Liputan6.com, Jakarta - Kehidupan rumah tangga Sunardi bukan lagi kisah tentang kehangatan sebuah keluarga. Sejak 2024, bahtera yang ia bangun bersama istrinya kandas di tengah jalan. Perceraian memisahkan keduanya, sementara hak asuh atas dua anak mereka jatuh ke tangan sang mantan istri.
Di tengah keretakan itu, satu hal yang tak pernah benar-benar hilang adalah kerinduan seorang ayah kepada buah hatinya. Rasa rindu yang terus mengendap membuat Sunardi memilih membawa putri bungsunya untuk menemaninya dalam beberapa kesempatan. Baginya, kebersamaan singkat itu menjadi penawar atas jarak yang selama ini memisahkan.
Advertisement
Namun, keputusan tersebut justru berujung badai. Sebuah video yang beredar di media sosial memunculkan tudingan bahwa Sunardi menelantarkan sekaligus mengeksploitasi putrinya dengan mengajak mengemis dan mengamen. Narasi itu dengan cepat menyebar dan memantik hujatan dari warganet.
Di tengah sorotan tersebut, Sunardi akhirnya angkat bicara. Ia menegaskan bahwa seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya tidak sesuai dengan kenyataan.
Menurutnya, selama putrinya berada bersamanya, ia tetap memberikan perhatian, makanan, dan kebutuhan sebagaimana layaknya seorang ayah terhadap anaknya.
"Saya memberikan A pendidikan yang baik, memberi nafkah yang baik, memberi makan selayaknya seorang ayah kepada anak. Apa yang diceritakan di luar itu semua tidak benar. Itu semua fitnah," ujar Sunardi.
Ia juga membantah keras kabar yang menyebut dirinya pernah memaksa sang putri mengamen ataupun mengemis demi mendapatkan uang.
"Saya enggak pernah menyuruh anak saya ngamen ataupun mengemis," tegasnya.
Pembelaan Keluarga
Pembelaan terhadap Sunardi juga datang dari keluarga besarnya. Kakak kandungnya, Hariyanto, memastikan keponakannya selama ini dirawat dengan baik ketika berada bersama ayahnya.
Menurut Hariyanto, kebutuhan makan maupun perhatian terhadap anak tersebut selalu terpenuhi. Ia juga menepis anggapan bahwa sang keponakan sengaja dibawa ke jalan untuk meminta-minta.
"Kalau A sama ayahnya ya baik-baik saja. Makan juga dicukupi. Tidak pernah diajak mengemis, apalagi ditelantarkan," katanya.
Ia menjelaskan, ketika berada di kawasan Pasar Keputran, A lebih banyak menghabiskan waktu bermain bersama saudara maupun anak-anak lain di sekitar lokasi. Bahkan, keluarga besar turut bergantian memperhatikan dan membantu memenuhi kebutuhan sang anak.
"Semua saudara ikut membantu. Kasih makan, kasih jajan. Tidak pernah ada yang menelantarkan," imbuhnya.
Kisruh Pascaperceraian
Keterangan serupa disampaikan kakak Sunardi lainnya, Iramawati. Menurutnya, video yang memperlihatkan A berada di Pasar Keputran telah memunculkan kesimpulan yang keliru di ruang publik.
Ia mengatakan, keponakannya hanya menemani sang tante yang berjualan cabai di pasar sembari bermain seperti anak-anak pada umumnya.
"Semua tuduhan itu tidak benar. Tidak pernah ditelantarkan, apalagi dipakai untuk meminta-minta. Di pasar itu dia hanya ikut tantenya jualan sambil bermain," ujarnya.
Bagi keluarga Sunardi, persoalan yang semula merupakan konflik rumah tangga kini berubah menjadi konsumsi publik. Di tengah kisruh pascaperceraian, mereka berharap penilaian masyarakat tidak dibangun semata dari potongan video yang beredar, melainkan berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.