Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street anjlok pada perdagangan Rabu. Tekanan datang dari berbagai faktor, terutama kekhawatiran pasar obligasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) mulai tertinggal dalam upaya mengendalikan inflasi setelah kembali mempertahankan suku bunga.
Mengutip CNBC, Kamis (30/7/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup merosot 1.153,18 poin atau 2,19% ke posisi 51.594,14. Penurunan tersebut menjadi yang terburuk bagi Dow Jones sejak April 2025.
Advertisement
Indeks S&P 500 juga tertekan 1,52% dan mengakhiri perdagangan di level 7.316,15. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite turun 1,74% menjadi 24.442,94.
Penurunan tersebut membuat Nasdaq mengakhiri sesi perdagangan lebih dari 10% di bawah rekor tertingginya.
Tekanan terhadap Wall Street meningkat setelah The Fed memilih tidak mengubah suku bunga dalam pertemuan kebijakan terbarunya.
Pasar obligasi kemudian merespons keputusan tersebut dengan kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury.
Yield US Treasury tenor 10 tahun melonjak 7 basis poin hingga menembus 4,67%. Sementara itu, yield US Treasury tenor 30 tahun melesat 10 basis poin menjadi lebih dari 5,2%, sekaligus menyentuh level tertinggi sejak 2007.
Pergerakan pasar obligasi tersebut menunjukkan investor masih khawatir terhadap prospek inflasi AS dan mempertanyakan apakah kebijakan The Fed sudah cukup ketat untuk membawa inflasi kembali ke target.
Pasar Ragukan Sikap The Fed terhadap Inflasi
Keputusan mempertahankan suku bunga tidak diambil secara bulat. Tiga pejabat The Fed menginginkan kenaikan suku bunga, tetapi mayoritas anggota tetap memilih mempertahankan tingkat suku bunga saat ini.
Pernyataan tegas Ketua The Fed Kevin Warsh seusai pertemuan juga belum berhasil meyakinkan pasar obligasi.
"Saya ingin menegaskan bahwa keputusan yang diambil komite ini tentu memiliki dampak yang sangat besar, dan jika diperlukan serta dianggap tepat, kami tidak akan ragu untuk bertindak," ujar Warsh dalam konferensi pers.
CEO DoubleLine Capital Jeffrey Gundlach menilai The Fed perlu menaikkan suku bunga apabila benar-benar ingin membawa inflasi kembali ke target 2%.
"Jika Anda benar-benar ingin mencapai 2%, saya pikir Anda harus menaikkan suku bunga," kata Gundlach dalam program CNBC Closing Bell.
Menurut dia, lonjakan yield obligasi setelah keputusan The Fed memberikan pesan tersendiri kepada Warsh.
"Yield obligasi jangka panjang naik signifikan setelah konferensi pers karena para pelaku pasar obligasi mengatakan, 'Jika Anda benar-benar ingin kami percaya pada retorika Anda, Anda harus mulai bertindak'," ujar Gundlach.
Pernyataan Trump
Kekhawatiran inflasi semakin meningkat setelah harga minyak melonjak menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai Iran.
Trump mengatakan kepada reporter Fox News bahwa AS akan menyerang Iran "dengan keras" sebagai respons terhadap serangan mendadak terhadap pasukan AS di Timur Tengah.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 6% dan ditutup pada US$ 84,46 per barel.
Kenaikan harga energi menjadi perhatian pasar karena berpotensi menambah tekanan inflasi, sekaligus membuat tugas The Fed dalam mengendalikan kenaikan harga semakin kompleks.
Saham Chip Ikut Berguguran
Tekanan di Wall Street juga datang dari sektor semikonduktor yang melanjutkan tren pelemahannya.
iShares Semiconductor ETF (SOXX) anjlok 5,5% dan mencatat penurunan untuk sesi kelima berturut-turut.
Saham perusahaan chip berada di bawah tekanan sepanjang bulan ini di tengah meningkatnya kekhawatiran investor mengenai imbal hasil dari belanja besar-besaran untuk pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Selain itu, pasar mulai mengkhawatirkan meningkatnya persaingan industri semikonduktor dari China.
Saham Micron Technology dan KLA masing-masing anjlok sekitar 10%. Sementara itu, saham Advanced Micro Devices (AMD) merosot 5,5%.