Laba Bersih Mitratel Tembus Rp 1,11 Triliun di Semester I-2026

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) mengantongi laba bersih Rp 1,11 triliun pada semester I-2026 didorong bisnis penyewaan menara dan ekspansi fiber.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 03 Agustus 2026, 20:25 WIB
Telkom lewat Mitratel yang menargetkan pembangunan 6.000 menara operator jaringan komunikasi dalam tiga tahun kedepan.

Liputan6.com, Jakarta - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) membukukan laba bersih sebesar Rp 1,11 triliun pada semester I-2026, naik 1,5% secara tahunan (year-on-year/YoY). Kinerja positif tersebut ditopang oleh pertumbuhan bisnis penyewaan menara serta ekspansi jaringan fiber yang semakin berkontribusi terhadap total pendapatan perusahaan.

Pendapatan Mitratel hingga Juni 2026 mencapai Rp 4,69 triliun atau tumbuh 2,1% YoY. Sebanyak 81,7% pendapatan masih disumbangkan oleh bisnis penyewaan menara sebagai lini bisnis inti, sementara bisnis jaringan fiber terus mencatatkan pertumbuhan signifikan sebagai pilar pertumbuhan baru.

Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko, menyatakan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari transformasi bisnis yang dijalankan secara konsisten, sejalan dengan arah strategis Danantara Indonesia dan Telkom Group.

“Transformasi yang kami jalankan bukan sekadar memperluas portofolio bisnis, melainkan membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang melalui penguatan daya saing, penciptaan nilai tambah, dan peningkatan efisiensi yang sejalan dengan langkah transformatif Danantara Indonesia dan Telkom Group,” ujar Theodorus di Jakarta, Senin (3/8/2026).

Mitratel juga membukukan EBITDA sebesar Rp 3,89 triliun atau naik 0,8% YoY dengan marjin EBITDA yang terjaga tinggi di level 82,9%. Sementara itu, Net Profit Margin tercatat sebesar 23,7%, mencerminkan kemampuan perseroan dalam menjaga efisiensi operasional dan disiplin pengelolaan biaya.

 

Kinerja Operasional dan Transformasi Digital

Menara telekomunikasi Mitratel (Foto: Mitratel).

Dari sisi operasional, Mitratel tercatat mengelola 40.563 menara hingga semester I-2026, dengan 59% di antaranya berlokasi di luar Pulau Jawa. Jumlah tenant meningkat 10,3% YoY menjadi 23.303 sehingga tenancy ratio naik menjadi 1,57 kali. Di sisi lain, jaringan fiber tumbuh 13,9% YoY menjadi 74.779 kilometer billable length, yang memperkuat posisi bisnis fiber sebagai mesin pertumbuhan baru perusahaan.

Perseroan terus mengembangkan berbagai solusi layanan, seperti Fiber-to-the-Tower (FTTT), Fixed Wireless Access (FWA), Power-as-a-Service (PaaS), hingga Green Tower as a Service (GTaaS). Selain itu, Mitratel mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) melalui platform AIONIC One untuk meningkatkan efektivitas operasional serta produktivitas aset.

Theodorus menegaskan bahwa langkah transformasi ini menjadi strategi jangka panjang untuk memantapkan posisi Mitratel sebagai penyedia infrastruktur digital terintegrasi.

“Mitratel terus berevolusi dari sekadar perusahaan menara menjadi penyedia infrastruktur digital terintegrasi melalui pengembangan solusi fiber, FWA, hingga PaaS. Strategi ini memperkuat posisi kami dalam mendukung percepatan digitalisasi Indonesia sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan bagi perseroan,” paparnya.

Ke depan, Mitratel menilai rencana pemerintah melakukan lelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz akan menjadi katalis pertumbuhan positif. Kebijakan ini diperkirakan mendorong ekspansi jaringan operator seluler secara masif, terutama di luar Pulau Jawa. Berbekal portofolio aset terbesar di Asia Tenggara dan fundamental keuangan yang kuat, perseroan optimistis mampu memperkokoh posisinya sebagai penyedia infrastruktur digital end-to-end.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya