Liputan6.com, Jakarta - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) dan PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) konsisten melakukan pemeriksaan kesehatan burung maleo, satwa endemik Sulawesi, secara berkala di kawasan konservasi milik perusahaan tersebut di Kabupaten Banggai.
"Konservasi maleo eks situ merupakan upaya kami dalam meningkatkan populasi maleo yang terancam punah di alam liar. Sebagai perusahaan LNG yang beroperasi di Sulawesi Tengah, upaya ini merupakan salah satu komitmen kami terhadap pelestarian lingkungan hidup," kata Corporate Communication Manager DSLNG Adhika Paramanandana, seperti dilansir Antara Senin (3/8).
Advertisement
Ia mengemukakan, sejak diresmikan pada 5 Juni 2013, fasilitas konservasi eks situ tersebut telah berhasil melepasliarkan 127 anak burung maleo ke habitatnya di Suaka Margasatwa Bakiriang, Kabupaten Banggai.
Fasilitas yang berada di area kilang DSLNG itu juga tercatat sebagai fasilitas konservasi maleo pertama di luar habitat alaminya. Selain itu, fasilitas tersebut menjadi yang pertama berhasil menetaskan generasi filial pertama (F1) di inkubator dari indukan maleo di kandang penangkaran.
"Kami bukan hanya sekadar menangkar, tetapi juga memperhatikan kesehatan satwa endemik itu berkolaborasi dengan instansi teknis terkait dalam penanganannya," ujar Adhika.
Sementara itu, Dokter Hewan tim BKSDA Sulteng, Anang, mengatakan pemeriksaan rutin dilakukan untuk memastikan burung maleo di kandang penangkaran berada dalam kondisi sehat.
Hasil pemeriksaan yang dilakukan pada Selasa (28/7) menunjukkan secara umum kondisi 21 ekor burung maleo di kandang penangkaran dalam keadaan sehat.
"Dua ekor di antaranya sedang mengalami diare dan telah diberikan langkah penanganan yang diperlukan," ucapnya.
Ia menambahkan, pemeriksaan kesehatan satwa endemik tersebut meliputi pemeriksaan fisik, seperti kondisi mulut dan paruh, berat badan, suhu tubuh, serta beberapa aspek lainnya untuk memastikan tidak ada penyakit yang dialami burung maleo.