Liputan6.com, Jakarta - Di awal kemunculannya, kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) sempat disambut hangat oleh publik Amerika Serikat (AS).
Berbagai unggahan generatif memenuhi media sosial, sementara para peneliti sibuk merayakan terobosan teknologi tersebut. Berbagai survei hingga awal 2025 pun merekam optimisme masyarakat yang terus melesat.
Advertisement
Namun memasuki tahun 2026, masa "bulan madu" antara warga AS dan AI tampaknya resmi berakhir. Sentimen masyarakat kini justru berbalik tajam.
Berdasarkan jajak pendapat terbaru yang digelar Bentley University dan Gallup, proporsi warga dewasa AS yang menilai AI membawa "lebih banyak dampak buruk daripada manfaat" meningkat signifikan, dari 31 persen pada 2025 menjadi 39 persen tahun ini.
Sebaliknya, hanya 9 persen responden yang masih percaya bahwa AI memberikan "lebih banyak manfaat daripada dampak buruk."
Menariknya, sebagaimana dikutip dari Futurism, Senin (3/8/2026), penolakan ini terjadi di tengah meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap AI. Sebanyak 70 persen responden mengaku "cukup atau sangat paham" mengenai AI, naik 6 persen dibanding 2024.
Kondisi ini menyiratkan paradoks yang bisa membuat para petinggi industri AI mengelus dada. Semakin tinggi tingkat literasi masyarakat terhadap AI, mereka kian enggan menerimanya dalam kehidupan sehari-hari.
Penolakan Pusat Data dan Stigma Sosial
Penolakan publik tidak hanya menyasar aplikasi AI di ranah digital, tetapi juga infrastruktur fisiknya. Hasil survei Politico menunjukkan 41 persen warga AS menentang pembangunan pusat data (data center) dalam radius lima kilometer dari pemukiman mereka.
Angka ini melonjak pesat dibandingkan 28 persen pada Januari 2026. Pada periode yang sama, dukungan terhadap pembangunan pusat data merosot hingga 13 persen hanya dalam waktu enam bulan.
Guru Besar Etika di Tepper School of Business Carnegie Mellon University, Derek Leben, menilai keraguan terhadap AI kini telah merembet ke ranah sosial. Penolakan bukan lagi sekadar pilihan pribadi, melainkan mulai memengaruhi relasi antarindividu.
"Dampak sosial yang paling nyata adalah timbulnya rasa curiga. Penggunaan AI kini diiringi penghakiman moral dan politik, terutama di industri kreatif yang memiliki stigma paling kuat terhadap teknologi ini," ujar Leben kepada Bloomberg.
Pengakuan Warga AS
Fenomena tersebut dirasakan langsung oleh Carla Milan (37), seorang profesional kesehatan masyarakat di New York City. Ia mengaku geram ketika melihat kerabat dan temannya menggunakan AI secara refleks tanpa memikirkan dampak sosial maupun lingkungannya.
"Saya heran melihat orang-orang terus mengagung-agungkan AI," ungkap Milan.
"Rasanya seperti, 'Ayo, kenapa kita tidak sekalian berpartisipasi dalam kehancuran bersama? Mengapa kita tidak mengambil peran dalam merusak kemanusiaan dan merusak lingkungan?'," sambungnya.
Tampaknya, tantangan terbesar industri AI saat ini bukan lagi sekadar mengembangkan algoritma yang lebih pintar, melainkan meyakinkan publik yang kini semakin kritis dan enggan bersentuhan dengan teknologi tersebut.