Jakarta Bakal Diguyur Hujan Buatan Tiap Pekan

Hujan buatan itu merupakan strategi Pemprov DKI Jakarta menghadapi dampak dari fenomena el nino.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 06 Agustus 2026, 06:13 WIB
Gelombang panas el nino membuat Pemprov DKI Jakarta memutuskan melakukan modifikasi cuaca.

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan melakukan modifikasi cuaca satu atau dua kali dalam sepekan untuk menghadapi dampak dari fenomena el nino.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menjelaskan telah berkoodinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait modifikasi cuaca menghadapi puncak musim kemarau diprediksi berlangsung lebih lama dibandingkan tahun 2023.

"Dari data yang ada, puncak El Nino itu akan panjang, mungkin salah satu yang terpanjang dibandingkan dengan tahun 2023 pada waktu itu. Puncaknya kurang lebih nanti akhir September atau pertengahan Oktober minggu pertama, kedua Oktober baru akan ada hujan," kata Pramono kepada wartawan, Rabu (5/8/2026).

Pramono mengatakan peluang terbentuknya awan untuk pelaksanaan modifikasi cuaca saat ini relatif kecil. Meski begitu, Pramono telah memerintahkan jajaran terkait untuk tetap melakukan berbagai persiapan.

"Tetapi saya sudah memerintahkan dan kita sudah mempersiapkan. Kalau tadi malam itu termasuk rezeki anak sholeh itu, enggak ada awan tapi bisa dimodifikasi lah," ujar Pramono.

Pramono mengaku sudah memberikan persetujuan untuk melakukan modifikasi cuaca di wilayah Jakarta. Bahkan, dalam satu minggu dapat dilakukan hingga dua kali pelaksanaan.

"Jadi intinya tadi saya sudah memberikan persetujuan untuk kalau bisa setiap minggu itu satu-dua kali dibuat hujan buatan atau modifikasi cuaca," kata dia.

Pemprov DKI Jakarta Antisipasi Kemarau Panjang

Pramono mengatakan pemerintah memprediksi kondisi kemarau tersebut akan berlangsung cukup lama. Karena itu, Pemprov DKI Jakarta menetapkan dua fokus utama penanganan, yakni mengantisipasi kebakaran dan menjaga ketersediaan air bersih.

"Yang pertama adalah antisipasi terhadap kebakaran. Maka Pemerintah DKI Jakarta, Wali Kota akan campaign tentang Jaga Jakarta dalam dua hal; satu kebakaran, yang satu adalah penyediaan air bersih pasti mengalami hambatan," ujar Pramono.

Selain itu, Pramono meminta setiap RW menyiapkan alat pemadam api ringan (APAR) sebagai langkah antisipasi kebakaran. Menurutnya, cuaca kering meningkatkan risiko kebakaran serta berpotensi memicu meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Pramono menegaskan, hal tersebut menjadi salah satu keputusan yang diambil dalam rapat bersama jajaran Pemprov DKI Jakarta.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya