30 Juli 1869: The Charles, Awal Mula Distribusi Minyak Dunia Dimulai

Kapal minyak pertama di dunia berlabuh dari AS ke Eropa pada 30 Juli 1869.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 30 Juli 2026, 06:00 WIB
Ilustrasi Kapal Tanker Minyak yang Berlayar pada 30 Juli 1869. (Liputan6.com/JohanTallo)

Liputan6.com, Washington D.C - Kapal The Charles tercatat dalam sejarah sebagai kapal tanker minyak pertama di dunia setelah berlayar dari Amerika Serikat menuju Eropa pada 30 Juli 1869 dengan membawa muatan sekitar 7.000 barel minyak mentah.

Kapal yang kemudian berlabuh di Antwerp, Belgia, itu mengangkut minyak menggunakan tangki besi yang ditempatkan di bawah dek kapal. Inovasi tersebut menjadi terobosan dalam industri pelayaran karena sebelumnya minyak diangkut menggunakan tong kayu berkapasitas 42 galon per tong. Metode itu membatasi daya angkut kapal, namun sekaligus melahirkan istilah "barel" yang hingga kini masih digunakan sebagai satuan ukuran minyak.

Dikutip dari Wired, Kamis (30/7/2026), The Charles beroperasi pada periode 1869 hingga 1872. Tangki-tangki penyimpanan di dalam kapal disusun sejajar di ruang pemberat untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas selama pelayaran.

Meski dikenal sebagai kapal tanker minyak pertama, The Charles bukanlah kapal tanker pertama secara umum. Tiga pekan sebelumnya, kapal brig asal Inggris, Novelty, telah tiba di Boston dengan mengangkut sekitar 84.000 galon molase dalam tangki penyimpanan serupa.

Seiring meningkatnya kebutuhan dunia terhadap bahan bakar berbasis minyak, kapal tanker kemudian menjadi tulang punggung distribusi energi global. Perannya semakin penting pada masa Perang Dunia II ketika kapal-kapal tanker memasok minyak dari Amerika Serikat untuk mendukung operasi militer Sekutu di Eropa dan Pasifik.

Saat itu, kapal tanker tipe T2 menjadi andalan armada logistik Sekutu sekaligus target utama serangan kapal selam Jerman dan Jepang.

Hingga kini, kapal tanker masih menjadi moda utama pengangkutan minyak dalam jumlah besar. Pada 2005, kapal tanker menyumbang kurang dari 40 persen dari total armada kapal dagang dunia dan mengangkut sekitar 2,42 miliar metrik ton minyak mentah serta produk minyak olahan.

Perkembangan teknologi juga melahirkan kapal tanker super berukuran raksasa yang mampu mengangkut lebih dari 320.000 ton bobot mati atau setara sekitar dua juta barel minyak mentah, produk petrokimia, dan berbagai muatan cair lainnya.

Di balik perannya yang vital, pengangkutan minyak melalui laut juga memiliki risiko besar terhadap lingkungan. Sejumlah kecelakaan kapal tanker telah memicu tumpahan minyak berskala besar yang berdampak panjang terhadap ekosistem.

Salah satu insiden paling dikenal adalah kandasnya kapal Exxon Valdez di Teluk Prince William, Alaska, pada 1989. Kecelakaan itu menyebabkan sekitar 10,8 juta galon minyak mentah tumpah ke laut. Meski bukan tumpahan minyak terbesar dalam sejarah, insiden tersebut dianggap sebagai salah satu bencana lingkungan paling merusak karena terjadi di kawasan dengan ekosistem yang sangat rentan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya