Liputan6.com, Jakarta - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat produksi nikel dalam matte melonjak hingga semester I 2026. Perseroan menilai didukung disiplin dalam pelaksanaan operasional serta keberlanjutan peningkatan kapasitas operasi penambangan, perseroan tetap berada pada posisi yang baik untuk menciptakan nilai berkelanjutan di tengah dinamika pasar yang terus berlangsung.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Kamis, (30/7/2026), PT Vale Indonesia Tbk memproduksi 16.153 metrik ton nikel dalam matte pada kuartal II 2026, naik 19% dibandingkan kuartal sebelumnya 13.260 ton.
Advertisement
Seiring hal itu, total produksi nikel matte pada semester pertama 2026 mencapai 29.773 ton. Pada periode sama tahun lalu, produksi nikel mencapai 35.584.
Perseroan mencatat kinerja operasional yang lebih kuat setelah selesainya proyek Pembangunan Kembali Tanur Listrik 3 pada Juni 2026, dengan tetap mempertahankan fokus yang tinggi pada keselamatan kerja dan keandalan operasional.
Perseroan tetap berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target produksi tahunan, serta berada dalam posisi yang baik untuk memanfaatkan fundamental pasar nikel yang kondusif. Selain produksi nikel dalam matte, PT Vale terus memperkuat platform pertumbuhannya melalui pengoperasian tiga hub pertambangan di Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa, yang menandai tonggak penting dalam transformasi Perseroan. Ekspansi strategis ini menghasilkan pertumbuhan yang signifikan pada volume produksi dan penjualan bijih nikel.
Pada kuartal kedua 2026, Blok Bahodopi membukukan penjualan bijih nikel saprolit sebesar 1,07 juta wet metric ton (wmt), meningkat dari 886 ribu wmt pada triwulan sebelumnya, sehingga total volume penjualan pada semester pertama mencapai 1,96 juta wmt.
Sementara itu, Blok Pomalaa mencatat peningkatan signifikan dalam penjualan bijih nikel menjadi 1,26 juta wmt pada kuartal kedua 2026, dibandingkan 89 ribu wmt pada kuartal pertama 2026, sehingga volume penjualan kumulatif pada semester pertama mencapai 1,35 juta wmt. Kinerja kuat dari kedua proyek pertumbuhan tersebut menunjukkan keberhasilan peningkatan kapasitas operasi serta memperkuat strategi PT Vale untuk mendiversifikasi sumber pendapatannya dan membangun fondasi operasional yang lebih kokoh guna mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Volume Penjualan
Sementara itu, volume penjualan tetap stabil di 13.932 ton. Perseroan memperoleh manfaat dari kenaikan harga realisasi rata-rata nikel matte menjadi US$ 14.765 per ton, meningkat 4% QoQ, yang turut mendorong pendapatan mencapai US$ 290 juta, atau naik 15% dibandingkan kuartal pertama 2026.
Dari sisi biaya, biaya tunai pokok penjualan nikel matte tetap kompetitif di level US$ 10.005 per ton pada kuartal kedua 2026, membaik dibandingkan US$ 10.382 per ton pada kuartal pertama 2026, mencerminkan disiplin dan ketangguhan Perseroan yang berkelanjutan dalam pengelolaan biaya.
Pada bisnis bijih nikel, biaya tunai per unit tetap stabil, yaitu US$ 21 per ton di Bahodopi dan AS$7 per ton di Pomalaa, termasuk biaya royalti dan logistik. Secara khusus, operasi Pomalaa memperoleh manfaat dari optimalisasi biaya tunai yang lebih lanjut, didorong oleh peningkatan volume penjualan seiring kapasitas operasi yang terus meningkat.