Liputan6.com, Jakarta - PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mencatat penurunan pendapatan dan laba hingga semester pertama 2026.
Mengutip laporan keuangan yang disampaikan dalam keterbukaan infomrasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Senin, (3/8/2026), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) meraup pendapatan Rp 4,75 triliun hingga Juni 2026. Pendapatan itu turun 25,64% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 6,39 triliun.
Advertisement
Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 603,89 miliar hingga semester I 2026. Laba tersebut merosot 53,1% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,31 triliun.
Dalam keterangan tertulis perseroan di keterbukaan informasi BEI, Kontribusi pendapatan terbesar masih berasal dari pendapatan penjualan atau development revenue yang mencapai sekitar 79% dari total pendapatan usaha. Sementara itu, 21% berasal dari pendapatan berulang yang terus menunjukkan pertumbuhan positif.
Hingga semester pertama 2026, beban pokok penjualan turun 31,78% menjadi Rp 1,59 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2,33 triliun.
Laba kotor perseroan turun 22,12% menjadi Rp 3,16 triliun hingga semester I 2026 dari periode semester I 2025 sebesar Rp 4,05 triliun. Marjin laba kotor naik menjadi 67%, dibandingkan 64% pada periode sama tahun sebelumnya.
Beban usaha susut 6,12% menjadi Rp 2,11 triliun hingga semester I 2026 dari semester II 2026 sebesar Rp 2,24 triliun. Laba usaha melemah 41,98% menjadi Rp 1,05 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,81 triliun.
Laba per saham turun menjadi Rp 28,88 hingga Juni 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 61,59.
"Semester I 2026 menunjukkan semakin kuatnya kualitas Pendapatan Usaha BSDE melalui diversifikasi sumber pendapatan. Pertumbuhan pendapatan berulang yang konsisten, disertai peningkatan profitabilitas, mencerminkan fundamental operasional BSDE tetap solid meskipun pengakuan pendapatan penjualan mengalami normalisasi dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Direktur BSDE, Hermawan Wijaya dalam keterangan resmi perseroan.
Kontributor Utama Pendapatan
Kontributor utama pendapatan usaha masih berasal dari pendapatan penjualan (development revenue) sebesar Rp 3,75 triliun, yang didukung oleh penjualan produk residensial, lahan dan komersial.
Segmen komersial mencatatkan pendapatan sebesar Rp 1,59 triliun, relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama berasal dari pengakuan penjualan ruko West Village, Northridge Ultimate dan Delrey Business Townhouse di BSD City. Stabilnya kontribusi segmen komersial menunjukkan permintaan terhadap produk komersial di kawasan township BSDE yang tetap terjaga.
Sementara itu, pendapatan berulang (recurring revenue) tumbuh 19% secara tahunan menjadi Rp 1 triliun, didukung oleh peningkatan pendapatan sewa, pengelolaan gedung, telekomunikasi, hotel, arena rekreasi serta jalan tol. Pertumbuhan ini semakin memperkuat kualitas Pendapatan Usaha BSDE yang berasal dari properti investasi dan kawasan terpadu yang telah berkembang, sekaligus memberikan stabilitas terhadap kinerja BSDE di tengah dinamika siklus industri properti. Pendapatan sewa sendiri meningkat 19% menjadi Rp 592 miliar, didukung oleh pertumbuhan penyewaan ruang kantor maupun pusat perbelanjaan.
Portofolio properti investasi BSDE yang terus berkembang dan dikelola dengan baik menjadi fondasi pertumbuhan recurring revenue secara berkelanjutan.
Aset Perseroan
Sepanjang kuartal II 2026, jumlah aset meningkat menjadi Rp 81,94 triliun, naik sekitar 3% dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang sebesar Rp 79,27 triliun.
Posisi kas dan setara kas mencapai Rp 8,46 triliun. BSDE juga mencatat persediaan sebesar Rp 19,56 triliun, serta didukung oleh Tanah yang belum dikembangkan sebesar Rp 18,64 triliun. BSDE terus memperkuat land bank sebagai strategi menjaga keberlanjutan pipeline proyek dalam jangka panjang. Struktur permodalan juga tetap berada pada level yang sehat dengan Gross Debt-to-Equity sebesar 35% dan Net Debt-to-Equity Ratio (DER) sebesar 16,4%.
Struktur permodalan yang sehat memberikan fleksibilitas bagi BSDE untuk mendukung ekspansi, pengembangan kawasan terpadu, serta menangkap peluang investasi di masa mendatang. Selain itu, BSDE mengalokasikan belanja modal (capital expenditure) sebesar Rp 3,25 triliun, yang sebagian besar digunakan untuk akuisisi lahan senilai Rp 2,51 triliun sebagai bagian dari strategi memperkuat pipeline pengembangan proyek-proyek masa depan.
Memasuki semester II 2026, BSDE tetap optimistis terhadap prospek industri properti nasional yang didukung oleh kebutuhan hunian yang masih tinggi, pengembangan kawasan terpadu, serta semakin bertumbuhnya kontribusi pendapatan berulang. Hermawan menuturkan, BSDE akan terus berfokus pada pengembangan proyek-proyek unggulan, memperkuat monetisasi properti investasi, menjaga disiplin pengelolaan biaya, serta meningkatkan nilai tambah ekosistem township yang telah menjadi keunggulan kompetitif BSDE.
“Kami meyakini bahwa fundamental BSDE yang kuat, didukung oleh cadangan lahan strategis, portofolio proyek yang berkualitas, serta kontribusi pendapatan berulang yang terus bertumbuh, akan menjadi fondasi penting dalam menjaga pertumbuhan usaha secara berkelanjutan. Ke depan, BSDE akan terus mengedepankan inovasi, efisiensi operasional, serta pengembangan kawasan terpadu yang memberikan nilai tambah bagi pelanggan dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Hermawan.