dulu, Kini, dan Mendatang karya Hadi M. Djuraid dan tim menjelaskan bahwa tenaga ahli perkeretaapian pada masa kolonial, termasuk masinis dan teknisi, didominasi oleh orang Eropa. Sementara itu, pekerja Indonesia umumnya ditempatkan pada posisi yang dianggap lebih rendah.

Banyak pekerja pribumi memulai karier sebagai stoker atau juru api. Pekerjaan ini tidak kalah berat. Mereka harus memasukkan batu bara ke tungku pembakaran, menjaga tekanan uap tetap stabil, mengawasi persediaan air ketel, serta membantu masinis mengoperasikan lokomotif.

Selain juru api, posisi yang paling banyak diisi pekerja Indonesia adalah remmers atau tukang rem. Pada masa itu, setiap rangkaian kereta dan gerbong membutuhkan petugas rem tersendiri.

Juru Api Menjadi Masinis

Pada era lokomotif uap, masinis tidak bekerja sendirian. Di dalam kabin lokomotif terdapat dua awak utama, masinis dan juru api.

Masinis bertugas mengendalikan perjalanan kereta. Sementara juru api memastikan mesin tetap menghasilkan tenaga yang cukup.

Keduanya harus bekerja sama. Kesalahan kecil saja bisa berpengaruh terhadap keselamatan perjalanan. Karena itu, banyak calon masinis memulai karier dari posisi juru api.

Setelah bertahun-tahun memahami cara kerja lokomotif, mengenal jalur perjalanan, dan memperoleh pengalaman, mereka dapat dipercaya menjadi masinis.

Sistem kaderisasi seperti ini diterapkan oleh perusahaan kereta api kolonial, seperti Staatsspoorwegen (SS) dan NISM.

VSTP dan Perjuangan Pegawai Kereta Api

Jalur Trem di Jakarta yang ditutup pada 1960-1963 karena dinggap ketinggalan zaman dan sering menjadi penyebab kecelakaan (Akun Media Sosial PT KAI)

Memasuki abad ke-20, pekerja kereta api mulai memiliki organisasi. Pada 1908 berdiri Vereniging Spoor- en Tram Personeel (VSTP) atau Perhimpunan Pegawai Kereta Api dan Trem.

Awalnya, organisasi ini didominasi oleh pegawai Eropa. Namun, jumlah anggota pribumi terus bertambah.

"Pada 1920, orang Indonesia yang menjadi anggota VSTP malah lebih banyak daripada orang Eropa," tulis Hadi M. Djuraid dkk dalam bukunya yang dikutip Liputan6.com, Kamis (6/8/2026).

Perubahan besar terjadi ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Setelah Belanda menyerah, banyak masinis dan tenaga ahli perkeretaapian berkebangsaan Belanda ditahan di kamp interniran.

Kondisi tersebut menyebabkan kekurangan tenaga ahli. Untuk menjaga kereta api tetap berjalan, pemerintah militer Jepang kemudian melatih tenaga Indonesia menjadi masinis dan pekerja teknik perkeretaapian.

Pelatihan tersebut menjadi bekal penting bagi bangsa Indonesia. Para tenaga teknik yang telah memiliki kemampuan mengoperasikan kereta api kemudian berperan besar setelah Indonesia merdeka.

Mereka menjadi kelompok yang mampu menjaga agar sistem perkeretaapian tetap berjalan ketika situasi politik berubah.

Masinis di Garis Depan Perjuangan Kemerdekaan

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, pegawai kereta api Indonesia mengambil alih pengelolaan perkeretaapian dari Jepang. Tonggak penting terjadi pada 28 September 1945.

Saat itu, para pekerja kereta api berhasil mengambil alih kantor pusat perkeretaapian dan membentuk Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI). Tanggal tersebut kini diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia.

Pada masa revolusi, masinis bukan hanya menjalankan kereta untuk perjalanan biasa. Mereka membawa pejuang, logistik, bahan makanan, hingga kebutuhan perjuangan Republik Indonesia.

Kemampuan para tenaga teknik kereta api menjadi salah satu modal penting dalam mempertahankan operasional transportasi nasional.

Setelah Indonesia merdeka, teknologi kereta api terus berkembang. Mulai dekade 1950-an hingga 1980-an, lokomotif uap digantikan oleh lokomotif diesel.

Perubahan ini ikut mengubah pekerjaan masinis. Sebelumnya masinis harus memahami tekanan uap dan bekerja bersama juru api. Kini mereka dituntut menguasai mesin diesel, sistem pneumatik, kelistrikan, serta prosedur keselamatan modern.

Seiring hilangnya lokomotif uap, profesi juru api pun perlahan berakhir. Sementara profesi masinis terus berkembang.

Perubahan organisasi dari DKA, PNKA, PJKA, Perumka hingga menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero) juga membawa perubahan dalam sistem pendidikan dan pembinaan masinis.

Saat ini, menjadi masinis membutuhkan proses panjang. Seorang calon masinis harus mengikuti pendidikan khusus, praktik lapangan, penguasaan lintasan, simulasi, hingga memperoleh sertifikasi sesuai aturan Kementerian Perhubungan.

Tanggung jawab mereka semakin besar. Masinis harus memastikan perjalanan berjalan aman, mematuhi sinyal, berkomunikasi dengan Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA), memeriksa kesiapan lokomotif, hingga mengambil keputusan ketika menghadapi kondisi darurat.

Teknologi seperti event recorder, simulator, sistem komunikasi digital, dan perangkat keselamatan modern kini menjadi bagian dari pekerjaan mereka.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya